Aku Tulis Pamplet Ini
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng-iya-an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi mara-bahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian
Aku tidak melihat alasan
Kenapa harus diam tertekan dan termangu
Aku ingin secara wajar bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka
Matahari menyinari air mata yang berderai menjadi api
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
Yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan
Ketakutan
Kelesuan
Aku tulis pamplet ini
Karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya
Matahari tenggelam diganti rembulan
Lalu besok pagi pasti terbit kembali
Dan di dalam air lumpur kehidupan
aku melihat bagai terkaca:
Ternyata kita, toh, manusia!
Sajak Anak Muda
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
tanpa watak
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
yang tidak mengajarkan kejujuran
yang tidak mengajarkan keberanian
yang tidak mengajarkan kesetiaan
Ilmu sekolah tidak memberi kita
pegangan untuk hidup
Kita hanya diajari cara mencari makan
tanpa diajari bagaimana menjadi manusia
Sajak Seonggok Jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
sang pemuda melihat ladang
Ia melihat petani
Ia melihat panen
dan suatu hari subuh
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar…
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik
etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor
Ia melihat nomor-nomor lotre
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal
tidak akan menolongnya
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku
dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
tetapi kurang latihan bebas berkarnya
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi
asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja
bila pada akhirnya
ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepiiiii!
Karya WS Rendra
Guru Oemar Bakri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti
Memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Profesimu sangat berarti
Kita Merindukan Anak-Anak Indonesia
Kita merindukan anak-anak Indonesia
Berwajah cerah gembira pergi ke sekolah
Kita merindukan berjuta anak Indonesia
Mendapat peluang serupa
Dididik membaca buku, menuliskan fikiran
Merenangi lautan ilmu, mencintai perpustakaan
Kreatif dan sensitif terhadap kehidupan
Mencintai Ayah dan Ibu
Hormat pada Guru penuang ilmu
Solider dan beramal bagi bangsa
Tak canggung dalam pergaulan dunia.
Kita merindukan anak-anak Indonesia
Diberi kesempatan mendaki seluruh jenjang pendidikan
Sehingga terpelajarlah wajah bangsa
Mendapat pencerahan pada rohaninya
Menjadi insan yang bekerja keras dalam ketawakkalan
Senantiasa hidup di bawah naungan kejujuran
Sungguh berat ini beban bersama
Ini kerja panjang dan berjangka lama
Karena itu kepada Tuhan kita mohonkan
Semoga kita dianugerahi-Nya kekuatan
Karya Taufiq Ismail










