Tantangan Dari Krisis Bumi
TANGAN-tangan manusia dirajut untuk bekerja dan mengukir makna
bukan untuk merobek gaun hijau yang membalut bumi
Dalam setiap peluh dan kerja harian yang kita lakukan
ada panggilan untuk merenung, mematangkan jiwa, dan menjaga
Kerja yang dilepaskan dari doa dan permenungan
akan berubah menjadi jemari besi yang menggilas kehidupan
Sebab kemajuan sejati tak pernah meninggalkan kehancuran di belakangnya
Apa guna melambung tinggi ke angkasa
jika akar yang menopang kita di bumi telah membusuk?
Setiap usaha, setiap proyek, dan setiap helai niat
hendaknya menjadi penghormatan yang tulus pada Sang Pencipta
menjaga agar kehidupan tetap mengalir tanpa luka
Panggilan Ibu Bumi
Di tengah desakan zaman yang terus memanggil kita untuk memiliki lebih
berdirilah sebuah jalan sunyi yang penuh pesona: kesederhanaan
Ia bukanlah kekosongan atau bentuk kemiskinan yang meratapi diri
melainkan keberanian untuk berhenti dan berkata, “Ini sudah cukup.”
Jalan kesederhanaan mengajarkan mata kita untuk kembali melihat:
menghargai embusan angin yang melintasi dedaunan
bersyukur atas setetes air bersih yang membasahi kerongkongan
dan menikmati senyum sesama tanpa syarat kelimpahan
Ketika kita melepaskan kelekatan pada apa yang tak kita miliki
jiwa kita mengembang, dan bumi pun bernapas lega
Sikap Tobat
Pertobatan tidak pernah lahir dari kata-kata yang muluk
ia menjelma dalam langkah-langkah kecil di halaman rumah kita
Ia hadir saat kita menolak kepraktisan yang merusak
saat kita hemat menggunakan air, mematikan api lampu yang tak berguna
serta menyajikan makanan secukupnya dengan rasa hormat yang mendalam
Langkah-langkah kecil ini adalah benih perubahan yang tak tertahankan
Saat nurani masyarakat terbangun, pasar dan penguasa pun tunduk pada kebaikan
Membeli bukan lagi sekadar menukar uang dengan barang
melainkan sebuah doa dan pilihan moral demi kelangsungan bumi
Sebab bumi ini bukanlah milik kita untuk dihabiskan dalam sekejap
Ia adalah anugerah yang kita pinjam dari mata mungil anak-cucu kita
Mewariskan bumi yang segar dan layak huni
adalah keadilan paling mendasar yang wajib kita jaga
Mari melangkah pulang, memeluk kesederhanaan
dan menjadikan setiap napas kita sebagai perawat kehidupan
Merobek Hati Ibu Bumi
Di bawah naungan langit yang kian samar oleh debu zaman
manusia melangkah dalam riuh yang tak pernah reda
Kita mengukur dunia dengan angka, kecepatan, dan tumpukan benda
mengejar garis akhir yang terus bergeser di ufuk senja
Namun di balik megahnya bangunan dan riuhnya teknologi
ada jeritan halus yang kerap terabaikan:
tanah yang dahaga, sungai yang berduka, dan udara yang sesat di antara asap
Krisis yang melingkupi bumi bukanlah sekadar soal rumus atau angka
bukan pula perdebatan dingin di ruang-ruang seminar yang sepi nurani
Ia adalah cermin dari jiwa yang dahaga
ketika kita memandang alam hanya sebagai barang sewaan
diperas hingga letih, lalu dibuang tanpa rasa iba
Kita lupa bahwa tanah yang kita pijak adalah rumah yang kudus
yang diciptakan agar setiap napas menemukan kedamaiannya
Jayapura, 9 Oktober 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










