OPINI  

Kaum Muda Papua, Bersatulah!

Ben Senang Galus, Esais dan Pengamat Papua ; Tinggal di Yogyakarta. Foto: Istimewa

Oleh Ben Senang Galus

Esais dan Pengamat Papua ; Tinggal di Yogyakarta

DALAM sejarah politik modern kaum muda sering menempati posisi istimewa sebagai kekuatan perubahan. Mereka bukan sekadar peserta dalam kehidupan politik, melainkan juga penjaga kesadaran kritis masyarakat. Di berbagai belahan dunia, kaum muda tampil sebagai kelompok yang berani mempertanyakan kemapanan, mengkritik penyalahgunaan kekuasaan serta memperjuangkan demokrasi, keadilan, kebebasan, dan perubahan sosial.

Namun, kekuatan kaum muda tidak semata-mata terletak pada jumlah massa yang mampu mereka mobilisasi. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada gagasan, keberanian intelektual, dan kemampuan membaca persoalan secara mendalam. Dalam konteks Papua peran tersebut menjadi semakin penting. Persoalan yang dihadapi masyarakat Papua tidak sederhana dan tidak dapat dibaca hanya dari satu sudut pandang.

Pendidikan, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, masyarakat adat, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan, kebudayaan, demokrasi, pemerintahan hingga masa depan generasi muda merupakan persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, kaum muda Papua tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk bersuara; mereka juga harus memiliki kemampuan untuk memahami persoalan secara utuh.

Di sinilah seruan “kaum muda Papua, bersatulah!” memperoleh maknanya. Seruan tersebut tidak semestinya dipahami sekadar sebagai ajakan untuk berkumpul, membangun organisasi atau melakukan mobilisasi politik. Persatuan yang dibutuhkan Papua adalah persatuan yang memiliki dasar intelektual, moral, dan sosial. Persatuan yang mampu mengubah keresahan menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi organisasi, dan organisasi menjadi kerja nyata bagi masyarakat.

Persatuan tanpa gagasan mudah berubah menjadi kerumunan. Keberanian tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi tindakan yang kehilangan arah. Sebaliknya, pengetahuan tanpa keberanian dapat berhenti sebagai diskusi yang tidak pernah menyentuh kenyataan. Karena itu, kaum muda Papua membutuhkan perpaduan antara pikiran yang kritis, keberanian yang bertanggung jawab, dan tindakan yang terorganisasi.

Kaum muda Papua memiliki peran historis yang penting dalam menjaga kehidupan demokrasi dan mengoreksi penyalahgunaan kekuasaan. Akan tetapi, kekuatan tersebut hanya akan memiliki legitimasi apabila dibangun di atas tradisi intelektual yang kuat. Kajian yang mendalam bukanlah hambatan bagi gerakan. Sebaliknya, kajian adalah fondasi yang membuat gerakan memiliki arah, kredibilitas, dan tanggung jawab moral.

Ancaman terbesar bukanlah kaum muda yang kritis, melainkan kaum muda yang berhenti berpikir. Ketika aksi menggantikan refleksi, slogan menggantikan argumentasi, dan emosi menggantikan pengetahuan, gerakan kaum muda berisiko kehilangan identitas intelektualnya. Dalam kondisi demikian, gerakan dapat terseret menjadi sekadar arus politik yang bergerak cepat, tetapi tidak memiliki kompas yang jelas.

Karena itu, kaum muda Papua harus membangun tradisi yang berbeda. Tugas mereka bukan hanya turun ke jalan, tetapi juga turun ke perpustakaan, masuk ke ruang-ruang diskusi, melakukan penelitian, membaca dokumen, memeriksa data, dan turun langsung ke tengah masyarakat. Mereka harus hadir di kampung, berbicara dengan petani, mendengar nelayan, memahami kehidupan masyarakat adat, berdialog dengan pekerja, dan melihat secara langsung persoalan yang dihadapi rakyat.

Sebab Papua tidak dapat dipahami hanya dari ruang seminar atau media sosial. Papua harus dipahami melalui perjumpaan antara teori dan kenyataan, antara pengetahuan dan pengalaman, antara ruang akademik dan kehidupan masyarakat.

Seorang mahasiswa yang mempelajari ekonomi Papua harus berani melihat bagaimana ekonomi bekerja di pasar dan kampung. Mereka yang mempelajari hukum harus memahami bagaimana hukum dirasakan oleh masyarakat. Mereka yang mempelajari politik harus melihat bagaimana kekuasaan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang mempelajari lingkungan harus memahami hubungan masyarakat dengan tanah, hutan, sungai, dan laut. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak menjadi sesuatu yang jauh dari rakyat tetapi menjadi alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan rakyat.

Dalam tradisi filsafat, keberanian tidak pernah berdiri sendiri. Keberanian membutuhkan kebijaksanaan agar tidak berubah menjadi tindakan yang gegabah. Demikian pula pengetahuan membutuhkan keberanian agar tidak berhenti menjadi teori. Perubahan yang bermakna lahir ketika keberanian bertemu dengan pengetahuan dan ketika pengetahuan diterjemahkan menjadi tindakan yang bertanggung jawab.

Pendidikan Adalah Infrastruktur Politik

Kita terlalu sering membicarakan infrastruktur fisik dan terlalu sedikit membicarakan infrastruktur intelektual. Sekolah adalah infrastruktur. Guru adalah infrastruktur. Perpustakaan adalah infrastruktur. Internet adalah infrastruktur. Kampus adalah infrastruktur. Pengetahuan adalah infrastruktur. Tanpa itu semua, generasi muda akan sulit menjadi pelaku ekonomi, birokrat yang profesional, pengusaha, ilmuwan, guru, dokter, teknisi, seniman atau pemimpin politik yang memiliki kemampuan.

Ketimpangan pendidikan mempunyai konsekuensi ekonomi: anak yang tidak menguasai keterampilan dasar lebih berisiko memasuki pekerjaan yang tidak aman dan berpenghasilan rendah. Karena itu, kaum muda Papua harus berhenti memandang pendidikan sekadar sebagai jalan memperoleh ijazah.

Anak muda yang menguasai ilmu ekonomi dapat memahami bagaimana kekayaan daerah dikelola. Anak muda yang menguasai hukum dapat memahami hak masyarakat. Anak muda yang menguasai teknologi dapat menciptakan usaha. Anak muda yang menguasai sejarah dapat memahami identitasnya. Anak muda yang memahami politik dapat mengawasi kekuasaan. Pengetahuan membuat rakyat tidak mudah menjadi objek.

Menguasai Substansi Politik

Representasi politik penting. Tetapi representasi tanpa kapasitas dapat menjadi kosong. Papua membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya hadir di ruang politik tetapi menguasai substansi politik.

Berapa besar anggaran daerah? Ke mana uang publik mengalir? Bagaimana sumber daya alam dikelola? Apa dampaknya terhadap masyarakat adat? Bagaimana kualitas pendidikan? Bagaimana angka kemiskinan berubah? Berapa banyak lapangan pekerjaan yang tercipta? Bagaimana kebijakan pembangunan memengaruhi perempuan dan masyarakat di kampung?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang paling keras berteriak di ruang publik. Politik membutuhkan keberanian tetapi juga membutuhkan data. Politik membutuhkan idealisme tetapi juga membutuhkan kemampuan administrasi. Politik membutuhkan keberpihakan tetapi juga membutuhkan integritas. Karena itu, agenda kaum muda Papua harus bergeser: dari politik simbolik menuju politik pengetahuan dan kerja nyata.

Bukan Dekorasi Pembangunan

Papua memiliki sumber daya alam yang besar. Namun ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya bukan sekadar berapa banyak sumber daya yang diekstraksi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang memperoleh manfaat?

Jika sumber daya diambil dari tanah Papua tetapi masyarakat lokal tidak memperoleh pendidikan yang bermutu, pekerjaan yang layak, infrastruktur dasar, dan kesempatan memiliki usaha, maka pembangunan harus dievaluasi secara kritis. Sosialisme kerakyatan Papua menawarkan satu prinsip sederhana: rakyat harus menjadi subjek ekonomi.

Artinya, koperasi harus diperkuat. Usaha kecil harus memperoleh akses terhadap modal dan teknologi. Petani dan nelayan harus mempunyai posisi tawar. Anak muda harus didorong menjadi pencipta usaha, bukan hanya pencari pekerjaan. Tetapi ini juga berarti kaum muda harus mempersiapkan diri. Tidak cukup mengatakan, “Papua harus dikuasai orang Papua.” Pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita telah membangun kemampuan agar orang Papua mampu mengelola Papua? Ini pertanyaan yang lebih sulit —dan justru karena itu harus ditanyakan.

Perancang Masa Depan

Salah satu kesalahan terbesar dalam pembangunan adalah menjadikan masyarakat adat sekadar objek konsultasi. Sebagai dekorasi pembangunan.

Masyarakat adat seharusnya bukan hanya diundang ketika sebuah proyek sudah dirancang. Mereka harus dilibatkan sejak awal ketika menentukan apakah sebuah proyek diperlukan, bagaimana bentuknya, siapa yang memperoleh manfaat, dan bagaimana dampaknya terhadap tanah serta kehidupan sosial.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui mekanisme yang membahas masyarakat adat menekankan pentingnya keterlibatan pemuda adat dalam pengambilan keputusan, termasuk melalui ruang partisipasi dan kepemimpinan pemuda. Gagasan itu relevan bagi Papua. Pemuda adat bukan sekadar pewaris kebudayaan, bukan sebagai dekorasi pembangunan.

Mereka harus menjadi perancang masa depan masyarakatnya. Perancang masyarakat adil dan makmur. Perancang sosialisme ekonomi. Perancang kemerdekaan. Perancang masyarakat adil dan makmur. Karena itu, modernisasi tidak boleh berarti memutus hubungan dengan adat. Sebaliknya, masyarakat dapat mengambil ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan identitas dan pengetahuan lokalnya.

Papua bukan satu warna. Ada banyak suku, bahasa, wilayah, agama, pengalaman, dan kepentingan. Karena itu, seruan persatuan harus dibangun dengan penghormatan terhadap keberagaman. Persatuan yang sehat bukanlah tuntutan agar semua orang berpikir sama. Persatuan berarti mampu bekerja bersama meskipun berbeda.

Kaum muda dari pegunungan harus dapat berdialog dengan kaum muda pesisir. Kaum muda kota harus mendengarkan kampung. Kaum muda harus berdialog dengan petani. Aktivis harus berbicara dengan pengusaha muda. Tokoh adat harus berdiskusi dengan generasi digital. Dari dialog itulah identitas politik yang matang dapat lahir.

Jangan Wariskan Kebencian

Persoalan Papua juga mempunyai dimensi keamanan, kekerasan, hak asasi manusia, dan konflik politik yang kompleks. Dalam situasi seperti itu, generasi muda mempunyai tanggung jawab besar untuk tidak mewariskan kebencian atau konflik sebagai satu-satunya bahasa politik.

PBB menekankan pentingnya partisipasi masyarakat adat dan dialog bermakna dalam pembangunan dan perdamaian. Dalam forum PBB terbaru, menyatakan bahwa partisipasi masyarakat dan dialog merupakan bagian penting dari pendekatan terhadap masyarakat adat di Papua.

Karena itu, kaum muda Papua perlu membangun tradisi politik yang berani tetapi tidak kehilangan kemanusiaan. Kritik terhadap negara adalah bagian dari demokrasi. Menuntut keadilan adalah hak. Memperjuangkan kepentingan masyarakat adalah kewajiban moral.  Tetapi semua itu harus dilakukan dengan menghormati kehidupan manusia dan membuka ruang bagi penyelesaian damai.

Menjadi Generasi Penentu

Di sinilah gagasan sosialisme kerakyatan Papua menghadapi ujian sesungguhnya. Jangan sampai sosialisme hanya menjadi kata yang indah. Jika berbicara tentang rakyat, buktikan dengan koperasi. Jika berbicara tentang keadilan, buktikan dengan pendidikan. Jika berbicara tentang kedaulatan, buktikan dengan kemampuan mengelola pemerintahan.

Jika berbicara tentang masyarakat adat, buktikan dengan perlindungan hak dan partisipasi nyata. Jika berbicara tentang tanah Papua, buktikan dengan menjaga lingkungan. Jika berbicara tentang masa depan, buktikan dengan mempersiapkan generasi muda. Jika berbicara tentang kemerdekaan, buktikan dengan semangat persatuan.  Dengan demikian, ideologi tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjadi cara bekerja.

Kaum muda Papua tidak membutuhkan romantisme kosong. Mereka membutuhkan sekolah yang baik, kampus yang kuat, internet yang terjangkau, pekerjaan yang bermartabat, ruang kebudayaan, organisasi yang sehat, pemerintahan yang transparan, dan kesempatan untuk mengambil keputusan.

Dunia pembangunan sendiri semakin menempatkan kualitas manusia dan keterampilan sebagai faktor penting produktivitas jangka panjang. Asian Development Bank, misalnya, menempatkan pengembangan modal manusia, teknologi, dan inovasi sebagai unsur penting dalam peningkatan produktivitas Indonesia.

Maka agenda pemuda Papua harus konkret. Bangun sekolah. Bangun koperasi. Bangun perpustakaan. Bangun perusahaan milik rakyat. Bangun pusat inovasi. Bangun organisasi pemuda yang demokratis. Bangun media yang independen dan bertanggung jawab. Bangun pemerintahan yang dapat diawasi. Dan yang paling penting: bangun manusia Papua. Sebab pada akhirnya, Papua tidak akan berubah hanya karena generasi mudanya marah. Generasi mudanya hanya berteriak kosong.

Papua berubah ketika kemarahan terhadap ketidakadilan diubah menjadi pengetahuan; pengetahuan menjadi organisasi; organisasi menjadi kerja; dan kerja menjadi perubahan sosial yang nyata.

Kaum Muda Papua, Bersatulah!

Bersatulah bukan untuk membenci kelompok lain. Bersatulah bukan untuk memperebutkan jabatan. Bersatulah bukan untuk menjadi massa yang mudah digerakkan oleh kepentingan elite. Bersatulah untuk menjadi generasi yang mampu berpikir sendiri. Bersatulah untuk membangun pendidikan. Bersatulah untuk memperkuat ekonomi rakyat.

Bersatulah untuk menjaga tanah dan lingkungan. Bersatulah untuk menghormati masyarakat adat. Bersatulah untuk memperjuangkan demokrasi. Bersatulah untuk menciptakan perdamaian. Bersatulah untuk meraih cita-cita kemerdekaan Papua. Dan bersatulah untuk memastikan bahwa pembangunan Papua tidak menjadikan rakyat sebagai penonton di tanahnya sendiri.  Tidak menjadi tamu di negerinya sendiri.

Sebab kehormatan tanah Papua tidak hanya terletak pada kekayaan alamnya. Kehormatan Papua terletak pada manusianya. Dan masa depan manusia Papua tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada siapa pun.

Kedaulatan rakyat. Keadilan sosial. Kehormatan tanah Papua. Itulah pekerjaan generasi muda. Bukan pekerjaan yang selesai dalam satu demonstrasi, satu kerumunan, atau satu periode pemerintahan. Melainkan pekerjaan satu generasi. Kaum Muda Papua, bersatulah —dan mulailah membangun masa depan dengan ilmu, keberanian, organisasi, dan kerja nyata.

Sejarah tidak pernah menunggu mereka yang hanya berdiri sebagai penonton. Sejarah bergerak bersama mereka yang berani berpikir, berani bermimpi, dan berani mengambil tanggung jawab atas masa depannya.

Papua memiliki tanah yang kaya, kebudayaan yang beragam, dan generasi muda yang memiliki harapan besar. Tetapi kekayaan itu tidak akan dengan sendirinya melahirkan keadilan. Masa depan tidak akan datang sebagai hadiah. Ia harus dipelajari, diperjuangkan, dibangun, dan dijaga bersama.

Karena itu, kaum muda Papua tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, dari ruang kelas, dari kampung, dari organisasi, dari buku yang dibaca, dari penelitian yang dilakukan, dari keberanian menyampaikan kebenaran, dan dari kerja nyata yang dilakukan tanpa pamrih.

Jangan biarkan perbedaan memecah persaudaraan. Jangan biarkan kepentingan sesaat mengalahkan cita-cita satu generasi. Jangan biarkan kekuasaan mengambil alih pikiran. Dan jangan biarkan siapa pun meyakinkan kita bahwa rakyat Papua harus selamanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Kita boleh berbeda dalam cara berpikir, tetapi kita dapat bersatu dalam martabat. Kita boleh berbeda dalam pilihan politik, tetapi kita dapat bersatu dalam kemanusiaan. Kita boleh berbeda dalam jalan perjuangan, tetapi kita dapat bersatu dalam cita-cita tentang Papua yang lebih adil dan bermartabat.

Maka, kaum muda Papua, bersatulah! Bersatulah dengan ilmu, bukan dengan kebencian. Bersatulah dengan keberanian, bukan dengan kesombongan. Bersatulah dengan organisasi, bukan dengan kerumunan tanpa arah. Bersatulah dengan demokrasi, bukan dengan kekerasan.Bersatulah dengan kerja nyata, bukan sekadar slogan.

Jadilah generasi yang tidak hanya bertanya apa yang telah diberikan kepada Papua, tetapi juga bertanya apa yang dapat kita berikan kepada Papua. Sebab Papua bukan sekadar tempat kita dilahirkan. Papua adalah tanggung jawab kita. Tanahnya adalah amanah. Rakyatnya adalah saudara. Kebudayaannya adalah warisan. Dan masa depannya adalah pekerjaan kita bersama.

Dari generasi inilah sebuah babak baru dapat dimulai: ketika kaum muda tidak lagi hanya menjadi objek sejarah, tetapi tampil sebagai subjek yang berpikir, bersuara, bekerja, dan menentukan arah masa depannya sendiri.