OPINI  

Merawat Hidup Sejati dari Tungku Api (2)

Ernest Pugiye, Guru SMAN 1 Dogiyai, Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh Ernest Pugiye

Guru SMAN 1 Dogiyai, Papua Tengah

KATERASINGAN masyarakat dari tungku api diperparah oleh maraknya perampasan wilayah adat oleh kekuatan korporasi dan regulasi eksploitatif dari negara Indonesia.

Dalam peristiwa perusakan kekayaan adat dan tanah sakral di 7 wilayah adat serta 252 suku bangsa di Papua, keterhubungan antara Kerajaan Keabadian dan ruang-ruang imanen bercorak rohani mengalami retakan yang sangat serius.

Hilangnya fungsi tungku api berakibat langsung pada terwujudnya kondisi struktural yang melemahkan daya tahan sosial, kerapuhan ekonomi keluarga, serta lunturnya identitas kultural masyarakat pribumi secara total.

Secara kritis, materialisme-individualisme radikal dalam gaya hidup modern beroperasi sebagai sarana komodifikasi yang mengasingkan generasi muda Papua dari akar keagamaan, budaya dan nilai kemanusiaannya.

Pemiskinan kesadaran kelas ini memicu krisis eksistensial sekaligus melumpuhkan daya kritis mereka dalam menghadapi adanya struktur pembangunan kolonialisme dari negara di Papua.

Dominasi oligarki pusat, kekuatan militerisme, serta maraknya pelanggaran HAM pada akhirnya merusak tanah adat sebagai pengatur tatanan kedamaian alamiah. Kebersamaan kita sebagai keluarga manusia Ilahi mulai makin terasing dari ikatan warisan kemisterian hidup jutaan leluhur akibat kesibukan pribadi dan penggunaan media digital secara berlebihan.

Pemutusan ruang-ruang imanen kesejatian Papua dari naungan kekuasaan Kerajaan Keabadian Pencipta di Papua terjadi tatkala tungku api keluarga dan tanah adat kita mulai tidak lagi dihidupkan.

Kondisi tersebut membuat rumah tangga rentan kehilangan arah moral hingga dikondisikan dalam gelombang kekerasan oleh pemerintah dan aneka korporasi di Papua. Dampak krisis spiritual ini meluas hingga merenggangkan relasi emosional, memicu perpecahan sosial serta mengancam keretakan kesatuan bangsa.

Pudarnya spiritualitas tungku api keluarga telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang parah di dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, hingga berbangsa dan bernegara.

Pusat Pembentukan Karakter dan Spritualitas Papua

Oleh sebab itu, pemulihan fungsi tungku api sebagai pusat pembentukan karakter, spritualitas Papua dan kedaulatan hidup kita harus dijalankan kembali secara sungguh-sungguh melalui gerakan penyadaran komunal.

Nilai-nilai sakral tungku api harus tetap diwartakan dan dihayati oleh setiap individu di dalam pelbagai persekutuan umat beriman pada tingkat stasi maupun paroki. Konsistensi menjadi kunci utama untuk membangun kembali pilar-pilar tungku api pada setiap persekutuan lokal.

Tatkala penyadaran komunal berhasil menghidupkan kembali ruang imanen bercorak rohani di bawah naungan Kerajaan Keabadian Maha Kuasa Pencipta, upaya memuliakan dan menghayati makna tungku api akan mampu mengintegrasikan kembali kearifan adat ke dalam tata hidup serta pengelolaan kedaulatan keluarga secara rukun dan damai.

Dengan mendudukkan kembali tungku api keluarga sebagai jantung kehidupan sejati, masyarakat akan memiliki benteng pertahanan spiritual yang kokoh dalam menghadapi arus perubahan zaman.

Kesadaran baru ini mampu melahirkan kembali generasi Papua yang mandiri, beradab luhur, serta berakar kuat pada nilai-nilai leluhurnya dan sekaligus akan bertindak secara global sesuai asas-asas keadilan dan kebenaran.

Mendasarkan pada pemikiran Uskup Timika mendiang Mgr John Philip Saklil, proses membangun hidup sejati diawali dari kemandirian diri dan keluarga yang menuntut pemenuhan kebutuhan dasar hidup secara berdikari.

Kehormatan manusia Papua mulai dibangun secara bersama dalam ruang Gereja dan budaya Papua ini. Setiap keluarga wajib memiliki rumah adat tersendiri, mengolah kebun milik sendiri, serta mengelola kandang ternak babi sebagai basis ketahanan sosial dan sakramentalitas ekonomi secara mandiri.

Saat keagungan Kerajaan Keabadian Pencipta menjiwai ruang-ruang imanen bercorak rohani di dalam rumah tangga, dasar-dasar bangunan kehidupan sejati Papua ini mensyaratkan agar anak-anak mampu menginternalisasikan sekaligus menghayati nilai-nilai adat serta tradisi luhurnya dalam seluruh perwujudan praktis kehidupan sehari-hari.

Ketangguhan unit keluarga menjadi fondasi paling mendasar agar masyarakat tidak mudah goyah atau menggantungkan nasibnya pada struktur kekuatan luar. Fondasi membangun hidup sejati bagi manusia Papua juga bisa diperkokoh melalui kemandirian iman yang menuntut penyerahan diri secara utuh kepada Sang Pencipta di tengah pusaran tantangan zaman dan pelbagai kebijakan pusat negara yang mengancam eksistensi West Papua.

Radikalitas iman Kristologis menjadi tumpuan serta harapan hidup yang menolak segala bentuk perusakan terhadap martabat manusia Papua sebagai citra Allah. Tatkala pancaran kebenaran dari Kerajaan Keabadian Maha Pencipta mengilhami ruang-ruang imanen bercorak Rohani Papua, nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di sekitar tungku api keluarga harus mampu membentuk kedewasaan iman yang tidak gampang terombang-ambing oleh pengajaran profan atau pengaruh asing.

Penghayatan iman yang mendalam memberikan arah moral serta keberanian profetis bagi masyarakat untuk memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan perdamaian di tanah adat Papua.

Kemandirian iman ini melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh, berpendirian kokoh, serta senantiasa menjadikan kehendak Ilahi sebagai kompas moral utama dalam bertindak. Maka orang-orang Papua telah lama berkomitmen untuk membangun tanah adatnya yang sudah dikehendaki oleh Allah Tritunggal khas Papua.

Puncak dari ikhtiar membangun hidup sejati diwujudkan melalui kemandirian budaya yang mencakup kemampuan setiap suku dan marga dalam menjaga kedaulatan warisan leluhurnya secara utuh. Budaya adalah manifestasi identitas diri dan tanah adat Papua.

Ketika ruang-ruang imanen bercorak rohani Papua dan ke-Papua-an itu telah terhubung secara sakramental dengan Kerajaan Keabadian Pencipta, maka setiap suku dan marga wajib menjaga tanah adatnya secara alamiah, merawat artefak budaya, serta mewariskan tanah sakral tanpa perusakan sedikit pun kepada generasi mendatang.

Kemandirian hidup berbudaya Papua dari semua keluarga dan 152 suku bansanya pada kodratnya telah bertugas melahirkan pengetahuan inkulturatif baru khas Papua, memproteksi nilai-nilai luhur, dan menghayati hukum adat hingga akhirnya mampu membangun peradaban Papua yang bermartabat adat. Pemuliaan atas akar kultural ini menjadi perisai spiritual utama agar identitas serta eksistensi masyarakat pribumi tetap lestari melintasi zaman.

Gempuran modernisasi dan tekanan ekonomi global kini mengancam keberlanjutan upaya manusia Papua dalam membangun hidup sejati. Kerentanan eksistensial kian membesar. Kebiasaan memiliki rumah adat, kebun, dan ternak babi mulai memudar akibat pergeseran gaya hidup materialistis serta maraknya perusakan tanah sakral demi kepentingan politik-ekonomi.

Negara dan aneka korpasi masih tetap mendapat ruang utama untuk menghancurkan eksistensi Papua. Retaknya relasi antara Kerajaan Keabadian dan ruang-ruang imanen bercorak rohani Papua bahkan telah akibat tindakan kejahatan negara dan aneka korporasi dalam berbagai bentuk akan tetap memicu pudarnya penghayatan iman.

Juga hukum adat di kalangan generasi muda, sehingga pewarisan tradisi kebenaran berpotensi terputus dan meruntuhkan tatanan komunal. Pembiaran terhadap degradasi nilai-nilai adat ini tidak hanya menghancurkan kemandirian ekonomi keluarga, tetapi juga menyeret masyarakat Papua pada krisis identitas dan desolasi spiritual di tanahnya sendiri.

Guna membentengi keberlanjutan peradaban Papua, gerakan pembaruan komunal harus diwujudkan kembali secara nyata melalui penguatan lembaga adat dan unit keluarga dalam semangat sinergi visi-misi Dewan Adat Papua di 7 wilayah adat bersama Gereja Papua. Langkah pastoral konkret ini diperlukan untuk berjalan bersama di atas norma-norma adat dan ajaran Gereja dalam misi pembangunan Papua yang damai.

Tatkala penyadaran komunal berhasil menghidupkan kembali ruang imanen bercorak rohani Papua di bawah naungan Kerajaan Keabadian Maha Mulia Pencipta bagi setiap kita dan 152 di Papua, maka setiap rumah tangga harus didorong kembali untuk mengolah kebun adat (odaa-owaadaa), membudidayakan ternak babi, merawat rumah adat, serta mendidik anak-anak agar mencintai tradisi leluhur secara mendalam.

Dengan memadukan ketahanan keluarga yang mandiri, keteguhan iman yang murni, serta pelestarian budaya yang berdaulat, masyarakat akan memiliki pilar kehidupan yang tak tergoyahkan. Tungku api di setiap rumah tangga akan terus menyalakan daya hidup sejati yang memuliakan manusia sekaligus menegakkan kejayaan peradaban Papua. (Bagian kedua, terakhir)