Oleh Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA
Putra Guru dan Penginjil di Papua Pegunungan; Doktor Lulusan Uncen, Jayapura
PENDIDIKAN bukan sekadar bermuara membangun kecerdasan, tetapi juga membentuk karakter, iman, martabat, dan masa depan suatu bangsa. Di tengah berbagai diskusi mengenai pembangunan tanah Papua (selanjutnya, Papua) perhatian publik sering kali lebih banyak diarahkan pada jalan, jembatan, gedung pemerintahan, bandara, investasi, pemekaran wilayah, dan kebijakan politik. Semua itu memang penting.
Namun, kemajuan sebuah daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi oleh kualitas manusia yang mengelola dan memanfaatkannya. Gedung dapat didirikan dalam waktu relatif singkat. Jalan dapat dibuka dengan alat berat. Akan tetapi, membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, berintegritas, dan memiliki semangat melayani membutuhkan proses panjang, bahkan lintas generasi.
Dalam konteks Papua, pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak dapat dipisahkan dari sejarah pelayanan gereja. Jauh sebelum jaringan pendidikan pemerintah menjangkau seluruh pesisir, lembah, pulau, dan pegunungan, para misionaris, penginjil, guru jemaat, pastor, pendeta serta tenaga pelayanan gereja telah membuka sekolah-sekolah sederhana di tengah masyarakat.
Di sejumlah tempat, sekolah dibangun dengan dinding papan, lantai tanah, dan atap daun. Guru harus berjalan kaki berhari-hari, menyeberangi sungai, mendaki gunung, atau menggunakan perahu untuk mencapai tempat pelayanan. Dalam segala keterbatasan itu, pendidikan tetap berjalan.
Dari ruang-ruang kelas sederhana tersebut lahir generasi pertama orang Papua yang mengenal pendidikan formal, mampu membaca, menulis, berhitung, mengajar, memimpin organisasi, melayani gereja, dan kemudian mengambil bagian dalam pemerintahan serta pembangunan daerah.
Dalam perjalanan panjang tersebut, terdapat tiga lembaga yang mempunyai tempat penting dalam sejarah pendidikan di Papua: Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua (YPK), Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili (YPPGI), dan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK).
Ketiganya lahir dari tradisi gereja dan perjalanan kelembagaan yang berbeda. Namun, mereka dipersatukan oleh suatu panggilan yang sama, yaitu menghadirkan pendidikan sebagai pelayanan iman, kemanusiaan, dan pembebasan dari kebodohan, keterbelakangan, serta ketidakberdayaan.
YPK: Warisan Zending dan GKI
Akar sejarah YPK berhubungan erat dengan perjalanan pekabaran Injil Protestan di Papua. Pada 5 Februari 1855, ketika Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler tiba di Pulau Mansinam, Manokwari, dikenang sebagai salah satu tonggak penting masuknya Injil Protestan di Papua. Pelayanan yang berkembang sesudahnya tidak hanya berhubungan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga membaca, menulis, penerjemahan, pelatihan guru, dan pendidikan masyarakat.
Dalam perkembangannya, pelayanan pendidikan dijalankan oleh berbagai badan zending. Pendidikan dan pekabaran Injil berjalan berdampingan karena kemampuan membaca dibutuhkan masyarakat untuk memahami Alkitab, berkomunikasi, mengelola kehidupan sosial, serta berhubungan dengan dunia yang semakin berkembang.
Ketika Gereja Kristen Injili di Tanah Papua berdiri sebagai gereja mandiri pada 26 Oktober 1956, tanggung jawab pelayanan yang sebelumnya banyak dipegang badan-badan zending secara bertahap dialihkan kepada gereja lokal. Pada 8 Maret 1962, pengelolaan pendidikan diserahkan kepada GKI di Tanah Papua.
Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari lahir YPK di tanah Papua. Nama kelembagaannya mengalami beberapa penyesuaian, dari Stichting Voor Christelijk Onderwijs, kemudian Yayasan Persekolahan Kristen hingga menjadi Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua.
YPK bukan sekadar organisasi administratif yang mengelola sekolah. YPK merupakan kelanjutan dari visi gereja bahwa Injil harus menyentuh manusia secara utuh. Iman tidak hanya dibicarakan dari mimbar, tetapi diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pembentukan watak, serta peningkatan kemampuan masyarakat.
Melalui sekolah-sekolahnya, YPK hadir di berbagai wilayah pesisir, kepulauan, Kepala Burung, Teluk Cenderawasih, hingga daerah-daerah lain di Tanah Papua. Sekolah YPK menjadi tempat pembentukan guru, pelayan gereja, pegawai pemerintahan, akademisi, tenaga kesehatan, politisi, dan pemimpin masyarakat.
Kontribusi YPK tidak hanya terletak pada jumlah lulusannya. Warisan terbesarnya adalah tumbuhnya kesadaran bahwa orang Papua mempunyai kemampuan untuk belajar, memimpin, menulis, meneliti, mengajar, serta menentukan arah masa depannya sendiri.
YPPK: Pendidikan Katolik sebagai Misi Kemanusiaan
Pilar berikutnya adalah YPPK. Akar karya pendidikan Katolik di Papua lebih tua daripada pendirian formal yayasannya. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa para misionaris Missionarii Sacratissimi Cordis atau MSC telah merintis pelayanan pendidikan di wilayah Merauke pada awal abad ke-20. Sekolah rakyat mulai dibuka sekitar 1905, kemudian pendidikan tingkat lanjutan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.
Di wilayah Mimika, Kokonao juga memiliki tempat penting dalam sejarah pelayanan Katolik. Catatan Keuskupan Timika menyebut kedatangan misi di Kokonao pada 9 Mei 1927, disusul penempatan pastor (imam Katolik) dan guru untuk melayani masyarakat. Sumber lain mencatat keberadaan sekolah Katolik di Kokonao sejak 1927.
Sebagai badan pengelola pendidikan, YPPK di Tanah Papua didirikan pada 22 Agustus 1974 oleh Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr Herman Tillemans MSC. Pembentukan yayasan memberikan landasan kelembagaan yang lebih teratur bagi sekolah-sekolah Katolik yang sebelumnya telah tumbuh melalui karya keuskupan, tarekat, dan stasi-stasi misi.
Pendidikan Katolik berpijak pada penghormatan terhadap martabat manusia. Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai pribadi yang harus berkembang secara utuh: intelektual, moral, spiritual, sosial, emosional, dan jasmani.
Karena itu, sekolah-sekolah YPPK dikenal menekankan kedisiplinan, tanggung jawab, kebersihan, keteraturan, kepedulian sosial, dan pelayanan. Pendidikan diarahkan agar anak belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi dirinya sendiri serta belajar hidup bersama orang lain. Orientasi ini terlihat pula dalam rumusan pelayanan pendidikan YPPK Merauke.
Pelayanan YPPK juga mempunyai sifat terbuka. Sekolah Katolik tidak hanya mendidik anak-anak Katolik. Di banyak tempat, anak-anak dari berbagai gereja, suku, dan latar belakang sosial belajar bersama di sekolah YPPK.
Dari lingkungan pendidikan tersebut lahir guru, pastor, suster, tenaga kesehatan, birokrat, hakim, jaksa, akademisi, kepala daerah, anggota legislatif, tokoh adat, aktivis sosial, dan pemimpin masyarakat. Mereka merupakan bagian dari buah panjang pelayanan Katolik dalam membangun manusia Papua.
YPPGI: Pelita Pendidikan dari Kampung dan Pegunungan
Pilar ketiga adalah YPPGI, sebuah yayasan yang lahir dari kebersamaan gereja-gereja Injili di Tanah Papua. YPPGI dibentuk di Enarotali pada 19 September 1963 oleh lima denominasi gereja Injili.
Dalam catatan mengenai sejarah YPPGI, gereja-gereja pendirinya disebut meliputi Gereja Kemah Injil Indonesia atau Kingmi, Gereja Injili di Indonesia, gereja yang dalam perkembangan kelembagaannya berkaitan dengan GPKAI atau GKAI, Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua, serta Gereja Kristen Alkitab di Tanah Papua. Penamaan beberapa gereja mengalami perkembangan dari masa ke masa sehingga penyebutannya perlu mengikuti dokumen kelembagaan masing-masing.
Keistimewaan YPPGI terletak pada medan pelayanannya. Yayasan ini tumbuh kuat di kampung-kampung, daerah pedalaman, lembah, pesisir, dan terutama wilayah pegunungan yang sulit dijangkau. (Bagian pertama)










