Puisi: Merobek Hati Ibu Bumi dan Sikap Tobat Karya Yance Dou

Laju deforestasi tak terkendali berujung ibu bumi Papua terluka saban waktu. Salah satu jalan menyembuhkan ialah stop atau berhenti melakukan penebangan luar (ilegal loging) dan pertobatan ekologis. Sumber foto ilustrasi: thegeckoproject.org

Tantangan Dari Krisis Bumi

TANGAN-tangan manusia dirajut untuk bekerja dan mengukir makna

bukan untuk merobek gaun hijau yang membalut bumi

 

Dalam setiap peluh dan kerja harian yang kita lakukan

ada panggilan untuk merenung, mematangkan jiwa, dan menjaga

 

Kerja yang dilepaskan dari doa dan permenungan

akan berubah menjadi jemari besi yang menggilas kehidupan

 

Sebab kemajuan sejati tak pernah meninggalkan kehancuran di belakangnya

Apa guna melambung tinggi ke angkasa

jika akar yang menopang kita di bumi telah membusuk?

 

Setiap usaha, setiap proyek, dan setiap helai niat

hendaknya menjadi penghormatan yang tulus pada Sang Pencipta

menjaga agar kehidupan tetap mengalir tanpa luka

 

Panggilan Ibu Bumi

Di tengah desakan zaman yang terus memanggil kita untuk memiliki lebih

berdirilah sebuah jalan sunyi yang penuh pesona: kesederhanaan

 

Ia bukanlah kekosongan atau bentuk kemiskinan yang meratapi diri

melainkan keberanian untuk berhenti dan berkata, “Ini sudah cukup.”

 

Jalan kesederhanaan mengajarkan mata kita untuk kembali melihat:

menghargai embusan angin yang melintasi dedaunan

 

bersyukur atas setetes air bersih yang membasahi kerongkongan

dan menikmati senyum sesama tanpa syarat kelimpahan

 

Ketika kita melepaskan kelekatan pada apa yang tak kita miliki

jiwa kita mengembang, dan bumi pun bernapas lega

 

Sikap Tobat

Pertobatan tidak pernah lahir dari kata-kata yang muluk

ia menjelma dalam langkah-langkah kecil di halaman rumah kita

 

Ia hadir saat kita menolak kepraktisan yang merusak

saat kita hemat menggunakan air, mematikan api lampu yang tak berguna

serta menyajikan makanan secukupnya dengan rasa hormat yang mendalam

 

Langkah-langkah kecil ini adalah benih perubahan yang tak tertahankan

Saat nurani masyarakat terbangun, pasar dan penguasa pun tunduk pada kebaikan

 

Membeli bukan lagi sekadar menukar uang dengan barang

melainkan sebuah doa dan pilihan moral demi kelangsungan bumi

 

Sebab bumi ini bukanlah milik kita untuk dihabiskan dalam sekejap

Ia adalah anugerah yang kita pinjam dari mata mungil anak-cucu kita

 

Mewariskan bumi yang segar dan layak huni

adalah keadilan paling mendasar yang wajib kita jaga

Mari melangkah pulang, memeluk kesederhanaan

dan menjadikan setiap napas kita sebagai perawat kehidupan

 

Merobek Hati Ibu Bumi

Di bawah naungan langit yang kian samar oleh debu zaman

manusia melangkah dalam riuh yang tak pernah reda

 

Kita mengukur dunia dengan angka, kecepatan, dan tumpukan benda

mengejar garis akhir yang terus bergeser di ufuk senja

 

Namun di balik megahnya bangunan dan riuhnya teknologi

ada jeritan halus yang kerap terabaikan:

tanah yang dahaga, sungai yang berduka, dan udara yang sesat di antara asap

 

Krisis yang melingkupi bumi bukanlah sekadar soal rumus atau angka

bukan pula perdebatan dingin di ruang-ruang seminar yang sepi nurani

 

Ia adalah cermin dari jiwa yang dahaga

ketika kita memandang alam hanya sebagai barang sewaan

diperas hingga letih, lalu dibuang tanpa rasa iba

 

Kita lupa bahwa tanah yang kita pijak adalah rumah yang kudus

yang diciptakan agar setiap napas menemukan kedamaiannya

Jayapura, 9 Oktober 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.