Oleh Darius Sabon Rain, SE, M.Ec.Dev
Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Mimika, Papua Tengah
PEMBANGUNAN daerah pada hakikatnya bukan sekadar menjalankan program dan menghabiskan anggaran, tetapi bagaimana memastikan setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan daerah.
Dalam konteks tersebut, riset menjadi instrumen penting yang tidak dapat dipisahkan dari proses perencanaan pembangunan daerah. Selama ini, masih banyak proses perencanaan pembangunan yang cenderung berorientasi administratif dan rutinitas tahunan.
Program disusun berdasarkan kebiasaan, asumsi, atau pendekatan “copy-paste” dari tahun sebelumnya tanpa didukung kajian yang mendalam mengenai kondisi riil di lapangan. Akibatnya, tidak sedikit program yang berjalan tetapi kurang efektif, kurang tepat sasaran, bahkan tidak mampu menyelesaikan persoalan utama masyarakat.
Kabupaten Mimika sebagai daerah yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta karakteristik wilayah yang kompleks membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih presisi dan berbasis evidence, bukti atau fakta.
Tantangan pembangunan Mimika tidak sederhana. Di satu sisi, Mimika memiliki aktivitas industri berskala internasional dan potensi ekonomi yang besar. Namun di sisi lain, masih terdapat kesenjangan pembangunan antar wilayah.
Selain itu, keterbatasan akses pelayanan dasar di kampung-kampung terpencil, persoalan ketenagakerjaan lokal hingga tantangan pengelolaan lingkungan dan tata ruang pembangunan jangka panjang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan intuisi birokrasi atau pendekatan administratif semata. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan riset yang kuat agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data, analisis ilmiah dan kebutuhan nyata masyarakat.
Peran Strategis Riset
Riset memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah daerah memahami akar persoalan pembangunan secara lebih objektif. Melalui riset, pemerintah dapat mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat secara akurat, memetakan potensi unggulan daerah, mengidentifikasi faktor penghambat pembangunan, serta merumuskan solusi kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Dalam konteks Kabupaten Mimika, integrasi riset ke dalam perencanaan pembangunan dapat dilakukan dalam berbagai sektor strategis. Misalnya pada sektor pengembangan sumber daya manusia dan ketenagakerjaan.
Tingginya aktivitas investasi dan industri di Mimika seharusnya dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Namun untuk menjawab persoalan tersebut diperlukan riset mendalam.
Riset mendalam ini terkait kebutuhan kompetensi tenaga kerja industri, kesenjangan keterampilan masyarakat lokal hingga model pelatihan dan pendidikan vokasi yang sesuai dengan karakteristik daerah.
Begitu pula pada sektor pengembangan wilayah terpencil. Banyak kampung di Mimika masih menghadapi keterbatasan akses air bersih, transportasi, pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Untuk itu diperlukan riset yang tidak hanya memetakan masalah, tetapi juga menghasilkan model pembangunan yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosial budaya masyarakat setempat.
Pendekatan pembangunan untuk wilayah perkotaan tentu tidak bisa disamakan dengan pendekatan pembangunan di wilayah pesisir maupun pegunungan. Di bidang lingkungan dan pengelolaan SDA, riset juga menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Mimika menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan lingkungan, kawasan industri, serta pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Tanpa dukungan kajian ilmiah yang kuat, kebijakan pembangunan berisiko menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang lebih besar di masa depan.
Dari Perencanaan ke Keputusan Daerah
Karena itu, integrasi riset dalam pembangunan daerah harus dimulai sejak tahap awal perencanaan. Hasil-hasil penelitian tidak boleh berhenti menjadi dokumen akademik di rak kantor.
Hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi dasar penyusunan kebijakan, program prioritas dan penganggaran daerah. Dengan kata lain, riset harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan pemerintah daerah.
Peran BRIDA Kabupaten Mimika menjadi sangat strategis dalam mendorong transformasi tersebut. Sebagai lembaga yang memiliki fungsi penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan inovasi daerah, BRIDA dapat menjadi jembatan antara dunia riset dan kebutuhan kebijakan pemerintah daerah.
BRIDA tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana penelitian, tetapi juga sebagai pusat koordinasi ekosistem riset daerah. Ini mencakup kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, komunitas masyarakat, hingga pemerintah pusat.
Melalui kolaborasi tersebut, Kabupaten Mimika dapat menghasilkan riset-riset strategis yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Selain itu, pemerintah daerah juga perlu membangun budaya birokrasi berbasis data dan evidence.
Setiap OPD perlu didorong untuk menggunakan hasil kajian dalam penyusunan program dan kegiatan. Ke depan, kualitas perencanaan daerah tidak hanya diukur dari kelengkapan administrasi dokumen, tetapi juga dari seberapa kuat basis data, analisis dan argumentasi ilmiah yang digunakan dalam penyusunan kebijakan.
Transformasi menuju perencanaan pembangunan berbasis riset memang tidak mudah. Dibutuhkan komitmen politik, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta dukungan anggaran yang memadai. Namun langkah ini penting agar pembangunan daerah tidak berjalan tanpa arah dan hanya bersifat jangka pendek.
Kabupaten Mimika memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu daerah yang mampu mengembangkan model pembangunan berbasis pengetahuan di Indonesia Timur.
Dengan kekuatan sumber daya alam, dukungan investasi, serta potensi inovasi daerah yang besar, Mimika seharusnya tidak hanya menjadi daerah penghasil sumber daya, tetapi juga menjadi daerah yang unggul dalam tata kelola pembangunan yang modern, adaptif dan berbasis evidence.
Sudah saatnya riset ditempatkan sebagai fondasi utama dalam perencanaan pembangunan daerah. Sebab pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang sekadar terlihat berjalan, tetapi pembangunan yang dirancang secara ilmiah, tepat sasaran, berkelanjutan dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.










