Kisah Inspiratif Putra Batak Aktivis 98 Jonni Hermanto Mengantar Dua Putranya Menjadi Dokter

Tampak (dari kiri): Jonni Hermanto, dr Jonathan Petra (putra pertama), dr Jeremya Yogi Putra (putra kedua), sang istri bersama kedua orangtuanya. Foto: Dok Jonni Hermanto

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Gerakan mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat atas rezim Orde Baru yang berujung terjadinya perubahan pada lanskap politik nasional tahun 1998 tak abai dari sejumlah nama, tak terkecuali Jonni Hermanto.

Jonni Hermanto, salah seorang tokoh muda nasional sekaligus pejuang demokrasi dalam pergerakan mahasiswa hingga membuat kran demokrasi di Indonesia tahun 1998 terbuka lebar. Pendidikan, daya analisa, dan semangat petarung dalam gerakan kala itu menjadi modal utama bagi Jonni, aktivis 98 berdarah Batak, Sumatera Utara.

Pasca reformasi 98, Jonni kembali menjalani rutinitas sebagai aktivis dan profesional bermodal kualifikasi pendidikan yang dimiliki. Baginya, menata masa depan keluarga khususnya anak-anak merupakan kebutuhan. Ia mengaku, pendidikann adalah jalan suci bagi masa depan anak-anaknya.

“Seorang ayah bukan sekadar sosok pencari nafkah bagi keluarga. Saya selalu hadir di tengah keluarga khusus anak-anak sebagai mentor, pelindung, dan pendengar setia,” ujar Jonni Hermanto di kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur, Rabu (8/7).

Selain itu, Jonni mengakui, ia bersama istri terkasih selalu hadir untuk memberikan dorongan moral, menumbuhkan rasa percaya diri anak-anaknya dalam menggapai cita-cita, impian di bidang pendidikan.

Putra pertamanya, dr Jonathan Petra, kini tengah mengikuti inferensi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di wilayah Kota Bekasi. dr Jonathan Petra adalah sosok anak yang cerdas dan berbakat. Ia lulus Cumlaude (lulus dengan pujian) dari Fakultas Kedokteran UKI Jakarta dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,85.

“Dua putra saya berhasil menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran UKI Jakarta. Putra kedua saya, dr Jeremya Yogi Putra, baru saja dinyatakan lulus ujian kompetensi profesi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,” kata Jonni lebih lanjut.

Jonni menambahkan, sang putra, dr Yogi Putra, akan menjalani sumpah dokter Hippocratic Oath (Sumpah Hippokrates) pada Jumat, 10 Juli 2026 di aula Fakultas Kedokteran UKI Cawang, Jakarta Timur.

Jonni mengaku, pendidikan berkualiast adalah modal dasar bagi anak-anaknya. Karena itu, ia bersama sang istri tekun dalam doa dan usaha agar anak-anak mereka mendulang sukses meraih cita-citanya.

“Di tengah kesibukan saya dan istri selalu berusaha meluangkan waktu untuk anak-anak. Puji Tuhan, melalui doa dan kerja keras dua anak kami berhasil mewujudkan cita-cita mereka menjadi dokter,” kata Jonni, profesional muda dan sosok yang mudah bergaul.

Jonni mengaku, sebagai seorang ayah ia dan sang istri selalu bersyukur kepada Tuhan dan bangga karena diberi nikmat sehat dan kesempatan untuk mendampingi anak-anak, terutama dua putranya dalam menempuh pendidikan hingga berhasil meraih cita-cita, meskipun dengan perjalanan yang tak mudah.

“Apapun hasil yang kami raih khususnya dalam pendidikan anak-anak, itu semua terutama karena kasih Allah. Anak-anak juga sadar arti penting pendidikan, mudah bergaul bahkan selalu bertekun dalam doa. Anak-anak juga sadar melihat orangtuanya susah payah mencari nafkah untuk membiayai Pendidikan mereka. Mereka bisa mengerti dan nggak mau buat susah orangtuanya,” ujar Jonni.

Jonni juga menambahkan, terkait profesi dokter yang kini menjadi pilihan kedua putranya, ia menhaku hal itu merupakan pilihan anak-anaknya. Sebagai orangtuanya, ia mengaku bersama istrinya hanya berdoa dan memberi dukungan dan motivasi atas pilihan tersebut.

“Kita sebagai orangtua hanya mengarahkan. Kalau mereka mau ke fakultas kedokteran prosesnya panjang dan tidak boleh main-main. Kita hanya mau mengarahkan untuk masa depan mereka yang lebih baik, yang lain-lain nggak ada, namanya anak sudah dewasa biarlah mereka mencari jati dirinya sendiri,” kata Jonni.

Dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya, Jonni mengaku tidak pernah mengeluh dan akan selalu mendoakan dan mendukung. Sebagai orangtua dirinya tidak akan pernah coba-coba dengan masa depan anak-anaknya.

“Selama ini kita selalu dekat dengan mereka. Dulu mereka masih SMP atau SMA saya selalu antar mereka ke sekolah selama ada waktu. Prinsipnya, kami berusaha selalu ada waktu khusus buat mereka,” ujar Jonni.

Jonni juga berdoa dan berharap agar ke depan kedua anaknya mampu memberikan pelayanan terbaik dan tulus kepada sesama. Namun, di atas itu doa sangat penting. Rendah hati dan pantang menyerah dalam tugas juga tak kalah penting. Ibarat kata pepatah, berguru pada padi. Semakin berisi akan semakin merunduk.

“Dengan begitu, anak-anak sadar bahwa mereka itu melayani manusia. Mereka harus bersyukur bahwa mereka bisa karena kasih dan penyertaan Tuhan. Selain itu, mereka juga memotivasi diri sendiri ke depan agar selalu memberikan pelayanan terbaik bagi sesame sehingga nama Tuhan selalu dimuliakan,” kata Jonni. (*)