Esai: Keluhuran dalam Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Djenar Maesa Ayu

Agustin Risti Prasetyo, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Foto: Istimewa

Oleh Agustin Risti Prasetyo

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

SASTRA Indonesia pasca Orde Baru ditandai dengan ledakan narasi yang membongkar sekat-sekat domestik dan tabu seksualitas. Di tengah gelombang ini, Djenar Maesa Ayu muncul bukan sekadar sebagai pencerita, melainkan sebagai pembedah anatomi sosial yang menggunakan “kelamin” sebagai pisau bedah estetika.

Melalui kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), khususnya cerpen judul yang menjadi pembuka sekaligus dari buku tersebut, Djenar menyuguhkan sebuah polifoni suara yang getir, sinis, namun sangat jujur.

Cerpen ini bukan sekadar provokasi moral, melainkan sebuah studi tentang alienasi manusia modern yang terjebak dalam dikotomi antara raga yang menua dan hasrat yang tak kunjung padam.

Esai ini akan menelaah cerpen tersebut melalui kacamata teori The Sublime (Keluhuran) dari Longinus. Dalam Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) Djenar, keluhuran dicapai melalui cara yang lebih ekstrem: yaitu melalui penghancuran citra ideal tubuh dan kejujuran yang menyakitkan (brutal honesty).

Longinus percaya bahwa keagungan sastrawi muncul ketika sebuah teks mampu mengguncang pembaca, membawa mereka pada ambang rasa ngeri sekaligus takjub sebuah kondisi yang sangat relevan untuk membedah prosa Djenar yang meledak-ledak.

Dialektika Tubuh dan Kehampaan Makna

Langkah pertama untuk memasuki labirin pemikiran Djenar adalah memahami bahwa bagi Djenar, tubuh bukanlah kuil yang suci, melainkan medan tempur politik dan eksistensial.

Dalam cerpen ini, Djenar menggunakan teknik pengulangan naratif dari empat sudut pandang yang berbeda: sang pria mapan, sang selingkuhan yang cantik, sang istri yang terabaikan, dan narator pengamat.

Teknik ini menciptakan efek resonansi yang menghantui, di mana satu kalimat kunci “Kalau saya saja sudah jengah bertemu, apalagi kelamin saya?” menjadi mantra yang meruntuhkan martabat kemanusiaan hingga ke titik nadir.

Longinus menyatakan bahwa keluhuran berasal dari “kekuatan untuk membentuk konsepsi yang agung.” Dalam konteks Djenar, keagungan ini tidak datang dari nilai-nilai moral yang luhur, melainkan dari keberanian intelektual untuk menghadapi kebusukan relasi manusia.

Djenar tidak sedang “main-main” ketika ia menyandingkan institusi pernikahan dengan “seonggok daging tak segar”. Keberanian untuk menghancurkan eufemisme inilah yang menjadi titik api keluhuran dalam teks ini.

Pembaca dipaksa keluar dari zona nyaman moralitas tradisional menuju realitas dingin di mana cinta telah tereduksi menjadi sekadar fungsi biologis dan transaksi ekonomi.

Keluhuran pada Narasi Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)

Membangun jembatan antara teori Longinus dan teks ini memerlukan analisis terhadap lima prinsip sumber keluhuran Longinus, yakni: daya pemikiran yang agung, emosi yang kuat, retorika yang unggul, pengungkapan yang berkelas (diksi dan metafora), dan penggubahan yang mulia.

Pertama, daya pemikiran yang agung: melampaui kedangkalan fisik. Keagungan pikiran dalam cerpen ini terletak pada dekonstruksi konsep “kemapanan” dan “kecantikan”. Tokoh pria digambarkan mapan secara finansial, namun miskin secara spiritual hingga ia membutuhkan ginseng dan kegelapan total untuk melakukan hubungan intim.

Di sisi lain, sang istri terjebak dalam peran domestik yang menghancurkan fisiknya. Djenar menghadirkan pemikiran bahwa keterikatan pada fisik (hasrat seksual) adalah penjara yang melahirkan kebencian saat fisik tersebut mulai runtuh dimakan waktu.

Keluhuran muncul saat teks ini berhasil memotret keputusasaan manusia yang menyadari bahwa mereka hanyalah “biomassa” yang menunggu busuk, namun tetap terikat pada ego dan gengsi sosial.

Kedua, emosi yang kuat dan mengguncang: antara jengah dan pilu. Longinus menekankan pentingnya vehement and enthusiastic passion. Dalam cerpen ini, emosi yang dominan adalah kejengahan (disgust) dan kemarahan yang tertahan. Suara sang istri yang digambarkan seperti “kaleng rombeng” bukan sekadar penghinaan fisik, melainkan metafora dari komunikasi yang telah rusak.

Ketika sang istri mengatakan, “saya berhak menentukan dan memilih kebahagiaan saya sendiri,” emosi ini mencapai puncaknya. Ada transendensi dari sosok perempuan yang awalnya pasif dan “terperanjat” menjadi subjek yang mengambil tindakan tegas (I’m leaving you). Perpindahan emosi dari rasa rendah diri menuju kedaulatan diri inilah yang memberikan efek sublim kepada pembaca.

Ketiga, retorika yang unggul: kekuatan repetisi. Djenar menggunakan gaya repetisi, pengulangan paralel untuk membangun intensitas. Struktur cerpen yang mengulang kejadian yang sama dari perspektif yang berbeda berfungsi seperti cermin retak yang memantulkan kebenaran dari berbagai sisi.

Teknik ini, menurut Longinus, mampu meningkatkan martabat narasi. Ia tidak membiarkan pembaca hanya melihat satu sisi kebenaran. Pengulangan kalimat tentang “kelamin” dan “daging tak segar” bukan dimaksudkan untuk pornografi. Ia merujuk pada penekanan retoris tentang betapa mekanis dan dinginnya hubungan manusia yang tanpa jiwa.

Keempat, pengungkapan yang berkelas (diksi dan metafora). Pilihan diksi Djenar sangat tajam, tidak kompromistis. Penggunaan istilah “gajih,” “sedot lemak,” “bedah plastik,” hingga “kawin urat” menciptakan tekstur bahasa yang kasar namun hidup. Longinus berpendapat bahwa kata-kata yang tepat memiliki kekuatan magis untuk membujuk pendengar.

Djenar menggunakan kata-kata yang “tidak sedap” untuk menciptakan estetika perlawanan. Dengan menyebut tubuh sebagai “seonggok daging,” ia menelanjangi kepalsuan romantisasi pernikahan. Diksi ini adalah instrumen untuk mencapai keluhuran melalui jalur “kenegatifan” membuat pembaca terpana oleh kejujuran yang pahit.

Kelima, penggubahan yang mulia. Susunan narasi yang berpindah-pindah antara “Aku,” “Dia,” dan “Mereka” menciptakan sebuah bangunan teks yang megah namun menyesakkan. Komposisi ini mencerminkan keterpecahan identitas manusia modern.

Akhir cerita yang ditutup dengan kalimat “ini tidak main-main!” dan tanggal penulisan yang presisi memberikan kesan bahwa cerita ini adalah sebuah dokumen sosial, sebuah manifesto bahwa urusan kelamin adalah urusan eksistensi yang sangat serius.

Estetika Luka dan Kemenangan Jiwa

Berdasarkan analisis di atas, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) Djenar memenuhi kriteria keluhuran Longinus melalui kemampuannya untuk melakukan transport atau pemindahan kesadaran.

Ia membawa pembaca dari permukaan kulit menuju kedalaman psikis yang gelap. Djenar tidak memberikan solusi moral yang manis; ia justru membiarkan luka itu terbuka.

Keluhuran dalam karya ini ditemukan dalam keberanian tokoh-tokohnya (terutama sang istri dan sang selingkuhan pada akhirnya) untuk memutus rantai “main-main” tersebut.

Pernyataan “I’m leaving you” adalah sebuah tindakan sublim. Itu adalah momen di mana manusia menolak menjadi sekadar objek seksual atau “daging” dan kembali menjadi subjek yang memiliki kehendak.

Djenar melalui teks ini menegaskan bahwa sastra yang luhur tidak harus berbicara tentang dewa-dewa atau pahlawan perang. Sastra bisa menjadi luhur ketika ia berani menatap nanah dalam sebuah hubungan, mengakui kegagalan tubuh, dan tetap tegak berdiri untuk menyatakan kebenaran personal.

Karya ini adalah sebuah teguran keras bagi masyarakat yang sering kali memandang remeh urusan domestik dan seksualitas, seolah-olah itu hanya “main-main”. Padahal, di dalam kelamin dan segala urusannya, terletak seluruh martabat, harga diri, dan tragedi kemanusiaan kita yang paling hakiki.