KARUBAGA, ODIYAIWUU.com — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Gereja Kemah Injil Kingmi (GKII) di Tanah Papua Jemaat Betel Mulele, Wamena, kota Provinsi Papua Pegunungan, Sabtu (25/7) berlangsung semarak dan khidmat.
Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Dr John Tabo, SE, MBA dalam sambutannya menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan untuk terus mendukung pelayanan gereja dan pembangunan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan manusia Papua.
“Pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga harus memberikan perhatian terhadap lembaga-lembaga yang selama puluhan tahun telah membentuk karakter, iman, dan kualitas sumber daya manusia Papua,” ujar John Tabo di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu (25/7).
Sebagai bentuk komitmen konkrit, menurut John Tabo, Pemprov Papua Pegunungan memberikan bantuan kepada Jemaat Betel Mulele serta menyatakan dukungannya terhadap pembangunan fasilitas pendidikan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-gereja Injili (YPPGI) di tanah Papua.
Pembangunan fasilitan tersebut, lanjut John Tabo, meliputi pembangunan ruang kelas, ruang kantor sekolah, rumah guru serta dukungan terhadap penyelesaian berbagai fasilitas pelayanan gereja.
Senada dengan Gubernur John Tabo, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tolikara Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si mengatakan, perayaan HUT ke-63 Gereja Kemah Injil Kingmi (GKII) di Tanah Papua Jemaat Betel Mulele Wamena menjadi momentum yang sarat makna.
“Perayaan ini tidak hanya menjadi momen refleksi sekaligus mengenang perjalanan panjang pelayanan gereja, tetapi juga memperlihatkan kuatnya sinergi antara gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun Papua Pegunungan,” ujar Yosua Noak Douw di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Sabtu (25/7).
Bagi masyarakat Papua Pegunungan, lanjut Yosua, Gereja Betel Mulele bukan sekadar sebuah tempat ibadah. Gereja ini dikenal sebagai salah satu gereja mula-mula di kawasan Lembah Baliem yang memiliki peran penting dalam seratah perkembangan pelayanan Injil sekaligus pendidikan di wilayah pegunungan Papua.
“Sejak masa awal pekabaran Injil, Gereja Betel Mulele menjadi pusat pembinaan rohani dan pendidikan. Dari lingkungan gereja inilah lahir semangat pelayanan yang kemudian melahirkan banyak tenaga pengajar, tenaga kesehatan, dan aparatur pemerintah yang mengabdikan diri ke berbagai wilayah di Papua Pegunungan,” kata Yosua.
Melalui sekolah-sekolah YPPGI, lanjut Yosua, putra guru dan penginjil asal Deiyai, Papua Tengah, banyak generasi muda memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan. Generasi mud aini kemudian diutus untuk melayani masyarakat sebagai guru, perawat, maupun pegawai negeri sipil di berbagai daerah.
“Dalam sejarah pelayanan tersebut, banyak di antara mereka berasal dari Suku Mee, yang mengabdikan hidupnya untuk melayani masyarakat lintas wilayah di Papua Pegunungan,” ujar Yosua, doktor lulusan Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua.
Saat ini, kata Yosua, pelayanan Gereja Betel Mulele dipimpin oleh Pendeta Matias Kudiay, yang bersama seluruh majelis dan jemaat terus melanjutkan warisan pelayanan para pendahulu dalam membina kehidupan rohani umat dan mendukung kemajuan pendidikan.
Menurut Yosua, sebagai kader muda gereja ia menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas perhatian yang diberikan Gubernur Papua Pegunungan terhadap pembangunan Gereja Betel Mulele dan penguatan pendidikan melalui YPPGI.
Yosua menambahkan, perhatian Gubernur John Tabo merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan gereja dalam membangun masyarakat Papua sejak masa awal pekabaran Injil.
Gereja Betel Mulele, lanjut Yosua, memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi masyarakat Papua Pegunungan. Dari gereja dan sekolah-sekolah YPPGI inilah lahir banyak guru, perawat, dan aparatur pemerintah yang kemudian mengabdikan diri di berbagai pelosok Papua Pegunungan.
“Perhatian Bapak Gubernur Papua Pegunungan Dr John Tabo terhadap gereja dan pendidikan merupakan langkah yang patut diapresiasi karena menyentuh akar pembangunan manusia Papua,” ujar Yosua lebih lanjut.
Yosua yang juga penulis muda tanah Papua menambahkan, pembangunan sekolah, rumah guru, rumah pastori, serta fasilitas pelayanan gereja bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi Papua yang beriman, berpendidikan, dan memiliki karakter kepemimpinan.
“Melalui momen perayaan HUT ke-63 GKII di Tanah Papua Jemaat Betel Mulele Wamena saya mengajak generasi muda gereja untuk menjadikan perhatian pemerintah tersebut sebagai motivasi agar semakin giat belajar, memperkuat pelayanan, menjaga persatuan, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Papua Pegunungan,” katanya.
Perayaan HUT ke-63 GKII Jemaat Betel Mulele Wamena menjadi pengingat bahwa kemajuan Papua Pegunungan memerlukan kolaborasi yang erat antara gereja, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.
Yosua mengatakan, komitmen Pemprov Papua Pegunungan dalam mendukung Gereja Betel Mulele dan YPPGI menunjukkan bahwa pembangunan manusia tetap menjadi prioritas.
Di sisi lain, apresiasi yang disampaikan Gubernur John Tabo selaku kader muda gereja mencerminkan harapan agar sinergi tersebut terus berlanjut demi melahirkan generasi Papua yang beriman, cerdas, berkarakter, serta siap membangun daerahnya dengan semangat pelayanan dan persaudaraan.
“Dengan semangat tersebut, HUT ke-63 Gereja Betel Mulele bukan sekadar menjadi perayaan sejarah pelayanan, tetapi juga menjadi peneguhan komitmen bersama untuk menjaga warisan iman, memperkuat pendidikan, dan membangun Papua Pegunungan yang damai, maju, dan sejahtera bagi seluruh Masyarakat,” ujar Yosua. (*)










