OPINI  

Setelah 121 Tahun Keuskupan Agung Merauke

Agustinus Gereda Tukan, Dosen Bahasa, Logika, dan Filsafat STK Santo Yakobus Merauke. Foto: Istimewa

Oleh Agustinus Gereda Tukan

Dosen Bahasa, Logika, dan Filsafat STK Santo Yakobus Merauke

PADA 14 Agustus 2026, Gereja Katolik di Papua Selatan mengenang 121 tahun perjalanan Keuskupan Agung Merauke dengan segala jejak pelayanan yang tumbuh melalui paroki, sekolah, karya sosial, pendidikan iman, dan beragam bentuk kehadiran di tengah umat.

Perayaan ini tidak hanya mengajak kita menghitung panjang sejarah, tetapi juga menimbang kenyataan bahwa usia sebuah Gereja tidak selalu menjadi tanda kedalaman iman.

Sebab yang lebih penting adalah perubahan yang berlangsung dalam diri umat ketika Injil berjumpa dengan kehidupan sehari-hari. Pada titik ini pertanyaan sederhana tetapi mendasar layak diajukan: ‘setelah 121 tahun, apa yang sungguh berubah dalam diri umat karena Kristus hadir di Papua Selatan?’

Menghitung Usia: Menghargai Sejarah dan Warisan Iman

Usia 121 tahun Keuskupan Agung Merauke layak disyukuri bukan semata karena panjangnya perjalanan, melainkan karena menyimpan jejak para misionaris, imam, biarawan-biarawati, katekis, guru, dan umat.

Mereka setia melayani, bahkan ketika perjalanan menuju komunitas-komunitas jauh menuntut tenaga, keberanian, dan ketekunan. Di balik perjalanan itu terdapat kisah sederhana yang kerap luput dari catatan.

Misalnya katekis yang tetap mendampingi umat ketika misionaris belum tiba atau guru yang bertahan di tempat terpencil agar anak-anak tetap belajar dan mengenal iman, sehingga sejarah Gereja dibentuk pula oleh kesetiaan manusia biasa yang bekerja dalam senyap.

Karena itu, Keuskupan Agung Merauke hari ini bertumpu pada pengorbanan generasi terdahulu, sementara sejarah tidak cukup dikenang sebagai kejayaan. Ia perlu dibaca sebagai modal untuk memahami perjalanan, menemukan maknanya bagi masa kini, dan melangkah menuju masa depan.

Menimbang Buah: Ketika Identitas Katolik Bertemu Kehidupan Nyata

Menjadi Katolik memiliki dimensi sakramental yang penting, tetapi identitas itu memperoleh maknanya ketika iman berjumpa dengan kehidupan konkret. Sebab seseorang dapat tekun mengikuti Ekaristi, menerima sakramen, berdoa, dan terlibat dalam kegiatan Gereja.

Namun, kedalaman iman justru tampak ketika ia berhadapan dengan orang yang berbeda kepentingan, pandangan, latar belakang, atau bahkan pernah melukainya. Termasuk ketika perbedaan itu muncul dalam keluarga, lingkungan maupun kehidupan sosial yang berbeda dan terus berubah zaman.

Di situlah wajah iman menemukan cerminnya. Sebab ketika kekerasan menyisakan korban, konflik memecah hubungan, dendam diwariskan dalam ingatan keluarga, ketidakpedulian menjauhkan penderitaan sesama atau martabat manusia dikorbankan demi kepentingan tertentu.

Juga pertanyaan tentang buah iman hadir dalam kehidupan sehari-hari, mengingat Yesus berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pertanyaan itu bukan dakwaan terhadap umat atau penyangkalan atas kebaikan yang telah tumbuh, melainkan ruang bagi Gereja untuk membaca kenyataan dengan rendah hati.

Sebab evangelisasi bukan pekerjaan yang selesai ketika seseorang menjadi Katolik, melainkan perjalanan ketika Injil terus membentuk hati, pilihan, relasi, tanggung jawab, dan cara manusia memperlakukan sesamanya dalam kehidupan bersama.

Dari Gereja yang Hadir ke Gereja yang Mengubah

Kehadiran Gereja selama 121 tahun mengajak kita melihat sesuatu yang melampaui jumlah bangunan, lembaga, dan kegiatan, yakni apakah iman telah mengubah cara umat menjalani kehidupan.

Sebab Gereja yang hidup tidak hanya tampak dalam perayaan liturgi tetapi juga ketika seorang ayah memilih berdialog daripada membentak, seorang ibu tidak mewariskan luka kepada anak atau seorang anak menghormati teman yang berbeda.

Transformasi itu bermula dari rumah sebagai ruang pertama pertumbuhan iman. Sementara sekolah Katolik menjadi tempat pengetahuan bertemu pembentukan watak melalui kebiasaan berkata benar, mengakui kesalahan, dan menghargai sesama, sehingga iman bergerak dari pengetahuan tentang Kristus menuju pengalaman menghidupi nilai-nilai-Nya.

Di paroki, wajah Gereja terlihat bukan hanya dari banyaknya agenda, tetapi dari kualitas perjumpaan ketika orang yang berselisih masih mampu duduk bersama, mendengarkan, dan menemukan kembali persaudaraan. Sebab kasih Kristiani justru diuji ketika berhadapan dengan mereka yang tidak mudah dikasihi.

Ketika nilai Injil kemudian hadir di pasar, tempat kerja, kampung, ruang usaha, kehidupan publik, dan percakapan sehari-hari, iman tidak lagi berjarak dari kenyataan. Sebaliknya, ia menjadi cara hidup yang membuat kehadiran Gereja semakin terasa dalam kehidupan bersama.

Pengampunan sebagai Salah Satu Ukuran Kedewasaan

Pengampunan menjadi salah satu cermin kedewasaan iman, bukan karena orang beriman bebas dari luka, melainkan karena luka tidak harus berakhir sebagai dendam. Misalnya seseorang yang kehilangan kepercayaan kepada saudaranya masih dapat membuka ruang percakapan tanpa menyangkal kesalahan yang pernah terjadi.

Mengampuni bukan berarti membenarkan kekeliruan atau menghapus kebutuhan akan keadilan. Sebaliknya menolak membiarkan luka berkembang menjadi kebencian.

Sebab keadilan dan rekonsiliasi dapat berjalan bersama, sementara Gereja yang dewasa bukan Gereja tanpa konflik, melainkan komunitas yang mampu menghadapi perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menghancurkan.

Dalam konteks ini, refleksi Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC tentang adanya orang Katolik yang masih melakukan kekerasan dapat dibaca sebagai pemantik pemeriksaan batin.

Bukan kesimpulan tentang seluruh umat, karena pertanyaan yang lebih luas menyentuh perjalanan evangelisasi: ‘sejauh mana iman yang dirayakan telah menjadi kekuatan untuk memutus mata rantai luka, dendam, dan kekerasan dalam kehidupan bersama?’

Melampaui 121 Tahun: Gereja yang Bertumbuh Dewasa

Setelah 121 tahun, pertanyaan penting bagi Keuskupan Agung Merauke bukan lagi berapa banyak karya yang telah berdiri, melainkan manusia seperti apa yang tumbuh dari perjalanan itu.

Sebab sejarah yang panjang dan karya yang luas menemukan kedalamannya ketika iman membentuk watak umat dalam menerima perbedaan, menghadapi persoalan, dan menjalani tanggung jawab di tengah masyarakat.

Masa depan Gereja dapat dibaca melalui pergeseran dari banyaknya karya menuju kuatnya kesaksian, ketika kasih, pengampunan, perdamaian, keadilan, penghormatan terhadap kehidupan, dan kepedulian terhadap ciptaan tidak berhenti sebagai bahasa liturgi atau wacana. Ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang perlahan membentuk wajah kehidupan bersama.

Pada titik itu, usia 121 tahun menjadi perjalanan menuju kematangan. Gereja yang dewasa bukan Gereja yang merasa telah selesai, melainkan yang terus bertumbuh bersama umat, membaca perubahan zaman tanpa kehilangan Kristus sebagai pusat, dan menghadirkan Injil melalui kesaksian hidup yang semakin nyata.

Usia 121 tahun layak dikenang dengan syukur sekaligus keberanian bercermin. Sebab sejarah mengajak berterima kasih, sementara kenyataan membuka ruang bagi pertobatan dan pembaruan.

Dengan demikian, masa depan Keuskupan Agung Merauke tidak terutama ditentukan oleh panjang usia atau luas karya, melainkan kedalaman transformasi iman yang tampak dalam kehidupan umat.

Dan pertanyaan akhirnya bukan sekadar apa yang telah dibangun selama 121 tahun, melainkan: “Jika 121 tahun adalah usia yang telah kita hitung, buah apakah yang kini dapat kita tunjukkan?”

Sebab Gereja yang dewasa bukan Gereja yang merasa telah selesai, melainkan yang terus membiarkan Kristus mengubah dirinya agar kehadirannya semakin terasa dalam kehidupan manusia. (*)