Oleh Imanuel Gurik
Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua
PENDIDIKAN tidak sekadar berbicara tentang kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan menguasai teknologi. Pendidikan juga membantu seorang anak mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, bahasa yang diwarisinya, tanah tempat leluhurnya hidup serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakatnya.
Karena itu, di tengah kemajuan pendidikan modern, Sekolah Adat tetap penting untuk diperkuat dan dikembangkan. Meski di setiap sekolah nantinya terdapat pembelajaran muatan lokal (mulok) berbasis budaya dan kearifan lokal (local wisdom), Sekolah Adat tidak kehilangan perannya. Justru keduanya dapat berjalan bersama dan saling melengkapi.
Sekolah formal memberikan pendidikan melalui kurikulum dan sistem pembelajaran yang terstruktur. Sementara Sekolah Adat menjadi ruang belajar langsung dari sumber pengetahuan masyarakat: tua-tua adat, tokoh masyarakat, mama-mama, kepala suku, budayawan, serta mereka yang masih menyimpan pengetahuan tentang sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.
Belajar Langsung dari Pemilik Pengetahuan
Ada pengetahuan yang dapat ditulis dalam buku. Namun ada pula pengetahuan yang selama ratusan tahun diwariskan melalui cerita, pengalaman, praktik kehidupan, dan tutur lisan. Anak-anak perlu mengetahui asal-usul keluarga dan marganya.
Mereka perlu mengenal dusun dan tanah adatnya, memahami bahasa daerah, cerita rakyat, kesenian, nilai kehidupan, sistem kekerabatan, cara menghormati orang tua, serta bagaimana leluhur menjaga alam dan hidup bersama dalam komunitas.
Pengetahuan seperti ini akan lebih kuat apabila diajarkan langsung oleh orang-orang yang memahami dan menghidupinya. Di sinilah Sekolah Adat mempunyai keunikan.
Tua-tua adat bukan sekadar menjadi narasumber, tetapi menjadi guru kehidupan. Mereka membawa pengetahuan yang diperoleh dari generasi sebelumnya dan meneruskannya kepada anak-anak masa kini.
Bayangkan seorang anak belajar nama gunung, sungai, lembah dan dusun bukan hanya dari gambar, tetapi langsung mendengar cerita mengapa tempat itu diberi nama tertentu. Anak belajar bahasa daerah melalui percakapan.
Anak belajar berkebun dengan turun ke kebun, mengenal tanaman lokal, membangun honai, membuat kerajinan, menyanyikan lagu daerah, memahami tarian serta mendengar sejarah perjalanan masyarakatnya. Inilah pendidikan yang hidup.
Jangan sampai pengetahuan hilang bersama orang tua kita. Kita sedang menghadapi perubahan generasi. Banyak orangtua kita yang menyimpan pengetahuan adat semakin lanjut usia. Pada saat yang sama, anak-anak tumbuh bersama telepon pintar, internet, media sosial, dan budaya global.
Kemajuan teknologi tentu tidak boleh ditolak. Anak Papua harus maju, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing dengan siapa pun. Tetapi kemajuan tidak harus membuat seseorang kehilangan identitas.
Anak-anak kita boleh mengenal dunia, tetapi mereka juga harus mengenal kampungnya. Mereka boleh menguasai bahasa asing, tetapi jangan sampai tidak mampu berbicara dalam bahasa ibunya.
Mereka boleh mengenal sejarah dunia, tetapi juga harus mengetahui sejarah masyarakat dan leluhurnya sendiri. Sebab generasi yang maju adalah generasi yang mampu berjalan ke masa depan tanpa kehilangan akar. Jika pengetahuan para orang tua tidak segera diwariskan, kita berisiko kehilangan banyak hal yang tidak mudah dikembalikan.
Ketika seorang tua adat meninggal dunia tanpa sempat mewariskan pengetahuannya, mungkin ikut hilang pula cerita, bahasa, nama tempat, pengetahuan alam, sejarah marga, dan nilai kehidupan yang telah bertahan selama beberapa generasi. Karena itu, Sekolah Adat adalah jembatan antargenerasi.
Tak Seperti Sekolah Formal
Inovasi Sekolah Adat tidak harus dimulai dengan membangun gedung besar. Sekolah Adat tak harus seperti sekolah formal. Honai dapat menjadi kelas. Kebun dapat menjadi laboratorium. Hutan dapat menjadi ruang belajar lingkungan. Sungai dapat menjadi tempat mengenal alam. Kampung dapat menjadi buku yang terbuka.
Pembelajarannya juga dapat dibuat menarik. Misalnya, satu hari khusus setiap minggu atau beberapa kali dalam sebulan anak-anak berkumpul bersama tua-tua adat. Materinya dapat disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah: bahasa daerah, sejarah kampung, silsilah, cerita rakyat, tarian, lagu, kerajinan, tanaman lokal, makanan tradisional, lingkungan, hingga nilai perdamaian dan kehidupan bersama.
Teknologi bahkan dapat digunakan untuk memperkuat Sekolah Adat. Cerita para tua adat dapat direkam dalam bentuk video dan audio. Bahasa daerah dapat dibuat dalam kamus digital sederhana.
Lagu, cerita rakyat, sejarah kampung, dan pengetahuan lokal dapat didokumentasikan sehingga menjadi arsip pengetahuan generasi Tolikara dan Papua. Dengan demikian, adat tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang tertinggal, tetapi dibawa masuk ke masa depan dengan cara baru.
Sekolah Adat membutuhkan keberlanjutan. Karena itu, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan dukungan sesuai kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Termasuk kemungkinan memberikan dukungan atau insentif kepada tenaga pengajar adat melalui sumber pendanaan yang memungkinkan, termasuk Dana Otonomi Khusus (Otsus) apabila sesuai dengan peruntukan, mekanisme, dan ketentuan yang berlaku.
Dukungan tersebut bukan sekadar memberikan penghargaan berupa uang. Lebih dari itu, pemerintah sedang memberikan penghargaan terhadap pengetahuan lokal dan orang-orang yang selama ini menjaganya.
Pemerintah, sekolah, gereja, lembaga adat, orang tua, dan masyarakat perlu bekerja bersama. Sekolah formal dan Sekolah Adat tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat menjadi dua ruang pendidikan yang saling menguatkan.
Perkuat Sekolah Adat
Sekolah Adat pada akhirnya bukan hanya tempat mengajarkan tarian atau bahasa daerah. Sekolah Adat adalah tempat membangun identitas dan karakter generasi. Kita ingin anak-anak Papua tumbuh menjadi dokter, guru, insinyur, pemimpin, pengusaha, peneliti, dan berbagai profesi lainnya.
Tetapi di mana pun mereka berada, mereka tetap mengetahui siapa dirinya, dari mana asalnya, apa bahasanya, bagaimana sejarah leluhurnya, dan tanah mana yang menjadi akar kehidupannya.
Karena itu, perkuat Sekolah Adat. Biarkan ilmu pengetahuan modern membawa anak-anak kita melihat dunia. Namun biarkan pula Sekolah Adat menjaga kaki mereka tetap berpijak pada akar budaya dan tanah leluhurnya.
Anak-anak kita harus maju mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan identitas. Sebab ketika sebuah generasi kehilangan bahasa, sejarah, budaya, dan ingatan tentang leluhurnya, ia sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
Sekolah Adat adalah salah satu cara memastikan warisan itu tetap hidup —dari orang tua kita, kepada anak-anak kita, dan diteruskan kepada generasi yang akan datang.










