Masmur Pagi
Kata-kata masmur ini
timbul dari asap dapur
yang mengepul ke sorga
dan di atas tungku dapur itu
istriku merebus susu –
rahmat-Mu yang pertama
Kata-kata masmur ini
lari ke lembah-lembah
dan di tepi cakrawala
mereka kawini sepi
yang lama menantinya
Lembu-lembu masuk ke air
mengacau air yang jernih
menentang senja
dan hari kiamat
Maka
di udara yang segar
bersebaranlah bau minyak wangi
dari jubah malaekat
Tubuh-Mu yang indah
Kaubaringkan di gunung yang tinggi
dan nampaklah dari bawah
bagai awan mandi cahaya
Bebek-bebek pun bertelor
kerna Kaujamah dengan tangan-Mu
Ikan-ikan jumpalitan dalam air
dan padi melambai-lambai
menegur-Mu
Pohon-pohon cemara di gunung
menggelitiki tapak kaki-Mu
dengan cara yang jenaka
Kau pun lalu bangkit pindah
ke lain cakrawala
menggeliat dan bersenam indah
lalu melangkah menaiki matahari
mendaki, mendaki
mengeringkan celana dan bajuku
yang dicuci oleh istriku
Doa Malam
Allah di sorga
Dari rumah bambu sempitku
di malam yang dingin
tanganku yang rapuh
menggapai sorga-Mu
Aku akan tidur di mata-Mu
yang mengandung bianglala
dan lembah kasur beledu
Ketika angin menyapu rambut-Mu
yang ikal dan panjang
aku akan berlutut di pintu telinga-Mu
dan mengucapkan doaku
Doa adalah impian
dan segala harapan insan
Di dalam doa aku bisikkan impianku
Apakah Kau tertawa lucu?
Anakku yang kecil memanjat jubah-Mu
dan tidur di dalam saku-Mu
Sedang bulan di atas pundak-Mu
istriku masuk ke dalam darah-Mu
Ketika Engkau mengucapkan selamat malam
bunga-bunga kertas aneka warna
berhamburan dari mulut-Mu
Dan untuk anakku
Kausediakan balonan biru
Bintang-bintang bertepuk tangan
dan serangga malam riuh tertawa
semua mengagumi-Mu:
Tukang Sulapan Tak Bertara
Lalu Kau angkat tangan-Mu berpospor
gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan
Dan itu berarti: selamat tidur
sampai ketemu esok hari
dengan sulapan yang lain dan baru
Hongkong
Di Hongkong kita tersenyum, menegursapa
tapi mereka memandang kita dengan curiga
Bagai si pandir atau si gila dihina
Di kota ini setiap orang jadi serdadu
kerna setiap jengkal tanah adalah medan laga
Di jalan yang ramai dan di mana-mana tulisan
Tionghoa
para pelacur menggedel dan menawarkan bencana
Tuhan dan penghianatan mempunyai wajah yang
sama
Tak ada mimpi kecuali yang dahsyat dan mutlak mimpi
berkilat-kilat serta nyaring bagai tembaga
terbayang dalam dada atau pun wajah kuli yang
suka bengkelai
Tak ada orang asing di sini
Setiap orang adalah asing sejak mula pertama
Orang-orang seperti naga
Tanpa sanak, tanpa keluarga
Setiap orang bersiap dengan kukunya
Kita bebas untuk pembunuhan
tapi tidak untuk kepercayaan
Orang di sini sukar diduga
Bagai kanak-kanak suka uang dan manisan
Bagai perempuan suka berlian dan pujian
Bagai orang tua suka candu dan batu dadu
Dan bagai rumah terkunci pintunya
Sukar dibuka
Tapi sekali dijumpa kuncinya
terbukalah pintu hati
manusia biasa
Gereja Ostankino, Moskwa
Menaranya cukup tinggi
tapi menggapai sia-sia
Pintunya mulut sepi
rapat terkunci
derita lumat dikunyahnya
Sretenski Boulevard
Di sepanjang Sretenski Boulevard
kuseret langkahku
dan kebosananku
Di bawah naungan pepohonan rindang
di sepajang jalan bersih dengan bunga-bungaan
kucekik kebosananku
dalam langkah-langkah yang lamban
Di Sretenski Boulevard
di bangku panjang
di antara pasangan berciuman
dan orang tua membaca buku
kuhenyakkan tubuhku yang lesu
kuhenyakkan kebosananku
Maka
sambil diseling memandang
pasangan yang lewat bergandengan
dan ibu mendorong bayi dalam kereta
kupandang pula di depanku
kelesuanku dan kejemuanku
Terang bukan soal kesepian
di tengah berpuluh teman
dan wanita untuk berkencan
Masing-masing orang punya perkelahian
Masing-masing waktu punya perkelahian
Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri
Kerna, wahai, setanku yang satu
bernama kebosanan!
Di sepanjang Sretenski Boulevard
di sepanjang Sretenski Boulevard
di tempat yang khusus untuk ini
kuseret langkahku
dan kebosananku
Lalu kulindas
di bawah sepatu
Kupanggil Namamu
Sambil menyeberangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku
Apakah kau tak mendengarku?
Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah
memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala
Sia-sia kucari pancaran sinar matamu
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa
Sia-sia
Tak ada yang bisa kujangkau
Sempurnalah kesepianku
Angin pemberontakan
menyerang langit dan bumi
Dan dua belas ekor serigala
muncul dari masa silam
merobek-robek hatiku yang celaka
Berulang kali kupanggil namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu
Kupanggil namamu
Kerna engkau rumah di lembah
Dan Tuhan?
Tuhan adalah seniman tak terduga
yang selalu sebagai sediakala
hanya memperdulikan hal yang besar saja
Seribu jari dari masa silam
menuding kepadaku
Tidak
Aku tak bisa kembali
Sambil terus memanggil namamu
amarah pemberontakanku yang suci
bangkit dengan perkasa malam ini
dan menghamburkan diri ke cakrawala
yang sebagai gadis telanjang
membukakan diri padaku
Penuh. Dan Prawan
Keheningan sesudah itu
sebagai telaga besar yang beku
dan aku pun beku di tepinya
Wajahku. Lihatlah, wajahku
Terkaca di keheningan
Berdarah dan luka-luka
dicakar masa silamku
Kenangan dan Kesepian
Rumah tua
dan pagar batu
Langit di desa
sawah dan bambu
Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya
Cinta yang datang
burung tak tergenggam
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam
Rumah tua
dan pagar batu
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu
Ciliwung
Ciliwung kurengkuh dalam nyanyi
kerna punya coklat kali Solo
Mama yang bermukim dalam cinta
dan berulang kusebut dalam sajak
wajahnya tipis terapung
daun jati yang tembaga
Hanyutlah mantra-mantra dari dukun
hati menemu segala yang hilang
Keharuan adalah tonggak setiap ujung
dan air tertumpah dari mata-mata di langit
Kali coklat menggeliat dan menggeliat
Wajahnya penuh lingkaran-lingkaran bunda!
Katakanlah dari hulu mana
mengalir wajah-wajah gadis
rumah tua di tanah ibu
ketapang yang kembang, kembang jambu berbulu
dan bibir kekasih yang kukunyah dulu
Katakanlah, Paman Doblang, katakanlah
dari hulu mana mereka datang:
manisnya madu, manisnya kenang
Dan pada hati punya biru bunga telang
pulanglah segala yang hilang
Karya WS Rendra
Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS Rendra adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Ia lahir 7 November 1935 di Solo dan meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun.
Sejak muda, Rendra menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada. Ia dijuluki Burung Merak.
Tahun 1967 Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman seperti lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain.
Rendra anak dari pasangan R Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik, Solo sekaligus dramawan tradisional. Sang bunda adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja dihabiskannya di Solo.
Raendra memulai pendidikannya dari TK tahun 1942 SMA tahun 1952 di sekolah Katolik, Solo. Ia kemudian masuk Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Meski tidak rampung kuliahnya, Rendra tak berhenti belajar.
Tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika setelah mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar kesusastraan di Universitas Harvard.
Penghargaan:
Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)
Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
Hadiah Akademi Jakarta (1975)
Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
Penghargaan Adam Malik (1989)
The S.E.A. Write Award (1996)
Penghargaan Achmad Bakri (2006).
Kumpulan Sajak/Puisi:
Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)
Blues untuk Bonnie
Empat Kumpulan Sajak
Sajak-sajak Sepatu Tua
Mencari Bapak
Perjalanan Bu Aminah
Nyanyian Orang Urakan
Pamphleten van een Dichter
Potret Pembangunan Dalam Puisi
Disebabkan oleh Angin
Orang-Orang Rangkasbitung
Rendra: Ballads and Blues Poem
Do’a untuk Anak-Cucu










