OPINI  

Festival Etnik Religi Tolikara: Kembali ke Iman dan Budaya Leluhur

Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev, Birokrat dan Pemerhati Pembangunan Papua. Foto: Istimewa

Oleh Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev

Birokrat dan Pemerhati Pembangunan Papua

FESTIVAL Etnik Religi Tolikara Tahun 2026 berlangsung Rabu-Kamis (12–13/8) di Distik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan. Pada Kamis (13/8) festival berakhir sukses. Selama dua hari berlangsung festival masyarakat dari kampung-kampung di seluruh distrik di Tolikara berbondong-bondong ambil bagian dalam festival dan menyaksikan berbagai sajian atraksi seni-budaya, pameran aneka kerajinan khas, penampilan tarian khas daerah.

Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos secara resmi menutup festival perdana kebanggaan pemerintah dan masyarakat. Dua hari festival terasa singkat, tetapi ada banyak cerita dan pesan yang dapat dibawa pulang. Festival Etnik Religi ini bukan sekadar sebuah parade seni dan budaya sarat nuansa religi kebanggan pemerintah atau acara hiburan masyarakat. Di dalamnya ada pula niat dan usaha mengangkat kembali nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah terutama iman mula-mula yang tumbuh di lembah Toli (swart valley).

Ketika masyarakat berkumpul, menari, menyanyi dan mengenakan pakaian adat, kita semua warga Tolikara diajak melihat kembali ziarah perjalanan panjang orang Tolikara. Ada generasi tua yang masih mengingat kehidupan dahulu, ada generasi muda yang sedang mencari jati dirinya, dan ada anak-anak yang mungkin baru pertama kali melihat sebagian dari kekayaan budaya leluhurnya ditampilkan dalam sebuah festival seni-budaya kolosal.

Festival yang Menarik dan Unik

Festival ini mempertemukan budaya dan iman: entitas yang sesungguhnya sudah lama hidup berdampingan di tengah masyarakat sejak dahulu. Budaya dan iman yang menyertai ziarah perjalanan sejak dari leluhur orang Tolikara hingga generasi saat ini bukan untuk dipertentangkan. Budaya mengingatkan kita dari mana kita berasal, sedangkan iman menuntun kita ke mana kehidupan harus diarahkan.

Jauh sebelum pembangunan modern masuk ke pegunungan Papua, masyarakat sudah mempunyai cara hidup sendiri. Ada honai sebagai tempat tinggal dan tempat berbicara bersama. Ada bahasa daerah, tarian, nyanyian, pakaian tradisional, cara berkebun, cara menghormati orang tua, cara menerima tamu serta kebiasaan menyelesaikan persoalan melalui pertemuan bersama.

Semua itu merupakan kekayaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Kemudian Injil datang ke Lembah Toli. Kehadiran Injil membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Para pemberita Injil datang melewati gunung, lembah dan berbagai kesulitan pada masa itu. Dari perjalanan tersebut masyarakat perlahan mengenal kehidupan baru dalam iman Kristen.

Karena itu, ketika kita berbicara mengenai sejarah Tolikara, kita tidak bisa memisahkan perjalanan masyarakat dari sejarah masuknya Injil. Gereja kemudian bertumbuh bersama masyarakat. Pendidikan berkembang. Pelayanan kesehatan mulai dikenal. Anak-anak mulai bersekolah dan generasi baru mulai melihat dunia yang lebih luas.

Tetapi kemajuan zaman juga membawa tantangan. Anak-anak sekarang hidup di tengah kemajuan akses teknologi dan informasi lewat internet yang memudahkannya menggunakan telepon genggam (handphone) dan media sosial seperti Email, Facebook, Twitter, WhatsApp, Telegram, dan lain-lain. Mereka mengenal dunia dengan sangat cepat. Informasi dari luar masuk setiap hari. Semua itu tentu merupakan bagian dari kemajuan yang tidak dapat dihindari.

Pertanyaan Reflektif

Namun pertanyaannya sederhana: di tengah kemajuan itu, apakah anak-anak kita masih mengenal sejarahnya sendiri? Apakah mereka masih mengetahui bahasa daerahnya? Apakah mereka mengetahui arti honai, tarian, pakaian adat dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan orang tua? Apakah mereka mengetahui bagaimana Injil pertama kali masuk dan bertumbuh di swart valley?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat Festival Etnik Religi menjadi penting. Festival Etnik Religi seharusnya bukan sekadar parade seni-budaya dua hari lalu selesai dan panggung dibongkar. Festival ini harus menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia tidak sekadar berbicara mengenai jalan, jembatan, gedung, uang dan teknologi. Pembangunan juga berbicara tentang manusia dan jati dirinya.

Kita boleh membangun jalan sampai ke distrik dan kampung. Kita boleh membangun sekolah, rumah sakit, jaringan telekomunikasi dan berbagai fasilitas modern. Semua itu sangat dibutuhkan masyarakat. Tetapi bersamaan dengan pembangunan fisik, kita juga harus membangun manusia yang mengenal Tuhan, menghargai adatnya, mencintai budayanya dan mengetahui sejarah daerahnya.

Sebab kemajuan tanpa identitas akan membuat generasi kehilangan arah. Karena itu, hemat penulis festival etnik religi ini sebagai ruang untuk mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu memberikan kita sejarah dan identitas. Masa kini memberikan kesempatan untuk menjaga dan mengembangkannya. Sedangkan masa depan menjadi tanggung jawab kita untuk menyerahkan nilai-nilai itu kepada anak cucu.

Pelajaran Penting

Apa yang ditampilkan dalam festival harus menjadi bahan pembelajaran. Kisah masuknya Injil di Lembah Toli perlu terus ditulis dan diceritakan. Tokoh-tokoh gereja, adat dan orang-orang tua yang mengetahui sejarah perlu didengar keterangannya sebelum sumber sejarah itu perlahan-lahan hilang.

Tarian tradisional juga perlu didokumentasikan. Bahasa daerah harus terus digunakan dan diajarkan. Cerita rakyat, nyanyian, bentuk pakaian adat, cara membangun honai dan berbagai pengetahuan lokal lainnya harus dicatat dengan baik.

Dengan demikian, festival tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi warisan pengetahuan. Agama, adat dan pemerintah mempunyai ruang masing-masing, tetapi ketiganya dapat berjalan bersama dalam membangun masyarakat.

Gereja membangun iman dan karakter. Adat menjaga identitas, nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Pemerintah menyediakan pelayanan serta mendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Apabila ketiganya berjalan bersama, kita mempunyai kekuatan besar untuk membangun Tolikara.

Di dalam budaya orang Papua, banyak persoalan dahulu diselesaikan dengan duduk bersama. Orang berbicara, mendengar dan mencari jalan keluar. Nilai seperti ini tetap relevan sampai sekarang. Kita mungkin hidup dalam zaman modern, tetapi semangat kebersamaan tidak boleh hilang.

Festival Etnik Religi mengingatkan kembali bahwa perbedaan distrik, klasis, kampung, suku maupun latar belakang tidak harus membuat kita berjalan sendiri-sendiri. Kita berada di rumah besar yang sama, yaitu Tolikara. Karena itu, saat Festival Etnik Religi selesai dan ditutup secara resmi bukanlah akhir dari cerita.

Justru dari sinilah pekerjaan berikutnya dimulai. Apa yang telah ditampilkan perlu dikembangkan. Festival berikutnya dapat dibuat lebih baik, lebih tertata dan lebih banyak melibatkan generasi muda. Sekolah-sekolah dapat mengambil bagian. Gereja, pemerintah, tokoh adat, perempuan dan pemuda dapat bersama-sama menyiapkan materi budaya dan sejarah dari wilayah masing-masing.

Agenda Wisata Budaya dan Religi

Festival Etnik Religi juga mempunyai peluang menjadi agenda pariwisata budaya dan religi Tolikara. Orang dari luar dapat datang bukan hanya untuk melihat pemandangan pegunungan, tetapi juga mengenal cerita masyarakatnya, sejarah Injil, kehidupan adat, seni, tarian dan keramahan masyarakat.

Dengan demikian, budaya yang kita jaga tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat melalui kerajinan, kuliner lokal, usaha mikro,kecil dan menengah serta kegiatan pariwisata lainnya. Pada akhirnya, Festival Etnik Religi membawa kita kembali kepada satu pesan sederhana: jangan melupakan dari mana kita berasal.

Kita berasal dari lembah dan gunung yang menyimpan sejarah panjang. Kita dibesarkan oleh adat yang mengajarkan kebersamaan. Kita bertumbuh dalam iman yang diwariskan oleh generasi terdahulu. Sekarang kita hidup dalam zaman pembangunan dan teknologi. Semua itu tidak perlu dipertentangkan.

Anak Tolikara dapat menjadi manusia modern tanpa kehilangan budayanya. Anak Tolikara dapat berpendidikan tinggi tanpa melupakan kampungnya. Anak Tolikara dapat pergi ke berbagai tempat di Indonesia bahkan dunia, tetapi tetap mengetahui sejarah Lembah Toli. Dan yang paling penting, kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan iman.

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 telah membuka ruang itu. Dua hari telah berlalu, panggung akan dibongkar dan masyarakat kembali ke distrik serta kampung masing-masing. Namun pesan festival jangan ikut selesai.

Biarlah cerita tentang Lembah Toli terus bergaung tidak hanya di tanah Papua tetapi juga ke seluruh pelosok dunia. Biarlah adat dan budaya tetap hidup. Biarlah generasi muda mengenal sejarahnya. Dan biarlah iman yang dahulu tumbuh di lembah ini tetap menjadi terang bagi perjalanan masyarakat Tolikara.

Budaya boleh mengikuti perkembangan zaman tetapi jati diri jangan hilang. Pembangunan boleh bergerak maju tetapi sejarah jangan dilupakan. Dan di atas semuanya iman harus tetap menjadi dasar kehidupan.

Itulah makna yang dapat kita bawa pulang dari Festival Etnik Religi Tolikara 2026: kembali mengenal akar, menjaga budaya, menguatkan iman dan berjalan bersama membangun masa depan Tolikara.