Puisi: Masmur Pagi dan Kupanggil Namamu Karya WS Rendra

Menikmati pesona pagi membasuh jiwa. Sumber foto ilustrasi: kabarbaik.co, 3 Februari 2024

Masmur Pagi

 

Kata-kata masmur ini

timbul dari asap dapur

yang mengepul ke sorga

dan di atas tungku dapur itu

istriku merebus susu –

rahmat-Mu yang pertama

 

Kata-kata masmur ini

lari ke lembah-lembah

dan di tepi cakrawala

mereka kawini sepi

yang lama menantinya

 

Lembu-lembu masuk ke air

mengacau air yang jernih

menentang senja

dan hari kiamat

 

Maka

di udara yang segar

bersebaranlah bau minyak wangi

dari jubah malaekat

Tubuh-Mu yang indah

Kaubaringkan di gunung yang tinggi

 

dan nampaklah dari bawah

bagai awan mandi cahaya

Bebek-bebek pun bertelor

kerna Kaujamah dengan tangan-Mu

Ikan-ikan jumpalitan dalam air

dan padi melambai-lambai

menegur-Mu

 

Pohon-pohon cemara di gunung

menggelitiki tapak kaki-Mu

dengan cara yang jenaka

Kau pun lalu bangkit pindah

ke lain cakrawala

menggeliat dan bersenam indah

lalu melangkah menaiki matahari

mendaki, mendaki

mengeringkan celana dan bajuku

yang dicuci oleh istriku

 

Doa Malam

 

Allah di sorga

Dari rumah bambu sempitku

di malam yang dingin

tanganku yang rapuh

menggapai sorga-Mu

Aku akan tidur di mata-Mu

yang mengandung bianglala

dan lembah kasur beledu

Ketika angin menyapu rambut-Mu

yang ikal dan panjang

aku akan berlutut di pintu telinga-Mu

dan mengucapkan doaku

Doa adalah impian

dan segala harapan insan

Di dalam doa aku bisikkan impianku

Apakah Kau tertawa lucu?

Anakku yang kecil memanjat jubah-Mu

dan tidur di dalam saku-Mu

Sedang bulan di atas pundak-Mu

 

istriku masuk ke dalam darah-Mu

Ketika Engkau mengucapkan selamat malam

bunga-bunga kertas aneka warna

berhamburan dari mulut-Mu

Dan untuk anakku

Kausediakan balonan biru

Bintang-bintang bertepuk tangan

dan serangga malam riuh tertawa

semua mengagumi-Mu:

Tukang Sulapan Tak Bertara

Lalu Kau angkat tangan-Mu berpospor

gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan

Dan itu berarti: selamat tidur

sampai ketemu esok hari

dengan sulapan yang lain dan baru

 

Hongkong

 

Di Hongkong kita tersenyum, menegursapa

tapi mereka memandang kita dengan curiga

Bagai si pandir atau si gila dihina

 

Di kota ini setiap orang jadi serdadu

kerna setiap jengkal tanah adalah medan laga

Di jalan yang ramai dan di mana-mana tulisan

Tionghoa

 

para pelacur menggedel dan menawarkan bencana

Tuhan dan penghianatan mempunyai wajah yang

sama

 

Tak ada mimpi kecuali yang dahsyat dan mutlak mimpi

berkilat-kilat serta nyaring bagai tembaga

terbayang dalam dada atau pun wajah kuli yang

suka bengkelai

Tak ada orang asing di sini

Setiap orang adalah asing sejak mula pertama

Orang-orang seperti naga

Tanpa sanak, tanpa keluarga

Setiap orang bersiap dengan kukunya

 

Kita bebas untuk pembunuhan

tapi tidak untuk kepercayaan

 

Orang di sini sukar diduga

Bagai kanak-kanak suka uang dan manisan

Bagai perempuan suka berlian dan pujian

Bagai orang tua suka candu dan batu dadu

Dan bagai rumah terkunci pintunya

Sukar dibuka

Tapi sekali dijumpa kuncinya

terbukalah pintu hati

manusia biasa

 

Gereja Ostankino, Moskwa

 

Menaranya cukup tinggi

tapi menggapai sia-sia

Pintunya mulut sepi

rapat terkunci

derita lumat dikunyahnya

 

Sretenski Boulevard

 

Di sepanjang Sretenski Boulevard

kuseret langkahku

dan kebosananku

 

Di bawah naungan pepohonan rindang

di sepajang jalan bersih dengan bunga-bungaan

kucekik kebosananku

dalam langkah-langkah yang lamban

 

Di Sretenski Boulevard

di bangku panjang

di antara pasangan berciuman

dan orang tua membaca buku

kuhenyakkan tubuhku yang lesu

kuhenyakkan kebosananku

 

Maka

sambil diseling memandang

pasangan yang lewat bergandengan

dan ibu mendorong bayi dalam kereta

kupandang pula di depanku

kelesuanku dan kejemuanku

 

Terang bukan soal kesepian

di tengah berpuluh teman

dan wanita untuk berkencan

Masing-masing orang punya perkelahian

Masing-masing waktu punya perkelahian

 

Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri

Kerna, wahai, setanku yang satu

bernama kebosanan!

 

Di sepanjang Sretenski Boulevard

di sepanjang Sretenski Boulevard

di tempat yang khusus untuk ini

kuseret langkahku

dan kebosananku

Lalu kulindas

di bawah sepatu

 

Kupanggil Namamu

 

Sambil menyeberangi sepi

kupanggil namamu, wanitaku

Apakah kau tak mendengarku?

 

Malam yang berkeluh kesah

memeluk jiwaku yang payah

yang resah

kerna memberontak terhadap rumah

memberontak terhadap adat yang latah

dan akhirnya tergoda cakrawala

 

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu

yang kini sudah kulupa

Sia-sia

Tak ada yang bisa kujangkau

Sempurnalah kesepianku

 

Angin pemberontakan

menyerang langit dan bumi

Dan dua belas ekor serigala

muncul dari masa silam

merobek-robek hatiku yang celaka

 

Berulang kali kupanggil namamu

Di manakah engkau, wanitaku?

Apakah engkau juga menjadi masa silamku?

Kupanggil namamu

Kupanggil namamu

Kerna engkau rumah di lembah

Dan Tuhan?

Tuhan adalah seniman tak terduga

yang selalu sebagai sediakala

hanya memperdulikan hal yang besar saja

 

Seribu jari dari masa silam

menuding kepadaku

Tidak

Aku tak bisa kembali

 

Sambil terus memanggil namamu

amarah pemberontakanku yang suci

bangkit dengan perkasa malam ini

dan menghamburkan diri ke cakrawala

yang sebagai gadis telanjang

membukakan diri padaku

Penuh. Dan Prawan

 

Keheningan sesudah itu

sebagai telaga besar yang beku

dan aku pun beku di tepinya

Wajahku. Lihatlah, wajahku

Terkaca di keheningan

Berdarah dan luka-luka

dicakar masa silamku

 

Kenangan dan Kesepian

 

Rumah tua

dan pagar batu

Langit di desa

sawah dan bambu

 

Berkenalan dengan sepi

pada kejemuan disandarkan dirinya

Jalanan berdebu tak berhati

lewat nasib menatapnya

 

Cinta yang datang

burung tak tergenggam

Batang baja waktu lengang

dari belakang menikam

 

Rumah tua

dan pagar batu

Kenangan lama

dan sepi yang syahdu

 

Ciliwung

 

Ciliwung kurengkuh dalam nyanyi

kerna punya coklat kali Solo

Mama yang bermukim dalam cinta

dan berulang kusebut dalam sajak

wajahnya tipis terapung

daun jati yang tembaga

Hanyutlah mantra-mantra dari dukun

hati menemu segala yang hilang

 

Keharuan adalah tonggak setiap ujung

dan air tertumpah dari mata-mata di langit

Kali coklat menggeliat dan menggeliat

Wajahnya penuh lingkaran-lingkaran bunda!

 

Katakanlah dari hulu mana

mengalir wajah-wajah gadis

rumah tua di tanah ibu

ketapang yang kembang, kembang jambu berbulu

dan bibir kekasih yang kukunyah dulu

 

Katakanlah, Paman Doblang, katakanlah

dari hulu mana mereka datang:

manisnya madu, manisnya kenang

Dan pada hati punya biru bunga telang

pulanglah segala yang hilang

Karya WS Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS Rendra adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Ia lahir 7 November 1935 di Solo dan meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun.

Sejak muda, Rendra menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada. Ia dijuluki Burung Merak.

Tahun 1967 Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman seperti lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain.

Rendra anak dari pasangan R Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik, Solo sekaligus dramawan tradisional. Sang bunda adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja dihabiskannya di Solo.

Raendra memulai pendidikannya dari TK tahun 1942 SMA tahun 1952 di sekolah Katolik, Solo. Ia kemudian masuk Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Meski tidak rampung kuliahnya, Rendra tak berhenti belajar.

Tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika setelah mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar kesusastraan di Universitas Harvard.

Penghargaan:

Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)

Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)

Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)

Hadiah Akademi Jakarta (1975)

Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)

Penghargaan Adam Malik (1989)

The S.E.A. Write Award (1996)

Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kumpulan Sajak/Puisi:

Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)

Blues untuk Bonnie

Empat Kumpulan Sajak

Sajak-sajak Sepatu Tua

Mencari Bapak

Perjalanan Bu Aminah

Nyanyian Orang Urakan

Pamphleten van een Dichter

Potret Pembangunan Dalam Puisi

Disebabkan oleh Angin

Orang-Orang Rangkasbitung

Rendra: Ballads and Blues Poem

Do’a untuk Anak-Cucu