Bukan Karena Blood, Tapi Budi Ilahi
Mereka disapa Bas-Hila. Bukan baru seminggu mereka melangkah, bukan pula sebulan, bahkan bukan sekadar hitungan setahun. Sudah dua dekade lebih melintasi masa, mereka adalah kaka-adik, mereka adalah sekawan sejati. Kaka Bas dan Adik Hila saling menyapa dengan kehangatan jiwa, namun kalian menyapa mereka sebagai Kaka Bas dan Kaka Hila. Sebab mereka sesungguhnya sebapa dan semama; bukan menurut ikatan darah satu saudara biologis, melainkan dipersatukan oleh jalinan Iman, Roh, dan Kebenaran.
Jika melihat secara daging, asal mereka memang terpisah. Darah mereka berbeda menurut jalur biologis. Namun jangan pernah berpikir bahwa mereka asing satu sama lain, atau kalian akan tertipu oleh penglihatan yang dangkal. Mereka tidak bertutur dengan kata dan laku manusia biasa; mereka menyapa kita dengan Bahasa Asali yang Abadi. Mungkin batinmu bertanya meragu: “Bagaimanakah gerangan hal ini dapat terjadi? Haruskah ini dipercaya ataukah sekadar bunga-bunga kata?” Cobalah bertanya menggunakan budi ilahi dan memandanglah melalui mata jiwani—maka kalian akan menyaksikan kebenaran hakiki: bahwa sesungguhnya, mereka berasal dari Satu Asali yang sama.
Panggilan, Ayaman Hikmat di Abepura
Dahulu kala, Kaka Bas dipilih oleh Sang Ilahi. Takdir mengetuk dadanya: Jadilah pemegang Sabda Asali! Jadilah Pewarta Sabda Bahagia! Insan dan alam Argapura berdiri menjadi saksi bisu, sementara insan dan seluruh alam Jayapura bersiap menjadi ruang perayaan pesta iman. Pada masa itu pula, Kaka Hila masih menyusu ilmu di pundak ibundanya—ia yang disapa “Mama Gereja”. Di kala itu, Kaka Hila sedang dianyam oleh jemari hikmat, ditanamkan benak pengetahuan di bawah naungan “Sang Fajar Timur”.
Ibunda Gereja dan Sang Kekasih Hikmat —ayah bapanya Fajar Timur— mempertemukan Kaka Bas dan Adik Hila melalui tangan Sang Gembala Pemiliknya, Sang Gembala Baik Abepura. Waktu menempa mereka hingga matang dan dewasa. Mereka mulai sanggup berdiri dan melangkah dengan kaki sendiri, sanggup berumah dan berkebun secara mandiri, berdikari dari ayahnya Sang Fajar dan Ibundanya Bunda Gereja. Dan di tanah Abepura itulah, tempat mereka berdua akhirnya bersatu dan berteduh.
Tatapan Rusa dan Jejak Gembala
Saat ikatan itu makin mengakar, sang adik—Apkulol—mengikuti jejak langkah mereka dengan perlahan namun pasti. Apkulol memandang kedua kakaknya dengan mata yang jernih tetapi amat tajam; tatapan mata Apkulol menusuk dalam, tajam bagaikan mata rusa di rimba. Kaka Bas dan Kaka Hila melangkah bersama seirama menyusuri satu jalan tunggal. Mereka tertawa ria, mengukir senyum simpul yang dihiasi warna ketulusan Sabda—sebuah pendar yang menarik begitu banyak insan untuk ikut berteduh dalam genggaman kasih Sang Kekasih Bunda Gereja.
Kaka Hila kian terpesona mengikuti warna-warni kehidupan yang menghiasi Kaka Bas. Kian hari jiwa mereka kian matang. Dan kini, giliran masa memisahkan raga: mereka melangkah ke medan masing-masing, memegang pedang Salib sembari mengunyah Sabda Bahagia sebagai Gembala bagi domba-domba.
Kini Kaka Bas dipanggil menuju negeri yang melimpah susu dan madu: Lembah Hubula, Lembah Baliem. Di sana, Kaka Bas menyatukan kelezatan santapan bumi pertiwi Baliem dengan Manna Surgawi yang diturunkan dari langit—bagaikan hujan jernih yang dicurahkan tanpa henti. Di bawah kepak sayap hikmat Kaka Bas di Lembah Hubula itulah, Adik Apkulol ikut berteduh.
Lalu dentang lonceng Gereja bergema keras. Itulah lonceng warta bahagia bahwa Kaka Hila telah sah menjadi Sahabat Imam, berdiri sejajar bersama kakaknya, Kaka Bas, di alam leluhur Aplim-Apom.
Satu Meterai di Negeri Berbintang
Pelukan hangat merengkuh seerat-eratnya hingga menyentuh sukma. Air mata jiwa menetes lambat, membasahi pipi. Itulah Satu Pelukan, Satu Pukulan Surgawi, Satu Sentuhan dalam saya meterai imamat yang mengikat satu jiwa dalam dua raga—Satu Jalan dalam dua kandang, Satu Roh dalam Terang Hikmat Sang Pemilik Semesta.
“Bersatu teguh, bersama kita akan semakin kokoh!”—demikian kata hati Kaka Bas bergema saat mereka berpelukan erat di Negeri Berbintang. Kita bukan lagi dua, melainkan Satu di dalam dan oleh karena Sang Gembala Utama kita: Emanuel.
Kaka Bas dan Kaka Hila, tak ada kata yang sanggup melebihi indahnya hiasan puisi adindamu, Puduuwiyai. Ia bahkan tak berani menatap lama pada fotomu, sebab sang adik tahu betul siapa Kaka berdua. Ada sejuta kata yang terungkap di dalamnya, ada sejuta makna yang membongkar tabirnya, sebab kalian telah menyatu nyata di dalam Sang Misteri.
Memandang sekejap pada foto itu: Kaka Bas menatap Adik Hila dengan tatapan tajam yang nilainya melebihi emas murni. Dan Adik Hila tak lagi berani menatap langsung Kaka Bas; hanya ada tatapan syukur dan pujian yang diumbul ke langit, menyembah Sang Ilahi, Pemilik Seluruh Ciptaan.
Pelepas Tangis di Kebun Anggur
Kini saatnya! Kaka dan Adik melangkah dalam Satu Imamat! Kini waktunya Kaka dan Adik membahasakan kehidupan dalam Satu Roh! Kini masanya Kaka dan Adik saling memandang dalam satu naungan Gembala, karena kalian berdua telah menuai buahnya.
Kini saatnya kalian melepas tangis sedu batin yang sekian lama menghiasi tiap langkah pewartaan di kebun anggur Tuhan. Kini masanya air mata rindu terusapi hingga tuntas, sebab kalian telah melihat barisan pasukan yang kuat berdiri setia di belakangmu!
Kaka Bas dan Adik Hila dipanggil oleh Sang Gembala Utama menuju negeri tempat Fajar Terbenam, berkumpul bersama kolega imam se-Nusantara di negeri yang jauh —di tanah Horas. Biarlah segala duka nestapa, segala tangisan sedih, dan semua doa rintihan sendu kini terlepas sudah, larut bersama Sang Fajar yang Terbenam.
Di balik tatapan pujian dan senyum manis yang kalian persembahkan kepada Kaka Yesus, Apkulol —adik jiwamu— melihat kibaran sampari kemenangan di setiap persinggahan jalan. Kalian telah mengibarkan bendera kebahagiaan di setiap tempat kalian berteduh!
Senjata Kemenangan dan Fajar Papua
Marlah dan datanglah! Bawalah butir-butir peluru Sabda ke Tanah Papua! Kemarilah dengan tekad bulatmu untuk Ibundamu Gereja dan Sang Ayahmu Fajar Timur. Sebab bukan lagi satuan, bukan belasan, melainkan puluhan pasukan adik-adikmu siap menanti dan menyambut kedatangan Kaka Bas dan Kaka Hila!
Lihatlah! Saat kakimu kelak menginjakkan tapak di Bandara Theys Hiyo Eluay Sentani, saksikanlah Fajar menyingsing terang gemilang, menyunggingkan senyum tanda sukacita! Lihatlah Mama Papua meniupkan angin sepoi-sepoi yang teduh, bagai kepakan ruang gembira yang menggoyangkan buah dadanya —bagaikan baling-baling pesawat yang meniupkan angin kencang penuh kehidupan!
Tidaklah sia-sia tiap langkah kalian berdua pergi ke negeri yang jauh demi memburu Sang Sabda Kebenaran Ilahi. Tidaklah ada penyesalan atas segala tekad bulat saat melangkahi setiap lorong perbukitan demi menjemput Sang Sabda Abadi. Sebab tujuan searahmu, selangkahmu, dan seikat nekatmu akan menjadi Senjata Kemenangan untuk mengusir Lusifer—sang musuh kegelapan yang mendustai manusia menuju jurang penderitaan.
Bersama pasukan kemenangan, adik-adikmu telah siap menyambut dengan sekuat tenaga! Rapatkan barisan! Seikatpinggangkan keadilan! Berbajusirahkan kebenaran dengan memikul senjata Firman di dada dan noken Sabda di pundak! Mari melangkah bersama semua domba, menuntun mereka menuju Tempat Abadi.
Sebab kini jalan-Nya telah terang benderang: Jalan Kebenaran
Kini lorong-Nya telah nyata: Lorong Keadilan
Sudah tahu tempat-Nya: Tempat Kehidupan
Sudah tahu saatnya: Masa Kemenangan Akhir
Bukan lagi barang fana, bukan lagi bahan duniawi—Dialah Sang Sabda, Dialah Mesias; Nabi, Imam, dan Pemimpin Asali, Raja Kekal dari Kekal segala abad. Amin
Jayapura, 22 September 2026
Karya Yance Dou
(Kisah imamat sekawan kakak-adik, Bas-Hila)
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










