DAERAH  

Perempuan 60 Tahun Korban Gempa Flores: Mori Sembeng, Bapak Presiden dan Bapak Kepala BNPB

Sejumlah pimpinan dan anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat menyambangi warga terdampak gempa di Pulau Flores dan bertemu Ledo Garia (60) bersama warga korban gempa di Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: Istimewa

BORONG, ODIYAIWUU.com — Perempuan tua korban gempa Flores Ledo Garia (60) tak kuasa menahan air mata saat dikunjungi di tenda darurat di Kampung Weleng, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

 

Selama 12 hari pascagempa yang menerjang Flores, Sabtu (15/8) ia dan keluarganya beserta warga dari desa-desa di Lamba Leda Utara harus bertahan hidup di bawah tenda darurat seadanya.

 

Kehadiran tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang merespons cepat informasi mengenai kondisinya membawa angin segar di tengah masa sulit tersebut.

 

“Ada sekitar 18 personel BNPB turun langsung liat kami di beberapa lokasi untuk mendirikan tenda pengungsian yang layak. Presiden sangat peduli kami. Terima kasih banyak, Bapak Presiden, Bapak Kepala BNPB beserta jajaran. Mori sembeng (Tuhan berkati, dalam bahasa Manggarai),” ujar Ledo Garia dengan mata sembab menahan haru.

 

Menurut Ledo Garia, ia bersama warga terdampak bencana gempa berkekuatan magnitude 7,7 sangat merasakan kehadiran Presiden beserta jajarannya dan Kepala BNPB dan staf melalui bantuan nyata. Bantuan tersebut diakuinya menyelamatkan korban dari ancaman kelaparan dan penyakit.

 

Bahkan, bantuan Pemerintah Provinsi NTT hingga Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur serta bantuan berbagai pihak bisa singgah di berbagai lokasi dan warga segera tertolong.

 

“Desa-desa kami sangat berjauhan dan kalua ada yang berniat membantu sedikit mengalami kesulitan karena dorang (mereka) mesti jalan kaki atau pake sepeda motor untuk kasi warga bantuan. Oto (mobil) tida bisa masuk ke sini kerna jalan rusak akibat tanah goyang keras sekali ae,” kata Ledo Garia dalam dialek Mangggarai.

 

Ledo Garia juga menambahkan, perhatian yang diberikan menjadi bukti nyata bahwa masyarakat di pelosok daerah tidak terlupakan. Bantuan tenda tersebut sangat berarti bagi keluarganya untuk berteduh dan bertahan selama masa pengungsian.

 

Media ini sebelumnya memberitakan, Ledo Garia, perempuan tua berusia sekitar 60-an tahun, Rabu (26/8) masih menahan air mata saat duduk di bawah tenda pengungsian darurat di Desa Nampar Tabang, Lamba Leda Utara, Manggara Timur, Flores, NTT.

 

Sejak gempa bumi mengguncang Pulau Flores, Sabtu (15/8) Ledo Garia bersama ribuan warga di tiga desa di Lamba Leda Utara, yakni Desa Nampar Tabang, Liang Deruk, dan Golo Munga, berlari di pinggiran kampung demi menyelamatkan diri.

 

Sebagian bahkan terpencar ke hutan dan tempat yang lebih aman. 12 hari sejak gempa ia bersama ribuan warga tidur beralas tanah dalam kondisi memprihatinkan. Stok makanan seadanya.

 

Tak hanya Ledo Garia, warga yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak kecil menjerit memohon perhatian dan ulur tangan langsung dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto beserta jajarannya, terutama BNPB.

 

“Saya bersama ribuan warga lain sudah 12 hari warga terpaksa bertahan hidup dan tidur beralaskan tanah di bawah tenda darurat seadanya yang terbuat dari terpal robek,” ujar Ledo Garia di Tenda Pengungsian Darurat, Nampar Tabang, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, Rabu (26/8).

 

Warga lainnya, Subrianus Orly mengaku, ketiadaan dinding pembatas pada tenda rakitan tersebut membuat angin yang bertipu kencang menerbangkan terpal tempat berlindung. Warga juga kedinginan saat malam sehingga sebagian dari pengungsi memilih bertahan sampai pagi dengan waspada karena tanah terasa berguncang.

 

“Bapak Presiden dan Bapak Kepala BNPB, tolong bantu kami. Sudah masuk 12 hari kami masih tidur di bawah terpal robek beralas tanah yang dingin. Saat ini kami mulai sakit-sakitan, mengalami flu dan demam tinggi karena setiap hari terpapar angin malam. Kami belum mendapatkan bantuan tenda darurat dari BNPB,” ujar Subrianus.

 

Warga juga menyampaikan terima kasih atas bantuan beras dan bahan pangan Presiden dan Kepala BNPB yang telah disalurkan. Namun, saat ini stok makanan menipis dan warga bertahan dengan tenda sobek.

 

“Saat ini kami butuh terpal meskipun bekas agar bisa tidur di atas tanah dengan nyaman. Kami tetap berdoa dan berharap bantuan Bapak Presiden beserta jajarannya serta Bapak Kepala BNPB dan jajarannya agar datang ke sejumlah lokasi pengungsian di Lamba Leda Utara,” kata Subrianus sedih.

 

Warga sangat berharap agar Presiden Prabowo Subianto dapat mendengar keluhan ini dan bila berkenan meninjau langsung kondisi mereka di lapangan agar bantuan tenda darurat dan fasilitas kesehatan dapat segera tiba sebelum kondisi masyarakat semakin memburuk.

 

Warga desa Nampar Tabang, Liang Deruk dan Golo Munga mengaku, saat ini kebutuhan mendesak yaitu 3.000 unit terpal, 3.000 lembar selimur, matras, susu bayi, beras, mie instan, dan sabun mandi serta cuci. (*)