Oleh: Helga Maria Udam
Pendiri dan Pembina Ikatan Perempuan Grime Nawa (IPGN)
Ada satu cerita lama dari Grime Nawa yang penting untuk kita ingat kembali. Pada tahun 1952, di lembah ini berdiri Sekolah Gadis pertama di Tanah Tabi. Kehadiran sekolah itu menunjukkan bahwa perhatian terhadap kemajuan perempuan bukan hal baru bagi masyarakat Grime Nawa. Jauh sebelum kita ramai berbicara tentang pemberdayaan perempuan seperti sekarang, jalan itu sudah pernah dibuka.
Lebih dari tujuh puluh tahun telah berlalu. Zaman berubah dan kehidupan masyarakat ikut berubah. Kesempatan perempuan untuk mendapatkan pendidikan semakin terbuka. Anak-anak perempuan sekarang dapat bersekolah dan melanjutkan pendidikan lebih jauh. Namun, bukan berarti semua persoalan perempuan sudah selesai. Masih ada persoalan lama yang kita hadapi, sementara perubahan zaman juga membawa tantangan baru.
Di kampung-kampung Grime Nawa, perempuan tetap memegang peranan besar dalam kehidupan keluarga. Mama-mama membuka dan menjaga kebun, mencari sagu dan meramu di hutan, menganyam noken, menjual hasil di pasar, mengurus rumah, dan membesarkan anak-anak. Semua itu dilakukan setiap hari dan sering dianggap biasa. Padahal, dari kerja perempuanlah banyak kebutuhan keluarga dapat dipenuhi.
Di balik kerja keras itu, masih ada persoalan yang perlu kita perhatikan. Usaha perempuan umumnya masih kecil dan terbatas modal. Keterampilan mereka masih perlu dikembangkan. Pelayanan kesehatan belum selalu mudah didapatkan. Keselamatan perempuan di dalam rumah tangga juga belum sepenuhnya terjamin. Selain itu, masih ada perempuan yang belum mendapat ruang yang cukup untuk menyampaikan pendapat dan ikut dalam pengambilan keputusan.
Ada hal lain yang juga perlu kita pikirkan, yaitu bahasa ibu yang semakin jarang diucapkan oleh anak-anak. Bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui bahasa, seorang anak mengenal keluarga, lingkungan, adat, tumbuhan, makanan, dan banyak hal dari kehidupan masyarakatnya. Kalau bahasa perlahan hilang dari rumah, sebagian pengetahuan itu juga bisa ikut hilang.
Dalam pewarisan itu, perempuan mempunyai peranan penting. Banyak hal pertama kali dipelajari seorang anak dari rumah dan dari mamanya. Anak belajar bahasa, mengenal makanan, melihat cara mengolah hasil kebun, belajar menganyam noken, dan mengenal kebiasaan masyarakatnya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan perempuan, kita sebenarnya juga sedang berbicara tentang masa depan generasi berikutnya.
Di sinilah cerita tentang Sekolah Gadis tahun 1952 menjadi penting. Kita tidak mengingatnya hanya untuk mengenang masa lalu. Sejarah itu mengajak kita melihat kembali perjalanan perempuan Grime Nawa dan bertanya: kalau generasi terdahulu sudah membuka jalan bagi perempuan pada zamannya, apa yang harus kita lakukan untuk perempuan Grime Nawa hari ini?
Kebutuhan perempuan sekarang tentu sudah lebih luas. Pendidikan tetap penting, tetapi perempuan juga membutuhkan keterampilan untuk menjalankan usaha. Mama-mama yang bekerja di kebun dan berjualan perlu belajar mengelola uang, mengembangkan hasil kebun, memperoleh modal, dan memasarkan hasil usahanya. Anak-anak perempuan perlu didorong agar tidak putus sekolah. Perempuan juga perlu mendapat pengetahuan tentang kesehatan diri dan keluarga. Mereka yang mengalami kekerasan pun membutuhkan tempat untuk mengadu dan mendapatkan pendampingan.
Perempuan Grime Nawa juga perlu semakin berani berbicara dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Mereka perlu hadir dalam pertemuan yang membicarakan kehidupan kampung, belajar menyampaikan pendapat, dan memimpin musyawarah. Mereka juga perlu mengambil bagian dalam kehidupan adat, politik, dan pemerintahan. Perempuan mengalami dan melihat banyak persoalan dari dekat. Karena itu, suara mereka penting untuk didengar.
Semua itu akan sulit kalau perempuan berjalan sendiri-sendiri. Ada mama yang pandai menganyam noken. Ada yang mempunyai pengetahuan tentang kebun dan pangan lokal. Ada yang berpengalaman berdagang. Ada perempuan yang berpendidikan dan dapat membagikan pengetahuannya. Ada pula perempuan muda yang mempunyai semangat untuk belajar. Kalau semua kekuatan ini dipertemukan, perempuan dapat saling belajar dan saling menguatkan.
Karena itu, perempuan Grime Nawa membutuhkan ruang untuk bertemu, berbicara, belajar, dan bekerja bersama. Perempuan dari Namblong, Nimboran, Kemtuk, Gresi, dan Nawa mungkin menghadapi keadaan yang berbeda. Namun, mereka berada dalam satu wilayah adat dan mempunyai banyak kepentingan yang sama. Dari kebutuhan inilah gagasan membangun Ikatan Perempuan Grime Nawa mulai dirintis.
Ikatan ini diharapkan menjadi rumah bersama bagi perempuan Grime Nawa. Bukan untuk bersaing dengan organisasi lain. Bukan pula untuk mengambil alih peran lembaga adat, gereja, atau pemerintah. Kehadirannya diharapkan dapat melengkapi pekerjaan yang sudah dilakukan berbagai pihak, dengan memberi perhatian khusus pada kehidupan dan kemajuan perempuan.
Di dalam rumah bersama itu, perempuan dapat belajar mengembangkan usaha dan meningkatkan keterampilan. Mereka dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan dan mendapatkan pendampingan ketika mengalami kekerasan. Mereka juga dapat saling membantu dalam mendidik anak-anak. Bahasa ibu, keterampilan menganyam noken, pengetahuan tentang pangan lokal, tumbuhan berguna, dusun sagu, dan pengetahuan perempuan lainnya dapat terus dipelihara dan diwariskan.
Dari sana kita juga berharap lahir perempuan-perempuan yang percaya pada kemampuan dirinya. Perempuan yang berani berbicara, mampu memimpin pertemuan, dan memahami persoalan masyarakat. Perempuan yang siap mengambil bagian dalam kehidupan kampung, adat, politik, dan pemerintahan. Semua itu membutuhkan proses. Organisasi dapat didirikan dalam sebuah musyawarah, tetapi membangun perempuan yang mandiri, sehat, terampil, terlindungi, dan berani memimpin membutuhkan waktu dan kerja yang panjang.
Perjalanan ini juga membutuhkan dukungan banyak pihak. Keluarga, pemangku adat, gereja, pemerintah, dan berbagai pihak dapat mengambil bagian. Pemberdayaan perempuan bukan untuk menjauhkan perempuan dari keluarga dan masyarakatnya. Sebaliknya, ketika perempuan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang lebih baik, keluarga dan masyarakat juga akan merasakan manfaatnya.
Tahun 1952, sebuah jalan pernah dibuka melalui Sekolah Gadis di lembah ini. Generasi pada masa itu telah mengerjakan bagiannya. Hari ini zaman sudah berubah dan kebutuhan perempuan juga berkembang. Kita mungkin tidak lagi membangun Sekolah Gadis seperti dahulu, tetapi semangat untuk membuka jalan bagi perempuan tidak boleh berhenti. Sekarang giliran generasi kita melanjutkan jalan itu sesuai dengan kebutuhan perempuan hari ini.
Apa yang dirintis sekarang mungkin belum langsung menghasilkan perubahan besar. Tetapi sesuatu harus dimulai. Ketika perempuan Grime Nawa mau berkumpul, belajar, saling membantu, menjaga bahasa dan pengetahuan yang diwariskan oleh mama-mama terdahulu, serta menyiapkan anak-anak perempuan menghadapi masa depan, kita sedang membuka jalan baru.
Semoga suatu hari nanti anak-anak perempuan Grime Nawa melihat kembali perjalanan ini dan mengetahui bahwa generasi mama mereka pernah berusaha membuka jalan bagi mereka, seperti sebuah jalan pernah dibuka bagi perempuan Grime Nawa pada tahun 1952.









