Oleh Yoseph Yapi Taum
Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
DI TANAH Papua, ada satu keyakinan yang diwariskan turun-temurun: hutan adalah ibu. Bukan sekumpulan pohon-pohon. Ia memberi makan, melindungi, menyembuhkan, dan menyimpan jejak para leluhur. Ketika seorang anak Papua lapar, ia masuk ke hutan.
Ketika seorang perempuan hendak melahirkan, hutan menyediakan obat. Ketika sebuah komunitas mencari jati dirinya, mereka menemukannya di antara sungai, rawa, dan pohon-pohon sagu. Maka ketika buldoser pertama menancap di tanah adat, yang sedang dibuka bukan hanya lahan. Yang sedang dibongkar adalah peradaban.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menyampaikan peringatan yang mengguncang nurani: Papua sedang berada di ambang sebuah tragedi besar. Atas nama pembangunan, negara dan korporasi tengah membuka proyek raksasa lumbung pangan dan bioenergi yang akan mengubah bentang alam dan sejarah manusia di ujung timur Indonesia. Inilah saat ketika Kotak Pandora Papua dibuka.
Harapan Menjelma Malapetaka
Dalam mitologi Yunani, Pandora menerima sebuah kotak yang dilarang untuk dibuka. Ketika rasa ingin tahu mengalahkan kehati-hatian, ia membuka tutupnya. Dari dalam kotak itu keluar segala bencana: perang, penyakit, keserakahan, dan kematian. Hanya satu yang tertinggal di dasar kotak: harapan. Papua hari ini seperti Pandora modern.
Yang membuka kotak itu bukan seorang perempuan mitologis, melainkan negara, investor, dan oligarki. Mereka datang membawa kata-kata yang terdengar mulia: swasembada pangan, ketahanan energi, hilirisasi, kemajuan nasional.
Namun ketika tutup kotak itu terangkat, yang keluar bukan kesejahteraan, melainkan militerisasi, perampasan tanah, pengungsian, trauma, dan ancaman pemusnahan budaya. Satu-satunya yang tersisa adalah harapan rakyat Papua untuk mempertahankan tanah leluhur mereka.
Api yang Mengubah Wajah Papua
Pemerintah Indonesia menargetkan pembukaan 2,5 juta hektar hutan Papua untuk proyek industri pangan dan energi. Dari total itu, 1,3 juta hektar diperuntukkan bagi sawah baru, 560.000 hektar untuk tebu, 400.000 hektar untuk sawit program biodiesel B50, dan 380.000 hektar untuk peternakan.
Untuk memahami skalanya, 2,5 juta hektar setara dengan sekitar 25.000 kilometer persegi —lebih luas daripada seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan mendekati ukuran negara kecil seperti Belize. Ini bukan proyek biasa. Ini adalah transformasi ekologis terbesar dalam sejarah modern Papua.
Sepuluh perusahaan telah memperoleh konsesi. Sebagian besar terhubung dengan konglomerat-konglomerat besar, bahkan terkonsentrasi pada segelintir keluarga. Sementara itu, tanah yang diwariskan leluhur selama ribuan tahun dihargai hanya Rp 300.000 per hektar —harga yang nyaris tak cukup untuk membeli satu karung beras.
Di titik ini, pembangunan berubah menjadi ironi: tanah yang tak ternilai dipertukarkan dengan nilai yang nyaris tak bermakna.
Dari Paniai ke Gaza, dari Aborigin ke Papua
Sejarah manusia dipenuhi kisah bangsa-bangsa yang dimusnahkan atas nama kemajuan. Trail of tears memaksa suku-suku Indian meninggalkan tanah leluhur mereka.
Bangsa Aborigin Australia kehilangan ruang hidupnya akibat kolonisasi yang menyisakan lost generation. Dunia menyaksikan genosida di Rwanda. Hari ini, banyak orang menatap tragedi di Jalur Gaza.
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengingatkan bahwa pola yang sama sedang terjadi di Papua. Pertama, tanah diambil. Kedua, hutan dihancurkan. Ketiga, militer hadir.
Keempat, masyarakat dipaksa mengungsi. Kelima, dunia luar tetap diam. Papua bukan pengecualian. Papua adalah bab terbaru dari sejarah panjang kolonialisme modern.
Tentara, Ketakutan, dan Pengungsi
Di Papua kini ditempatkan sekitar 56.000 personel militer. Rasio kehadiran aparat mencapai satu tentara untuk setiap 100 orang Papua, jauh di atas rata-rata nasional yang sekitar satu tentara untuk 696 penduduk.
Bandingkan dengan kekuatan bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diperkirakan hanya 1.430 personel dengan 360 senjata. Rasio kekuatan negara dan gerilyawan mencapai puluhan banding satu.
Namun angka-angka ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bila ancaman keamanan relatif kecil, untuk siapa kekuatan sebesar itu dikerahkan?
Film ini memberi jawaban yang gamblang: sebagian besar kehadiran aparat digunakan untuk mengawal proyek-proyek strategis nasional dan investasi perkebunan.
Dengan kata lain, tentara tidak hanya menjaga negara. Mereka juga menjaga kepentingan ekonomi.
Pada 2025, Dewan Gereja Papua mencatat sedikitnya 103.000 orang mengungsi akibat konflik dan operasi keamanan. Wilayah Nduga menyumbang sekitar 20.000 jiwa.
Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada perempuan yang melahirkan di hutan, anak-anak yang kehilangan sekolah, orang tua yang menua dalam pelarian, dan komunitas yang hidup dalam trauma berkepanjangan.
Ironisnya, gelombang pengungsian sebesar itu nyaris tak menjadi berita utama media nasional. Keheningan ini sama berbahayanya dengan kekerasan itu sendiri. Sebab tragedi yang tak diberitakan sering kali dianggap tidak pernah terjadi.
Salib Merah dan Pesta Babi
Ketika jalur hukum dan politik tidak lagi memberi perlindungan, masyarakat adat menggunakan bahasa simbol. Suku Auyu menancapkan Salib Merah di tanah mereka. Simbol ini bukan ancaman, melainkan doa.
Sebuah penanda bahwa tanah tersebut suci, bahwa luka sedang terjadi, dan bahwa batas moral telah terlampaui. Salib Merah adalah jeritan iman sekaligus seruan kemanusiaan.
Ia berkata kepada dunia: “Jangan lewat. Di sini ada kehidupan yang sedang terancam.” Bagi masyarakat Muyu, babi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah simbol martabat, solidaritas, dan kekuatan komunal.
Ritual Awon Atatbon atau Pesta Babi dilakukan untuk menyatukan warga, memperkuat ikatan sosial, dan mengumpulkan energi kolektif menghadapi ancaman dari luar.
Jika Salib Merah adalah doa yang ditancapkan ke bumi, maka Pesta Babi adalah nyanyian perlawanan yang menggema dari kampung ke kampung. Keduanya menyampaikan pesan yang sama: kami mungkin tidak memiliki modal dan senjata, tetapi kami masih memiliki budaya, iman, dan keberanian.
Pesan Utama: Ujian Peradaban
Persoalan Papua bukan semata sengketa lahan atau kontroversi proyek pembangunan. Ini adalah pertaruhan moral tentang arah pembangunan peradaban bangsa Indonesia.
Apakah pembangunan berarti menebang hutan dan meminggirkan pemilik tanah? Apakah ketahanan pangan harus dibayar dengan pengungsian ratusan ribu orang? Apakah kemajuan nasional dapat dibenarkan jika mengorbankan tanah dan kebudayaan yang telah bertahan selama ribuan tahun?
Jika jawaban atas deretan pertanyaan reflektif di atas “ya”, maka Indonesia sedang membuka kotak Pandora yang berisi semua kesalahan paling gelap dalam sejarah kolonialisme.
Harapan di Dasar Kotak
Dalam mitologi Yunani, setelah seluruh bencana keluar, satu hal tetap tertinggal di dasar kotak: harapan. Harapan itu kini hidup dalam Salib Merah yang ditancapkan di tanah adat. Harapan itu terdengar dalam denting ritual Pesta Babi.
Harapan itu bertahan dalam langkah para pengungsi yang terus menjaga martabat mereka. Papua masih percaya bahwa hutan bukan komoditas, melainkan kehidupan. Dan selama keyakinan itu tetap hidup, kotak Pandora belum sepenuhnya menang.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Papua sedang berubah. Pertanyaannya adalah: ketika sejarah kelak menilai masa ini, kita akan dikenang sebagai bangsa yang melindungi hutan dan manusia, atau sebagai bangsa yang membiarkan sebuah peradaban punah dari muka bumi.










