Puisi Syair untuk Seorang Petani Karya Taufiq Ismail

Sastrawan Taufiq Ismail. Sumber foto: kumparan.com, 30 Januari 2017

(1)

 

Dia mahasiswa tingkat terakhir

ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

untuk tugas membina masyarakat tani di sana.

Dia menghilang

15 tahun lamanya.

Orangtuanya di Langsa

memintanya pulang.

IPB memanggilnya

untuk merampungkan studinya,

tapi semua

sia-sia.

 

(2)

 

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk di bumi

Orang-orang membenamkan pupuk di bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia mengukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

 

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani.

 

(3)

 

Dia berkaus oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki

20 kilometer sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija

Sawah dan ladang

Orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohonan rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudhukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi gebyar-gebyur

Simak suara azan

Jamaah menggesek bumi

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu petromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Di pelupuh bambu

Tidur tidak berkasur.

 

(4)

 

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Di kakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Ada bukit-bukit yang kini basah

Dengan wana sapuan yang indah

Sepanjang mata memandang

Dan perladangan yang sangat panjang

Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dan air pun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ

Muhammad Kasim Arifin, di sana,

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor

Di padang rumput itu

Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur-sayuran yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulau itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

(Aku jadi ingat masa kita diplonco

Dua puluh dua tahun yang lalu)

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami …

Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah

Awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah pulang

Kami memelukmu.

1979

Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000)

Taufiq Ismail adalah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Ia lahir 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Terlahir dari pasangan suami-istri (pasutri) KH Abdul Gaffar Ismail-Tinur Muhammad Nur.

Taufiq menikah dengan Esiyati Yatim. Taufiq juga dikenal luas melalui aneka puisinya yang sarat kritik sosial dan politik seperti Tirani, Benteng, dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Ia masuk sekolah dasar di Solo, Semarang, dan Yogyakarta. Kemudian, masuk SMP di Bukittinggi kemudian lanjut SMA di Pekalongan. Taufiq lalu kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga lulus tahun 1963.

Karya Sastra

Tirani dan Benteng

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Sajak Ladang Jagung

Kenalkan, Saya Hewan

Puisi-Puisi Langit

 

Penghargaan

Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)

Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)

South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)

Apresiasi Sastrawan HB Jassin (2023)