Honai Abadi di Ujung Sunyi
DI MANA garis peta menyerah pada bentang alam, dan aspal meleleh menjadi jejak lumpur yang basah; di sanalah belukar kabut merakap rapat, menyelimuti deretan jurang dan jalan setapak yang terjal. Di ujung sunyi itulah seorang Klitus Togodly memilih untuk meletakkan hatinya. Mengikat janji dengan rimba, menetap dalam keheningan yang panjang.
Bagi belantara dunia, pedalaman Papua mungkin hanyalah belenggu sunyi —sebuah tempat tanpa dering sinyal, tanpa kilau lampu kota, tanpa hangat aliran air dari kran yang jernih. Untuk mencapai satu helai stasi saja, langkah kaki harus menawar jarak berteman jam-jam yang letih. Menyeberangi kali berarus deras yang dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, meniti tebing-tebing licin yang menantang dada.
Di sana, waktu habis ditelan medan, tenaga pupus diimpit lelah, dan segalanya dikuras habis demi menopang jiwa-jiwa yang haus akan kehangatan Tuhan.
Namun, bagi Klitus, jerih itu bukanlah jurang pemisah. “Melayani dengan keterbatasan bukanlah hambatan,” Bisiknya pelan pada angin lembah, meneguhkan jiwa yang tak pernah sudi untuk berbalik arah.
Ia tidak memandangi kemegahan altar bermarmar indah. Kadang, Misa Kudus tergelar di bawah naungan honai yang koyak dan bocor, beralaskan tanah tempat embun menetes, beratapkan seng yang berjelaga.
Di sana, umat datang menyeret jemari kaki tanpa alas, membawa beban noken yang menempel erat di punggung. Tetapi justru di dalam gubuk bersahaja itu, matanya menyaksikan keindahan gereja yang paling murni: sebuah tempat di mana iman bernapas tanpa topeng.
Ketika tubuh-tubuh lunglai oleh sakit dan Puskesmas berada di balik berderet gunung, tangannya berubah menjadi jemari perawat. Ketika kemarau merenggut kebun dan perut-perut menjerit lapar, ia menjelma menjadi bapak yang membagi potongan singkong terakhirnya.
Ketika sengketa tanah adat membakar amarah, ia berdiri tegak menjadi jembatan damai yang meredam bara. Dan ketika sunyi melahap masa depan anak-anak di stasi terpencil, suaranya menjelma menjadi guratan ilmu seorang guru.
Sering kali suara samar berbisik menembus dingin: ” Klitus Togodly, mengapa tidak meminta suaka di riuknya kota? Di sana ada kemudahan, ada kenyamanan yang utuh.”
Ia hanya melempar senyum bersahaja, lalu menjawab lembut menembus kalbu: “Domba-dombaku bernapas di sini. Bagaimana mungkin seorang gembala tega berbalik arah, hanya karena kandangnya lapuk dan berdebu? Tugasku bukan merenda kenyamanan diri, melainkan memastikan tak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan oleh Tuhan.”
Derasnya hujan, pekatnya dingin, gigitan lapar, dan kerinduan yang mengiris pada hangatnya keluarga —semuanya ia dekap erat dalam diam. Ia bentangkan bagi umat dengan nyala semangat yang tak kunjung padam. Setiap subuh menyapa, lonceng kecil dari kaleng bekas yang sederhana bersuara, bernyanyi membelah sunyi lembah: “Mari berdoa…” Gema itu merambat di antara kabut pagi, memanggil langkah-langkah yang datang berbondong menyambut terang.
Dialah Klitus Togodly. Ia menorehkan kebenaran pada dinding belantara: pelayanan sejati tak pernah terukur dari angka-angka kolekte atau megahnya tiang gereja. Pelayanan sejati adalah tentang seberapa teguh engkau memilih bertahan dan mencintai, di saat dunia memilih untuk berpaling dan pergi.
Semangatnya adalah api yang tak terpadamkan hujan. Sebab ia tidak mengetuk panggung pujian manusia. Ia melayani karena hatinya telah tertambat penuh pada kawanannya —seperti Kristus mencintai milik-Nya hingga ke sudut belantara yang paling jauh.
Klitus Togodly adalah honai kami. Tempat jiwa-jiwa berteduh. Gembala yang setia, yang takkan pernah melangkah pergi. Wa wa wa. Tuhan memberkati pelayananmu, Klitus Togodly.
— untuk Pastor Klitus Togodly, Pr
Jayapura, Selasa, 20 Oktober 2026
Karya: Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










