Kesabaran yang Tak Bertepi
Namun dengarlah…
Allah bukanlah hakim dendam yang meremukkan dalam murka
Ia adalah Bapa yang berdiri di tepi jalan
Menanti anak yang hilang dengan bola mata yang sembab
Kesabaran-Nya bukan diam yang pasif dan kaku
Melainkan arus cinta yang terus mengalir
meski dihantam karang ketidaksetiaan
Seperti orang tua yang hatinya diiris luka oleh anak yang tersesat
Ia tak pernah benar-benar menutup pintu rumah-Nya
Ia menegur kesalahan, namun tak pernah mematikan harapan
Kebebasan yang Ia berikan adalah risiko dari kasih
Sebab cinta tanpa kebebasan hanyalah insting yang bisu
Ia berani terluka, agar kita belajar menyintai secara nyata
Badai Keserakahan dan Cinta yang Ditolak
Namun, di bawah naungan daun-daun nan hijau
Akar keserakahan merayap perlahan dan dingin
Kita ingin memiliki apa yang seharusnya kita syukuri
Buah-buah manis yang seharusnya dipersembahkan kembali
Malah kita genggam erat dengan jemari yang kaku dan tamak
Nabi demi nabi Ia utus menyampaikan rindu
Lewat teguran halus orang tua, lewat bisikan firman
Lewat peristiwa penderitaan, banjir, dan tangis bumi yang merintih
Namun kita tuli oleh bisingnya keinginan diri
Hingga Putra Tunggal-Nya Ia utus menyeberangi bukit
Membawa senyum kedamaian dan tangan yang terbuka
Namun kita menyambut-Nya dengan batu dan palu
Menolak batu penjuru, membuang cinta ke luar tembok kota
Berbuah dalam Terang Baru
Kini kebun anggur itu ada di dalam dada kita masing-masing
Bukan lagi milik satu bangsa atau golongan
Tetapi menjadi kediaman bagi setiap hati yang bersyukur
Apa yang telah kita tanam di tanah berkah ini?
Apakah ladang jiwa kita dipenuhi bunga-bunga kebaikan
Ataukah dibiarkan liar dipenuhi semak duri keangkuhan?
Salib di Golgota telah menjadi batu penjuru baru
Dari kayu yang patah itu, mengalir undangan yang tak pernah usai:
“Kembalilah, kelola kembali kebun ini dengan cinta.”
Mari kita berikan waktu kita dalam doa yang hening
Mari kita ulurkan tangan bagi mereka yang terluka dan letih
Sebab ketika kita merawat sesama dengan belas kasih
Kebun anggur Allah kembali berbunga
Dan cinta-Nya tidak lagi bertamu pada pintu yang terkunci
Di Kebun Anggur Kasih-Nya
Di awal waktu, ketika bumi masih memegang embun yang murni
Tangan Agung itu meretas tanah, menanam kebun anggur kehidupan
Dipagarinya kita dengan hukum kasih yang memeluk
Didirikannya menara penjaga agar jiwa tak dicuri gulita
Tuhan tidak menyerahkan dunia ini dengan rantai besi
Ia menyerahkannya dengan bentangan kepercayaan yang bebas
Seperti pemilik kebon yang pergi menembus ufuk
Ia percaya, manusia sanggup mengelola benih dengan cinta
Namun betapa rapuhnya kita ketika pengawasan tak lagi kasat mata
Ketika atasan tak memandang, ketika tak ada mata menatap
Apakah kita tetap setia, atau melepas kejujuran ke dalam angin?
Jayapura, 4 Oktober 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










