Oleh Felix Baghi SVD
Dosen Filsafat IFTK Ledalero, Maumere, Flores
PEMIKIR kontemporer Italia, Girogio Agamben, selalu menulis suatu catatan lepas dalam Quodlibet, una voce di Agamben. Catatan lepas itu seperti ‘asal omong’ yang sekenanya saja. Ia menulis bebas tanpa memiliki struktur tertentu. Sebagaimana biasa, ia menulis tentang tema apa saja, entah itu politik, bahasa, agama, kekuasaan, kemanusiaan, etika, perang, konflik, dengan gaya bahasa yang biasa ia ungkapkan dalam Homo Sacer.
Hal yang menari perhatian, yaitu pada tanggal 3 Agustus 2026 ia menulis tentang ‘Pensiero e Immaginazione, ancora sull’intelligenzia artificiale’ — ‘pikiran dan imajinasi, masih tentang kecerdasan buatan, artificial intelligence (AI).’ Secara khusus Agamben mengangkat persoalan kecerdasan artifisial melalui analogi historis yang menghubungkan AI dengan intellectus agens (IA) menurut Averoes.
Tentu, ini bukan analogi permainan istilah, melainkan analogi untuk menunjukkan kesamaan struktural antara keduanya, yaitu baik intellectus agens dalam pandangan Averroes maupun AI, keduanya merupakan kekuatan berpikir yang aktif bekerja di luar dari pikiran manusia. Keduanya, AI dan IA memberi kita gambaran tentang ‘pikiran’ yang tidak sepenuhnya berasal dari manusia, pikiran yang hadir sebagai kekuatan impersonal, dan pikiran itu dapat menghasilkan, mengatur, dan mengarahkan aktivitas berpikir di dalam diri manusia.
Persoalan utama di sini bukan hanya keberadaan pikiran eksternal yang tunggal dan terpisah, melainkan bagaimana pikiran itu dapat berhubungan dengan manusia. Bagaimana intelek universal menjadi aktivitas berpikir bagi manusia dan menegaskan hic homo intelligit — “manusia ini berpikir”? Ada petunjuk proses penyatuan atau hubungan antara intelek dan manusia, namun penyatuan itu tidak terjadi secara langsung, melainkan terjadi melalui imajinasi atau phantasia.
Imajinasi menyediakan gambaran-gambaran khusus, phantasmata, yang menjadi bahan bagi aktualisasi intelek. Melalui imajinasi, sesuatu yang berasal dari pengalaman indrawi dibawa menuju bentuk yang inteligibel. Dalam teori Averroes, intelek yang terpisah tidak serta-merta menghapus aktivitas berpikir pada manusia. Ia justru mengaktualkan potensi intelektual manusia melalui jalinannya dengan imajinasi.
Sebaliknya, dalam penggunaan AI, manusia menyerahkan aktivitas berpikirnya kepada suatu sistem dari luar. Jika persoalannya adalah bagaimana intelek terpisah dapat menjadi kekuatan berpikir bagi manusia, maka dalam kondisi teknologis kontemporer, persoalannya adalah bagaimana manusia berhenti berpikir karena ia telah menyerahkan tindakan berpikir kepada mesin.
Karena itu, pernyataan: hic homo intelligit mengalami perubahan menjadi hic homo non intelligit: manusia ini tidak lagi berpikir dalam arti yang sesungguhnya, melainkan ia hanya menerima, mengulang, dan mengafirmasi hasil dari sistem yang artifisial.
AI, dalam perspektif ini, bukan hanya sarana untuk berpikir. Ia berpotensi menjadi bentuk baru dari intelek yang terpisah, yang bekerja di luar subjek, tetapi sekaligus mengklaim otoritasnya atas manusia. Mesin tidak sekadar menyediakan informasi; ia menyusun kemungkinan jawaban, menata argumen, merumuskan bahasa, dan bahkan mengantisipasi keputusan.
Akibatnya, manusia tidak lagi menggunakan AI (intelek eksternal) untuk memperluas kapasitas refleksinya, melainkan menjadikan AI itu sebagai pengganti aktivitas reflektifnya sendiri. Delegasi seperti ini perlahan mengubah relasi manusia dengan pengetahuan: manusia tidak lagi mengalami proses memahami, mengerti, menganalisis, menafsir, tetapi ia hanya puas dengan cukup menerima hasil dari proses AI itu.
Imajinasi dan Kemungkinan Berpikir
Kritik Agamben menjadi lebih radikal ketika dikaitkan dengan peranan imajinasi. Imajinasi bukan sekadar kemampuan untuk menciptakan gambar-gambar mental atau membayangkan sesuatu yang tidak hadir.
Imajinasi adalah daya perantara yang memungkinkan hubungan antara pengalaman partikular dan pemahaman universal. Ia mengolah kesan-kesan indrawi, menyimpan bentuk-bentuk pengalaman, dan menghadirkannya kembali dalam suatu konfigurasi yang dapat dipahami oleh intelek.
Dengan demikian, imajinasi bukan faktor sekunder dan eksternal bagi ‘berpikir.’ Ia adalah kondisi yang memungkinkan ‘berpikir’ berlangsung. Pikiran tidak bekerja dalam ruang yang kosong tanpa gambaran, tanpa pengalaman, tanpa ingatan, dan tanpa kemungkinan.
Bahkan konsep yang paling abstrak pun berakar pada suatu kemampuan untuk menghadirkan, menghubungkan, dan mentransformasikan pengalaman manusia. Dalam arti seperti ini, imajinasi adalah ruang mediasi tempat sesuatu yang partikular dapat membuka diri kepada yang universal.
AI tidak memiliki imajinasi dalam pengertian tersebut. AI tidak mempunyai kapasitas untuk menghasilkan gambar, metafora, cerita atau gagasan yang tampak imajinatif. AI hanya bekerja melalui pengolahan pola- pola dan hubungan simbolik yang telah tersedia dalam big data.
Yang terjadi pada mesin AI bukan imajinasi melainkan simulasi atau rekombinasi data dan bentuk-bentuk yang telah ada. Mesin dapat menghasilkan kemungkinan, tetapi tidak mengalami kemungkinan sebagai dunia yang harus dihayati, dipertaruhkan, dan dimaknai.
Masalah yang lebih serius, menurut Agamben, terletak bukan hanya pada ketiadaan imajinasi dalam mesin, melainkan hilangnya imajinasi dalam diri manusia. AI menjadi mungkin dan berkuasa karena manusia modern telah kehilangan kemampuan untuk membayangkan secara mandiri.
Dewasa ini imajinasi artifisial yang diproduksi oleh media, birokrasi, pasar, dan teknologi telah lebih dahulu menggantikan imajinasi manusia. Manusia tidak lagi membentuk gambaran tentang dunia melalui pengalaman dan refleksi, tetapi ia menerima gambaran yang telah diproduksi oleh sistem sosial-teknologis.
Dalam konteks ini, AI bukan penyebab tunggal dari krisis berpikir. Ia merupakan puncak dari proses yang lebih panjang: proses pengosongan imajinasi manusia. Ketika manusia tidak lagi mampu membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang baru, manusia menjadi malas berpikir dan hanya siap menerima jawaban dari mesin.
Ketika daya untuk membentuk gambaran, menghubungkan pengalaman, dan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda melemah, maka delegasi berpikir yang diberikan kepada AI tampak bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai pembebasan dari tanggungjawab berpikir itu sendiri.
Krisis Intelligent Virtue
Dari sudut pandang etika kebajikan, kritik di atas dapat dipahami sebagai kritik terhadap kemerosotan kebajikan intelektual. Berpikir bukan hanya aktivitas teknis untuk menghasilkan kesimpulan yang benar.
Berpikir merupakan bagian dari pembentukan karakter. Kebajikan intelektual seperti nous, sophia, dan phronesis tidak hadir secara otomatis, tetapi dibentuk melalui kebiasaan, pendidikan, pengalaman, pertimbangan, dan latihan yang berulang.
Phronesis, misalnya, tidak dapat direduksi menjadi kemampuan menerapkan aturan secara mekanis. Ia merupakan kecakapan untuk memahami situasi konkret, mengenali apa yang relevan, menimbang berbagai kemungkinan, dan mengambil keputusan yang tepat dalam keadaan yang tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi.
Karena itu, phronesis memerlukan daya imajinatif. Seseorang harus mampu membayangkan konsekuensi suatu tindakan, memahami posisi orang lain, dan melihat aspek-aspek situasi yang tidak langsung tampak. AI dapat membantu menyediakan pilihan atau memetakan konsekuensi, tetapi AI tidak dengan memiliki phronesis.
Ia dapat menyarankan tindakan yang tampak masuk akal, bahkan tampak bermoral, tetapi hal itu tidak lahir dari keterlibatan eksistensial dalam situasi konkret. Mesin tidak menanggung akibat tindakannya, tidak mengalami keraguan moral, dan tidak membentuk karakternya melalui kebiasaan.
Oleh karena itu, AI mungkin dapat diprogram untuk menampilkan perilaku yang menyerupai kebajikan, tetapi perilaku tersebut belum tentu merupakan kebajikan dalam arti sebenarnya.
Di sinilah perbedaan antara artificial virtuous agent dan manusia yang berbudi luhur menjadi amat penting. Agen artifisial dapat dirancang agar mematuhi norma, menghindari tindakan yang berbahaya, atau menghasilkan keputusan yang secara statistik dianggap adil.
Namun, kepatuhan terhadap norma tidak identik dengan kebajikan. Kebajikan bukan hanya kesesuaian antara tindakan dan aturan, melainkan kualitas karakter yang memungkinkan seseorang bertindak dengan tepat karena telah membentuk disposisi moral tertentu.
Bahaya AI, karena itu, bukan semata-mata bahwa mesin dapat melakukan kesalahan. Bahayanya terletak pada kemungkinan bahwa manusia tidak lagi membentuk kebajikannya sendiri karena ia terus-menerus menyerahkan pertimbangannya kepada mesin.
Jika mesin selalu menentukan apa yang harus dibaca, ditulis, dipilih, dan diputuskan, maka manusia kehilangan kesempatan untuk mengembangkan nous dan phronesis. Ia mungkin memperoleh jawaban yang lebih cepat, tetapi kehilangan proses yang membentuk kemampuan untuk menilai dan pengenalan atas dirinya.
Dari Delegasi Menuju Pemulihan
Kritik terhadap AI tidak harus dipahami sebagai penolakan mutlak terhadap teknologi. Yang ditolak adalah bentuk penggunaan teknologi yang menggantikan aktivitas konstitutif manusia. AI menjadi problematis ketika ia tidak lagi berfungsi sebagai instrumen, melainkan mengambil alih tempat berpikir di dalam diri manusia. Di sini, teknologi tidak memperluas kemampuan manusia, melainkan ia mengosongkan kemampuan tersebut.
Karena itu, respons terhadap dominasi AI tidak cukup berupa regulasi teknis, pedoman penggunaan, atau peningkatan keamanan algoritmik. Semua hal itu penting, tetapi belum menyentuh persoalan yang paling mendasar: manusia macam apa yang sedang dibentuk oleh ketergantungan pada AI? Pertanyaan ini menggeser perhatian dari kemampuan mesin menuju transformasi manusia. Persoalannya bukan hanya: apakah AI dapat berpikir, melainkan apakah manusia masih bersedia dan mampu berpikir?
Agamben mengusulkan pemulihan “imajinasi yang hilang” sebagai langkah pertama untuk menghadapi situasi tersebut. Imajinasi harus dipahami sebagai praktik intelektual dan eksistensial, bukan sebagai hiburan atau pelarian dari kenyataan. Membaca karya sastra, mempelajari pemikiran di dalam dunia filsafat, menghayati seni, menafsirkan pengalaman, dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda adalah cara-cara untuk melatih kemampuan imajinatif. Semua praktik ini menjaga agar manusia tidak begitu saja direduksi menjadi penerima pasif dari gambaran yang diproduksi oleh sistem.
Dalam kerangka intelligent virtue pemulihan imajinasi berarti menghidupkan kembali proses pembentukan kebajikan intelektual. Manusia perlu belajar bukan hanya untuk menemukan jawaban, tetapi juga merumuskan pertanyaan; bukan hanya untuk memperoleh solusi, tetapi memahami situasi; bukan hanya mengikuti rekomendasi, tetapi menilai alasan yang mendasarinya.
Imajinasi memungkinkan manusia melihat bahwa kenyataan tidak pernah habis dalam satu jawaban yang telah disediakan sebelumnya. Dengan demikian, manusia dapat kembali menjadi hic homo qui intelligit —ini subjek konkret yang berpikir— dan bukan sekadar hic homo qui delegat — manusia yang menyerahkan pikirannya kepada otoritas eksternal.
AI tidak harus dihapus dari dunia manusia, tetapi harus ditempatkan kembali dalam batas instrumentalnya. Mesin dapat membantu kerja intelektual manusia, tetapi ia tidak boleh menggantikan ruang batin tempat pemahaman, pertimbangan, dan keputusan yang bijaksana dan adil diambil.
Kritik terhadap Humanisme Teknologis
Kritik kita pada akhirnya mengarah kepada diagnosis yang lebih luas mengenai krisis humanisme modern. AI hanyalah bentuk teknologi yang paling mutakhir dari suatu proses yang telah berlangsung lama: pemisahan pengetahuan dari pengalaman, kecerdasan dari kebijaksanaan, dan keputusan dari tanggung jawab.
Dalam proses ini, manusia semakin bergantung pada sistem-sistem impersonal yang mengklaim mampu mengetahui dan memutuskan secara lebih cepat, objektif, dan efisien. Namun, efisiensi tidak identik dengan kebijaksanaan, dan kemampuan menghasilkan jawaban tidak identik dengan kemampuan memahami.
AI dapat mempercepat produksi teks, mengorganisasi informasi, dan menyusun alternatif tindakan. Akan tetapi, semua kemampuan tersebut tidak dapat membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk menafsirkan, menilai, dan memutuskan. Justru semakin kuat perangkat artifisial, semakin besar kebutuhan manusia akan imajinasi dan kebajikan intelektual.
Persoalan utama AI, dengan demikian, bukan bahwa mesin telah menjadi terlalu cerdas, melainkan bahwa manusia bersedia menjadi kurang cerdas. Ancaman terbesar bukanlah munculnya intelek artifisial, melainkan lenyapnya subjek yang mampu menghubungkan intelek dengan imajinasi, pengetahuan dengan kebijaksanaan, dan keputusan dengan tanggung jawab.
Oleh karena itu, perlawanan terhadap dominasi AI harus dimulai dari pemulihan kemampuan manusia untuk ‘membayangkan’ dan ‘berpikir.’ Dalam arti demikian, imajinasi bukan lawan dari intelek. Imajinasi adalah jalan yang memungkinkan intelek menjadi manusiawi.
Dan intelligent virtue bukanlah kualitas yang dapat sepenuhnya dipindahkan kepada mesin. Ia lahir dari subjek yang menjalani pengalaman, menghadapi ketidakpastian, mempertimbangkan yang baik, dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.










