Oleh Yosua Noak Douw
Tokoh Muda Kristiani di Tanah Papua
APA sesungguhnya arti hidup dalam damai sejahtera? Pertanyaan ini sederhana tetapi sangat penting ketika ditempatkan dalam kehidupan Papua taya. Damai tidak cukup diartikan sebagai tidak adanya perang, pertikaian atau suara senjata. Demikian pula kesejahteraan tidak cukup diukur dari banyaknya uang, jalan, gedung, kendaraan atau proyek pembangunan.
Damai sejahtera adalah keadaan ketika manusia merasa aman di rumahnya, dihargai martabatnya, memperoleh keadilan, dapat bekerja, berkebun dan membesarkan anak-anak, memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan, menjalankan iman dan kebudayaannya serta mempunyai harapan akan hari esok. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Karena itu, perdamaian bukan sekadar sesuatu yang kita tunggu. Perdamaian harus dikerjakan.
Papua yang damai harus dimulai dari manusia yang berdamai. Kita dapat berbicara tentang perdamaian bangsa dan dunia, tetapi apabila dalam hati masih dipelihara kebencian, iri hati, dendam, permusuhan dan keinginan membalas, maka perdamaian besar sulit dibangun. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).
Artinya, setiap manusia mempunyai tanggung jawab menjadi pembawa damai: belajar mengendalikan emosi, berkata jujur, meminta maaf, memberi pengampunan, menghargai orang lain dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan. Perdamaian Papua dengan demikian dimulai dari hati orang Papua dan setiap orang yang hidup di Tanah Papua.
Rumah dan Halaman: Tempat Perdamaian Pertama
Sebelum ada kampung, kabupaten, provinsi dan negara, ada keluarga. Rumah adalah sekolah perdamaian pertama. Di sanalah seorang anak belajar tentang kasih, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, penghormatan dan pengampunan. Dalam konteks Papua, rumah dan halaman mempunyai makna lebih luas. Di sekitarnya terdapat keluarga besar, kebun, ternak, tanah, sumber air dan hubungan sosial.
Karena itu, membangun Papua jangan hanya berbicara tentang gedung pemerintahan dan infrastruktur besar. Kita juga harus bertanya: apakah rumah tangga hidup aman? Apakah anak mendapatkan makanan? Apakah perempuan terlindungi? Apakah halaman bersih? Apakah keluarga memiliki sumber penghidupan? Papua yang damai dimulai dari rumah yang damai.
Papua mempunyai identitas masyarakat yang kaya. Orang asli Papua hidup dalam keragaman suku, bahasa, marga, adat, wilayah dan kebudayaan sekaligus memiliki hubungan antropologis dan kebudayaan dengan dunia Melanesia. Identitas itu tidak seharusnya menjadi tembok untuk memusuhi orang lain. Identitas harus menjadi akar yang membuat manusia mengetahui siapa dirinya sehingga mampu berdiri dengan bermartabat sekaligus menghormati manusia lain.
Orang Papua tidak perlu kehilangan identitasnya untuk memasuki modernitas. Modernisasi seharusnya memperluas kemampuan manusia tanpa mencabut akar kehidupannya. Karena itu, pembangunan manusia Papua harus memungkinkan generasi baru menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sambil tetap mengenal bahasa, marga, adat, tanah, sejarah keluarga dan nilai kehidupan leluhurnya.
Geografi harus menentukan cara kita membangun. Papua adalah wilayah yang tersekat alam pegunungan, lembah, hutan, rawa, sungai, pesisir dan kepulauan. Perbedaan geografis itu membentuk cara manusia tinggal, makan, bekerja, bepergian dan berinteraksi. Karena itu, pendekatan pembangunan yang berhasil di kota belum tentu berhasil di pegunungan. Model pelayanan di pesisir belum tentu sesuai untuk masyarakat di pedalaman.
Keadilan pembangunan bukan berarti memberikan hal yang persis sama kepada semua wilayah. Keadilan berarti memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat. Sekolah, Puskesmas, transportasi, perumahan, telekomunikasi dan ekonomi harus dirancang berdasarkan realitas geografis Papua.
Kebun, Pertanian dan Ternak: Kesejahteraan dari Tanah Sendiri
Damai sejahtera juga harus hadir di kebun. Selama berabad-abad, masyarakat Papua hidup melalui hubungan dengan tanah dan alam. Ubi jalar, keladi, sagu, pisang, sayuran, kopi, buah merah, ternak, perikanan dan berbagai sumber pangan lokal bukan hanya komoditas ekonomi. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan.
Kita perlu mengembalikan kebanggaan untuk menghasilkan pangan. Generasi muda jangan hanya dipersiapkan menjadi pencari pekerjaan. Mereka juga harus dipersiapkan menjadi pencipta pekerjaan: petani modern, peternak, pengusaha, pengolah hasil pertanian, pelaku UMKM dan inovator ekonomi kampung. “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).
Ada dua pesan: mengusahakan dan memelihara. Alam boleh dimanfaatkan, tetapi tidak boleh dihancurkan. Tanah dan alam adalah warisan kehidupan. Bagi banyak masyarakat adat Papua, tanah bukan hanya aset ekonomi. Tanah berkaitan dengan keluarga, leluhur, marga, kebudayaan, sumber pangan dan generasi yang akan datang.
Karena itu pembangunan perlu mempertemukan kemajuan dengan keberlanjutan. Hutan, gunung, sungai, danau dan laut harus memberikan kehidupan hari ini tanpa kehilangan kemampuan memberikan kehidupan kepada anak cucu. Jangan sampai generasi sekarang mewariskan gedung yang megah tetapi hutan yang rusak, sungai yang tercemar dan tanah yang kehilangan daya hidupnya. Papua bukan satu suku, satu bahasa atau satu adat. Keragaman adalah kenyataan kehidupan.
Kita membutuhkan masyarakat yang dapat mengatakan: saya bangga dengan identitas saya, tetapi saya juga menghormati identitas saudara saya. Musyawarah, kekeluargaan, gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, peranan kepala suku, tokoh perempuan, pemuda dan gereja merupakan modal sosial yang dapat dipakai untuk membangun perdamaian. “Sedangkan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yakobus 3:18). Perdamaian harus menghasilkan kehidupan sosial yang adil.
Gereja Harus Menjadi Rumah Perdamaian
Gereja mempunyai tempat penting dalam perjalanan masyarakat Papua. Karena itu gereja tidak cukup berbicara tentang surga sambil mengabaikan penderitaan manusia di bumi. Gereja dipanggil untuk mendidik, mendamaikan, menghibur, mempertemukan pihak yang berbeda, membela martabat manusia, menjaga keluarga serta membentuk generasi yang takut akan Tuhan.
Ketika masyarakat terpecah, gereja harus menjadi jembatan. Ketika ada kebencian, gereja membawa pengampunan. Ketika ada keputusasaan, gereja menyalakan harapan. Politik harus kembali kepada kemanusiaan. Politik dalam kehidupan demokratis seharusnya menjadi ruang pengabdian dan pengelolaan kepentingan publik, bukan alasan untuk memutus persaudaraan.
Perbedaan pandangan politik adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi kebencian, diskriminasi dan kekerasan. Masyarakat harus memiliki ruang menyampaikan aspirasi secara damai. Pemerintah harus mampu mendengar. Perbedaan kepentingan harus dikelola melalui hukum, mekanisme demokratis dan dialog.
Kekuasaan pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan digunakan untuk pelayanan. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26).
Ukuran keberhasilan pemerintahan bukan hanya besarnya APBD atau banyaknya program. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat? Apakah anak-anak bersekolah? Apakah guru hadir? Apakah ibu melahirkan dengan aman? Apakah obat tersedia? Apakah masyarakat mempunyai air bersih? Apakah hasil kebun dapat dijual? Apakah masyarakat di kampung merasakan kehadiran negara?
Dalam kerangka Otonomi Khusus Papua, kebijakan afirmatif terhadap OAP harus diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas manusia dan pelayanan yang nyata: pendidikan, kesehatan, ekonomi, perlindungan sosial, infrastruktur dasar dan pemberdayaan. Anggaran adalah alat. Manusia adalah tujuan. Tidak ada perdamaian kokoh tanpa keadilan.
Pembangunan fisik penting, tetapi jalan dan gedung tidak dapat sendirian menyembuhkan luka sosial. Masyarakat membutuhkan rasa keadilan, kepastian hukum, penghormatan, ruang untuk didengar dan kepercayaan kepada institusi.
Karena itu, hukum harus ditegakkan secara adil. Korupsi dan penyalahgunaan kewenangan harus dicegah. Masyarakat sipil harus dilindungi. Perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas dan kelompok rentan harus memperoleh perlindungan. “Yang dituntut Tuhan dari padamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.” (Mikha 6:8). Keadilan dan perdamaian tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama.
Dari Kekerasan Menuju Dialog
Kekerasan selalu meninggalkan harga yang mahal. Ketika kekerasan terjadi, masyarakat sipil dapat menjadi korban. Sekolah berhenti. Pelayanan kesehatan terganggu. Ekonomi melemah. Keluarga berpindah. Anak-anak hidup dalam ketakutan.
Karena itu, setiap perbedaan perlu diupayakan penyelesaiannya melalui hukum, komunikasi, mekanisme demokratis dan dialog yang menghormati martabat manusia. Dialog tidak berarti semua orang harus berpikir sama. Dialog berarti kita mengakui bahwa orang yang berbeda pandangan tetap manusia yang martabatnya harus dihormati.
Perdamaian yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak Papua dapat memandang masa depannya dengan harapan. Anak-anak dan pemuda membutuhkan sekolah yang baik, guru, kesehatan, teknologi, olahraga, seni, pekerjaan, kewirausahaan dan ruang kepemimpinan.
Mereka harus dipersiapkan bukan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi pelaku perubahan. Pendidikan Papua harus menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara karakter, sehat secara jasmani, matang secara rohani, mengenal kebudayaannya dan mampu hidup dalam dunia global.
Papua Raya harus menjadi rumah yang cukup besar untuk kehidupan bersama. Orang asli Papua harus memperoleh penghormatan terhadap identitas, hak, kebudayaan dan ruang kehidupannya. Pada saat yang sama, persaudaraan kemanusiaan perlu dipelihara di antara semua orang yang hidup berdampingan.
Rumah bersama bukan berarti semua orang kehilangan identitas. Justru rumah bersama menjadi kuat ketika setiap orang dapat mengatakan, ‘saya mengetahui siapa saya, saya menghormati siapa saudara saya, dan kita menjaga rumah ini bersama-sama.’
Pesan Papua untuk Indonesia dan Dunia
Dunia modern sedang menghadapi konflik, kerusakan lingkungan, ketimpangan, perebutan sumber daya dan melemahnya solidaritas sosial. Papua dapat menyampaikan pesan sederhana kepada dunia: manusia tidak dapat hidup hanya dengan kekuasaan dan materi.
Kita membutuhkan tanah. Kita membutuhkan keluarga. Kita membutuhkan alam. Kita membutuhkan kebudayaan. Kita membutuhkan keadilan. Kita membutuhkan sesama. Dan kita membutuhkan Tuhan. “Usahakanlah kesejahteraan kota … dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Di sinilah doa dan pembangunan bertemu.
Pada akhirnya, perjalanan panjang itu dapat dipadatkan dalam lima nilai: damai, keadilan, martabat, persaudaraan, dan kesejahteraan. Damai tanpa keadilan akan rapuh. Keadilan tanpa penghormatan terhadap martabat kehilangan jiwa kemanusiaannya. Martabat tanpa persaudaraan dapat melahirkan jarak. Persaudaraan tanpa kesejahteraan akan menghadapi ketimpangan. Dan kesejahteraan tanpa perdamaian sulit bertahan.
Karena itu, membangun Papua raya harus berarti membangun manusia seutuhnya. Damai hatinya. Kuat keluarganya. Layak rumahnya. Produktif kebunnya. Terpelihara adatnya. Terjaga tanah dan hutannya. Terdidik anak-anaknya. Sehat masyarakatnya. Terbuka dialognya. Adil hukumnya. Melayani pemerintahannya. Bertumbuh ekonominya. Kokoh imannya. Dan bermartabat manusianya.
Inilah makna hidup dalam damai sejahtera. Bukan sekadar sebuah slogan untuk Papua, tetapi panggilan kehidupan: dari pribadi menuju keluarga, dari keluarga menuju kampung, dari kampung menuju masyarakat, dari masyarakat menuju bangsa, dan dari Papua menyampaikan pesan kemanusiaan kepada dunia.
Papua raya tidak hanya membutuhkan pembangunan. Papua membutuhkan kehidupan yang dibangun. Dan kehidupan itu harus kita bangun bersama. Damai tanahnya — sejahtera rakyatnya — terjaga alamnya — dihormati adatnya — mulia manusianya.









