Oleh Ernest Pugiye
Guru SMAN 1 Dogiyai, Papua Tengah
KEHIDUPAN manusia adat di tanah Papua tidak pernah bisa dilepaskan dari kehangatan ruang budaya dan hutan adat yang sejatinya merupakan manifestasi konkret dari dunia ide yang luhur dan abadi.
Ruang transendental-imanensial ini menjadi pusat berseminya peradaban lokal Papua tempat segala kebaikan, keindahan, dan kebenaran sejati diilhamkan oleh Sang Pencipta melalui garis keturunan leluhur lintas generasi hingga kini.
Di sanalah napas keberlanjutan hidup dirawat secara konsisten melalui nyala bara yang tak kunjung padam. Tungku api adalah manifestasi ke-Papua-an yang mengaktualisasikan Kerajaan Pencipta Yang Maha Kudus, Maha Mulia, dan Maha Baik bagi alam semesta serta manusia ciptaan-Nya.
Dalam pemikiran teologis-filosofis Papua, Kerajaan Keabadian didefinisikan sebagai terwujudnya tatanan pemeliharaan hubungan harmonis secara utuh antara manusia, tanah adat, jutaan leluhur Papua, dan Sang Pencipta. Kerajaan kedamaian abadi ini telah dibangun, diwariskan, serta dipelihara sejak awal penciptaan alam semesta hingga hari ini sebagai fondasi keselamatan holistik.
Kerajaan Pencipta dalam wujud ketungkuapian keluarga Allah di Papua secara kodrati mengandung keterhubungan relasi vertikal dan horizontal yang tak terputus antara realitas jasmani dan rohani. Keterhubungan relasi Ilahi itu terpatri dalam kesatuan manusia dan segenap ciptaan dengan Sang Pencipta yang terpancar dari tungku api setiap keluarga.
Menurut prinsip Gerakan Tungku Api Keuskupan Timika, tungku api didefinisikan sebagai takhta iman keluarga yang menyatukan persekutuan hidup doa, perlindungan hak-hak kepemilikan adat, serta pengolahan kebun dan ternak babi demi ketahanan hidup yang damai, rukun dan bermartabat Papua.
Tungku api adalah tempat bertemunya poros iman, akar budaya, dan kedaulatan tanah adat yang memancarkan cahaya kebenaran Ilahi ke dalam jiwa-raga manusia Papua.
Altar Sakral dan Takhta Keabadian
Merujuk pada definisi di atas, tungku api senantiasa dihayati sebagai altar sakral dan takhta keabadian yang diwariskan secara bertahap dari generasi tua ke generasi muda dalam semangat ajaran-ajaran hukum adat dan para leluhur bangsa West Papua.
Keberadaannya menjadi pusat pembentukan karakter, tempat keabadian keluarga berkumpul untuk merawat persekutuan, membagikan nasihat kehidupan, serta merencanakan kerja bersama di atas tanah adat secara mandiri.
Melalui kehangatan persekutuan di sekitar lingkaran api, nilai-nilai kedamaian, persaudaraan, dan keberlanjutan hidup ditanamkan secara konkret agar manusia Papua sanggup hidup dan berkarya secara berdikari dalam kepenuhan kehendak Allah Tritunggal yang menyatu dengan akar budaya lokal.
Kondisi tungku api keluarga yang begitu nampak ilahi ini senantiasa dihayati dan diwujudkan dalam kesatuan utuh antara diri, kehidupan, serta karya manusia Papua bersama tanah adat dan penyertaan jutaan leluhur.
Realitas imanen Ilahi dalam keseharian hidup komunal manusia Papua di sekitar tungku api memancarkan keagungan transendental yang melampaui batas ruang dan waktu.
Dari takhta transendental Pencipta itulah ilham kesucian dan kebenaran abadi mengalir menembus ruang-ruang imanen-kerohanian Papua, mengarahkan setiap tindakan, tatanan adat, serta keputusan hidup masyarakat Papua agar tetap selaras dengan kehendak Sang Pencipta.
Oleh karena itu, tungku api keluarga berfungsi melampaui sekadar sarana fisik pengolah pangan atau penghangat raga, melainkan bertindak sebagai substansi tunggal tempat berseminya rasionalitas, teologi, dan filsafat hidup West Papua.
Sementara itu, hidup sejati dirumuskan sebagai suatu kondisi keselarasan yang utuh ketika manusia Papua mampu menginternalisasikan nilai-nilai luhur tungku api guna menjaga kemuliaan harkat, martabat ke-Papua-an, dan kedaulatan atas tanah air leluhurnya.
Kendati demikian, pergeseran zaman kini mulai mengikis kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya memelihara fondasi filosofis-spiritual yang amat berharga tersebut.
Pandangan Uskup Saklil
Di tengah arus modernisasi yang kian deras menjangkau pelosok nusantara dan peradaban Gereja Semesta, pandangan visioner almarhum Mgr John Philip Saklil, Pr hadir memberikan pencerahan yang sangat mendasar bagi perlindungan hak-hak warisan kepemilikan masyarakat pribumi Papua.
Dalam keseluruhan karya pastoralnya di bumi Papua, sosok rohaniwan Gereja Universal sekaligus penggagas Gerakan Tungku Api ini telah membumikan misi luhur tungku api iman, kebebasan, serta kedaulatan manusia.
Warisan gagasan mendalam mengenai tungku api keluarga harus terus digali guna memulihkan martabat serta kemandirian hidup masyarakat di tanah kelahirannya. Namun, upaya pemuliaan nilai-nilai lokal kerap menghadapi tantangan berat akibat maraknya pengalihfungsian lahan produktif yang merusak tatanan kehidupan komunal.
Artikulasi pemikiran dan penghayatan hidup di seluruh aspek ini menjadi sangat krusial untuk digaungkan kembali sebagai panduan moral-spiritual dalam menghadapi krisis eksistensial.
Pada hakikatnya, tungku api merupakan fondasi terpenting tempat berawalnya seluruh proses pembentukan karakter, sistem nilai, serta pewarisan dan ketahanan pangan lokal masyarakat pribumi. Di sanalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Pencipta bermula dan dihayati bersama oleh semua anggota keluarga Allah.
Tungku api keluarga Allah menjadi irama utama kedaulatan, martabat mulia dalam kerangka hidup Allah, serta kehangatan persekutuan yang menyatukan seluruh anggota keluarga dalam ikatan persaudaraan yang amat erat.
Ketika Kerajaan Keabadian dari jutaan leluhur bersama Pencipta telah mengilhami ruang-ruang imanen bercorak rohani di bumi Papua, para orang tua mewariskan kearifan lokal, nasihat-nasihat kehidupan sejati, serta keterampilan bertahan hidup kepada generasi penerus melalui kepulan asap, ajaran leluhur, dan kehangatan bara api yang membara setiap hari.
Keberadaan tungku api keluarga tersebut menjamin keberlanjutan kemuliaan martabat manusia serta kemandirian komunal secara utuh sesuai kehendak Pencipta di bumi Papua.
Secara kosmologis dan ontologis, pemikiran filosofis Papua menempatkan tungku api sebagai rahim sosial sekaligus ruang-ruang imanen bercorak rohani yang menghubungkan ikatan darah kita dari 252 suku di Papua, hukum adat, serta ikatan keheningan relasi spiritual generasi tua terdahulu dan generasi kita sekarang dengan Sang Pencipta.
Kehadiran Ilahi dirasakan oleh setiap individu dalam seluruh dimensi kehidupan. Lantaran pancaran Ilahi dari Kerajaan Keabadian senantiasa menembus dan menjiwai ruang imanen dalam keseharian masyarakat pribumi, falsafah hidup luhur dipraktikkan, diajarkan, serta dihidupi secara konkret oleh setiap orang di sekitar lingkaran nyala api keluarga.
Kehangatan bara api keluarga senantiasa memancarkan kasih, kerukunan, dan kedamaian, serta menjadikan tungku api tetap menyala dan digunakan sebagai tempat kita musyawarah adat guna menyelesaikan berbagai pesoalan hidup, merumuskan hidup yang dikehendaki Allah, sekaligus ruang persekutuan doa dan karya yang murni antaranggota komunal lintas suku.
Spiritualitas kehadiran yang berpusat pada tungku api keluarga ini menjadi benteng moral terkuat yang memelihara nilai-nilai kemanusiaan, kesempurnaan hidup, kedamaian, kebaikan dan keharmonisan peradaban masyarakat pribumi.
Namun demikian, penetrasi budaya luar yang tidak tersaring serta masuknya pola hidup konsumtif telah merusak tatanan nilai luhur yang semula tertanam kuat di sekitar tungku api keluarga di West Papua.
Kerusakan terjadi secara sistematis ketika kebijakan publik mengabaikan kebutuhan nyata serta hak-hak dasar tanah adat Papua. Banyak keluarga mulai meninggalkan kebiasaan berkumpul dan berdiskusi di sekitar tungku api keluarga karena tergiur oleh daya tarik modernisasi yang serba praktis namun semu. (Bagian pertama)









