ANAKKU! Hari sudah menjelang larut malam ketika sepotong tubuh larut senja bangkit menulis warkat kasih ini. Bapa merasa wajib menulisnya malam ini juga dan segera mengirimnya buatmu ketika kisah ini masih hangat berbekas dalam hati.
Saat ini ibumu dan adik-adikmu sudah tertidur pulas. Suara hati Bapa memaksa Bapa tak boleh terpejam sebelum warkat ini rampung. Anjing kesayanganmu juga sudah pulas tertidur di pojok sebelah kiri rumah dekat rumpun pisang bugis.
Kali ini Bapa hanya menceriterakan satu peristiwa yang Bapa alami hanya dalam satu hari. Mungkin cukup panjang. Tapi Bapa yakin tidak akan membosankanmu. Dan kisah ini terjadi pada 15 Mei 1985. Dalam agenda harian, Bapa mencatatnya sebagai kisah “15 Mei 1985”. Kiranya nanda dapat tercenung dan bermenung sejenak dan berdoa buat Bapa. Bapa mulai.
Dini hari. Seraya kembang-kembang merekah dan mentari tampak segan mengusik tetes embun bebungaan, aku menapaki jalanan berbatuan menuju kantor Pos dan Giro kota Lewoleba. Di tanganku kubawa formulir wessel berlangganan memohon tandatangan petugasnya.
Sedianya akan segera kukirim buatmu, sebagai bekalmu setiap bulannya di Yogyakarta sini. Aku berharap, menjelang mentari mencapai titik kulminasinya nanti aku sudah harus berada kembali di desa kita terpencil jauh di pedalaman pulau, desa Ataili.
Ternyata meminta sebuah tandatangan saja cukup sulit juga. Amplop? Bapa tidak rela dibodohi. Apalagi hidup kita sendiri amat memprihatinkan. Sudah empat jam Bapa setia menunggu. Mentari yang tadinya malas dan lembut, kini berubah bersemangat, galak dan membara.
Hatiku pun kiranya seperti mentari itu. Bersemangat, marah, sedih, kecewa membara dalam satu pijar. Pijar yang harus menetes dan menyerah pada situasi. Terlintas dalam pikiranku meninggalkan tempat yang serupa neraka dunia ini.
Namun cintaku padamu menahanku. Dan syukurlah, petugas yang kutunggu masuk juga. Kusodorkan formulir itu meminta ditandatangani. Apa jawabannya? “Maaf, Pak! Saya harus segera kembali ke tempat penataran. Tunggu dulu ya, Pak!”
Tak bisa lain. Aku harus menunggu. Selembar koran kumal sudah habis kubaca. Kubaca ulang lagi tanpa pernah bisa mengerti bahkan kini tidak melihat apa yang sedang kubaca. Tapi aku terus membaca dan membaca. Membunuh waktu.
Petugas Kantor Pos
Sejam lebih sedikit, petugas itu masuk lagi. Sepercik harapan muncul. Bergegas aku mendapatkannya. “Maaf, Pak!! Aku harus segera kembali lagi. Aku hanya mau mengambil buku ini. Tadi terlupa. Bagaimana kalau hari Senin depan, tanggal 20 Mei Bapak datang lagi ke sini!?!”
Ada nada picik dalam suaranya. Setidak-tidaknya menurut telinga Bapa saat itu. Hhhhhhhm. Seandainya aku ini api, kubakar hangus manusia loba di depanku ini. Aku kembali.
Mentari di titik kulminasi. Aneh, mentari yang tadi sombong, galak dan membara-bara kini diam lesu dan tampak tak berdaya hanya karena disaput awan hitam. Mendung. Kupikir aku tak boleh menyerah hanya karena mereka sibuk.
Kepalaku rasanya pusing sekali, kakiku serasa goyah membuat langkahku gontai. Aku tidak marah, aku cuma terkesima dan menyesal serta sedikit terharu. Kok bisa begitu ya! Oh ya… aku lemas karena pagi tadi aku belum makan. Lupa.
Ketika aku sudah jauh melangkah. Dan ketika anganku jauh mengembara ke negeri para malaikat dan para peri suci, sebuah bis nyaris menyerempetku. Ketika tersadar, kernetnya yang masih muda memarahiku bahkan mencaci maki. Orang-orang di sekitarnya terkekeh-kekeh.
Aku diam. Kutelan semua ini. Pahit sekali. Aku seorang guru yang dihormati di desaku jauh terpencil, menjadi alat permainan dan tertawaan di kota. Kutelan lagi ludah tersendat. Pedih, mengingat rambutku sudah banyak beruban.
Aku tiba di rumah kita (lebih tepat rumah kost adik-adikmu yang indekost) di pinggir kota itu. Adikmu Yos dan Etty sudah siap menantiku dengan hidangan siang yang agak istimewa. Istimewa karena ada ikan goreng dan lawar siput laut. Tapi aku sama sekali tidak punya selera makan.
Dua sendok makan saja rasanya sudah kenyang. Lebih kenyang kutelan pil-pil pahit orang kota tadi. Tapi aku berusaha tersenyum juga pada Yos dan Etty. Mereka tidak mengerti senyumku yang sumbang. Tapi mereka mengerti Ayahnya mencintai mereka.
Wah.. ceriteranya tersendat sebentar, Nak! Adikmu yang bungsu terbangun. Aku harus menenangkannya dulu. Ibumu siang tadi lelah sekali mencuci pakaian.
Nah… mari kıta lanjutkan lagi ceritanya. Sesudah makan serba sedikit, aku bersiap (dengan kuda kita yang setia) untuk segera berangkat ke desa kita. Segera menjalankan kewajibanku sebagai seorang guru. Guru yang tingkah lakunya dapat digugu dan ditiru. Diguru sekitar sebuah desa terpencil saja? Mungkin. Aku bergegas menemui adik bungsumu yang sakit panas ketika kutinggalkan kemarin sore.
Awan masih mendung juga. Aku tidak mau membawa payung Karena esok kakakmu yang sulung akan datang ke desa kita. Pamit dengan ibunya dan segera pergi ke Jakarta ke sekolah Perawat. Payung kita kan hanya satu.
Ketika melewati Rumah Sakit Bukit, hujan turun rintik-rintik. Kemudian bertambah lebat dan lebat lagi. Aku ragu-ragu: melangkah terus atau kembali. Kembali mendapatkan buah cintanya, berjalan terus menantang lebatnya hujan dan angin juga ‘kan berjumpa dengan orang-orang kecintaannya.
Tapi si kecil sakit. Maka aku terus berjalan dengan badan basah kuyup. Sialnya di saat ini aku merasa lapar sekali. Tidak ada makanan yang kubawa. Tubuhku yang kian rapuh gemetar dan gigi-gigiku gemeretak dan gemeletuk menahan dingin dan lapar.
Selintas terpikir dalam angan-anganku; seandainya aku mati dalam menjalankan tugas, aku akan merasa sangat berbahagia. Tapi… kerja belum selesai. Di saat seperti ini aku lebih mampu menghayati cinta Kristus. Kristus yang wafat di kayu salib. Kupikir Yesus Kristus tentu berbahagia sekali karena mati-Nya di tengah tugas, dan kewajiban yang diserahkan oleh Bapa.
Aku memasuki desa Namaweka. Beberapa kenalan kita (Om Lukas, Bapa Weka, dan lainnya) menyapaku penuh simpati dan rasa kasihan. Di desa ini aku mendapatkan kasih lagi. Walau kasih ini berupa kasihan. Dengan susah-payah aku melewati desa Namaweka. hingga sampai kini di bukit datar menjelang desa kita. Rasanya sudah habis tenagaku. Jalanan di tempat yang dilalui semakin licin dan becek. Di ufuk barat masih sempat kelihatan wajah mentari. Nampaknya seperti tentara kalah perang. Tersenyum penuh arti padaku. Kita sama nasib.
Anakku Tersayang
Masih ada sebuah kisah lagi. Kau belum bosan kan? Sekali lagi aku yakin kau tidak bosan. Aku mengenalmu sebagai seorang anak yang sabar dan suka mendengarkan bila aku atau ibumu bercerita.
Tiba-tiba dari kejauhan kudengar deru sebuah mobil. Aku harus menyingkir jauh. Soalnya kuda kita amat takut pada mobil. Asing baginya, kuda desa. Maka kuseret kuda kita ke sebelah kiri jalan, ke dekat pagar hidup. Jalanan memang amat sempit, menurun terjal dan licin sehabis hujan. Kuda kuseret tapi kini membandel. Tak mau ikut. Kuseret dengan paksa masih belum mau juga.
Dengan amat marah kusentakkan tali kekang sambil melangkah lebih rapat ke pagar yang penuh semak-semak. Tapi apa yang terjadi anakku? Kaki kiriku tertusuk ranjau. Kebiasaan di desa kita orang selalu membuat ranjau-ranjau, tajam dan panjang, runcing dan cukup untuk menembusi kulit badak.
“Aduhhh Tuhannn!! Anakkk-anakkkkku!! Aku…!” Kucoba mengangkat kakiku. Kaku sekali. Darah mulai menetes… cepat dan terus mengalir seperti anak sungai. Bayangkan, Nak, tubuh bapakmu yang sudah tua dan rapuh dan kurus… ditikam sembilu tajam.
Kucoba gerakkan sekali lagi… tetap tidak bisa. Malah semakin sulit digerakkan. Kucoba mencabut ranjau itu… dan darah semakin deras mengalir. Maka… sempurnalah kini penderitaanku hari ini… penderitaan lahir dan batin. Rerumputan memerah dan berbau darah segar. Ada dua ranjau yang menusuk Bapamu.
Aku kini bergantung pada tali kekang dan kuda kita yang setia tertunduk mencium punggung, leher, dan kepalaku. Di sini lagi kutemukan cinta. Cinta seekor hewan pada manusia. Tidak seperti di kota siang tadi. Aku amat terharu kala itu. Kuda setia yang tiba-tiba membandel bukan bandel yang biasa. Mungkin juga mengisyaratkan sesuatu bahaya. Kucatat dalam hatiku. Aku terduduk dikawal seekor kuda yang tahu cinta.
Anakku…….!!
Aku tidak tahu bagaimana mengakhiri surat ini. Apakah aku harus meneruskannya sampai berakhir di rumah kita di desa? Aku semula berniat demikian tetapi luka di kaki kiri ini sudah terlalu menghentak-hentak meminta istirahat. Saat ini sakitnya bukan main. Tetapi aku sudah bertekat menanggungnya. Maka kala warkat ini mulai rampung, aku tersenyum, Anakku. Bahagia dalamı derita… suatu hari yang penuh jalan salib. Jalan salib yang membahagiakan karena dilakukan berlandaskan cinta.
Akhirnya tak lupa Bapa dan Ema berpesan… belajarlah dengan tekun. Harapan Bapa tetaplah jadi orang desa yang berpandangan kota. Jangan lupa sertakan Tuhan dalam setiap langkah tugasmu, Tuhan beserta kita..
Salam kasih, Bapa dan Mama.
Sumber: HIDUP edisi 16 Desember 1986
Prof Dr Yoseph Yapi Taum, M.Hum lahir 16 Desember 1964 di Ataili, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Yapi Taum sudah menerbitkan tiga antologi puisi tunggal, yakni (1) Ballada Arakian: Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Penerbit Lamalera (2015); (2) Ballada Orang-Orang Arfak: Antologi Puisi, Yogyakarta: Sanata Dharma University Press (2019); dan (3) Kabar dari Kampung: Sebuah Antologi Puisi (2023), Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.










