Peace Literacy Papua Gelar Diskusi Bertajuk Pengalaman Sebagai Sumber Pengetahuan

Para peserta diskusi bertajuk Pengalaman Sebagai Sumber Pengetahuan yang diselenggarakan Peace Literacy Institute Indonesia di Aula Asrama Putra Lanny Jaya, Waena, Jayapura, Papua, Sabtu (8/8). Foto: Istimewa

WAENA, ODIYAIWUU.com — Peace Literacy Institute Indonesia, Sabtu (8/8) menggelar diskusi bertajuk Pengalaman Sebagai Sumber Pengetahuan di Aula Asrama Putra Lanny Jaya, Waena, Jayapura, Papua.

Diskusi yang dihadiri puluhan peserta menampilkan pembicara Rio Kogoya dari Asia Justice and Rights (AJAR) dan pegiat literasi Papua Maiton Gurik, S.Sos, M.Si. Topik tersebut dipilih karena relevan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya para mahasiswa dari berbagai daerah di Papua yang tinggal di asrama untuk melanjutkan kuliah.

Selain itu, topik itu menarik mengingat banyak hal yang dipahami secara mendalam tidak hanya berasal dari buku tetapi melalui perjalanan hidup, pengalaman perjumpaan, dan tantangan yang dialami siapa saja. Perjalanan hidup bahkan pengalaman perjumpaan juga menjadi pintu masuk ilmu pengetahuan.

“Pengalaman adalah aneka peristiwa, perasaan, dan interaksi seseorang atau kelompok secara langsung. Berbeda dengan teori yang diterima secara pasif, pengetahuan yang lahir dari pengalaman teruji oleh realitas,” ujar Rio Kogoya.

Menurut Rio, dalam kehidupan masyarakat adat maupun generasi muda, banyak kearifan dan pemahaman yang diwariskan bukan sekadar lewat tulisan. Ia juga lahir dari pengalaman hidup dan perjumpaan antarpihak.

“Ada ungkapan yang menyebut buku memberi tahu apa yang benar, tetapi pengalaman mengajarkan kita mengapa hal itu benar dan bagaimana melakukannya dalam kenyataan,” kata Rio lebih lanjut.

Para peserta diskusi sepakat bahwa pengalaman tidak serta merta menjadi pengetahuan, melainkan melalui beberapa tahapan seperti melakukan, melihat atau merasakan sendiri suatu peristiwa. Juga mengingat kembali, merenungkan apa yang terjadi, apa penyebabnya, dan apa dampaknya.

“Dari pengalaman itu setiap orang memperoleh pelajaran hidup, pola atau makna dari setiap peristiwa namun tetap direfleksikan. Tanpa refleksi pengalaman hanya menjadi kenangan yang tidak memberikan bekal ilmu bahkan kematangan emosi,” ujar Rio.

Para peserta diskusi juga berbagi pandangan bahwa pengetahuan dari pengalaman memiliki keistimewaan. Pengalaman akan bertahan dalam memori dan sulit hilang. Pengalaman juga memberi ruang melihat dan memahami aneka peristiwa nyata dan membuat siapapun tak bertahan dalam teori yang kadang terpaut jaug dari realitas.

Sedangkan Maiton Gurik mengatakan, pengalaman pribadi atau kelompok juga memiliki batasan. Jika pengalaman hanya berpijak pada proses visual personal ia berpotensi menjadi subjektif.

“Pengalaman personal perlu diperkaya dengan dengan pengalaman orang lain dari kebiasaan bacaan, pengetahuan, dan diskusi untuk menambah wawasan. Namun, pengalaman personal tetap mesti terbuka terhadap pemahaman orang lain yang mungkin berbeda,” kata Maiton, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.

Diskusi mengerucut dalam sejumlah poin penting. Poin-poin dimaksud yaitu pengalaman adalah sumber pengetahuan otentik, nyata, dan mendasar bagi setiap manusia. Selain itu, agar menjadi ilmu yang bermanfaat pengalaman harus diimbangi refleksi mendalam guna mengasah kepekaan batin.

Pengetahuan dari yang berasal pengalaman perjumpaan perlu diperkaya melalui diskusi guna menambah wawasan sehingga setiap orang semakin memiliki pengetahuan lebih luas.

“Berbagi pengalaman dengan orang lain atau dalam kelompok komunal adalah diperlukan guna menambah wawasan, pengetahuan, dan memperkokoh persatuan mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks ini, Papua masih membutuhkan kita semua, terutama generasi muda,” kata Maiton. (*)