NABIRE, ODIYAIWUU.com — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Pol Suyudi Ario Seto dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Selasa (3/11) pukul 15.00 WIB melakukan pertemuan di Kantor KWI, Jalan Cut Meutiah, Menteng, Jakarta Pusat.
Kapolri Ario mengatakan, pertemuan bertujuan memberi pesan damai dan menjamin keamanan umat katolik seluruh Indonesia. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penerimaan Uskup Anton beserta pengurus KWI dalam rangka silaturahmi jajaran Polri dan KWI.
Ketua Komisariat Daerah (Komda) Pemuda Katolik Papua Tengah Tino Mote mengapresiasi pertemuan Kapolri beserta jajarannya dan Ketua KWI bersama pengurus KWI di tengah situasi bangsa dan negara yang tidak baik-baik saja.
Menurut Tino Mote, pertemuan Cut Meutiah merupakan sebuah langkah maju merawat tali silaturahmi antarelemen bangsa sekaligus memahami urgensi menjaga kedamaian di tengah masyarakat Indonesia, termasuk umat Katolik Indonesia, terutama masyarakat dan umat Katolik di tanah Papua.
Tino memandang postitif pertemuan yang dilakukan Kapolri Suyudi Ario Seto dan Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin beserta jajaran. Namun, tentu sangat disayangkan kalau pertemuan tersebut hanya urusan seremonial.
“Perlu diingat, hingga saat ini sebagian masyarakat tanah Papua di pelosok, termasuk umat Kristiani hidup jauh dari rasa aman akibat konflik kekerasan yang melanda saban hari. Ini perlu atensi Polri,” ujar Tino Mote di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Rabu (4/11).
Tino memandang positif penegasan Suyudi yang menyebut Polri senantiasa bekerja sama dengan segenap elemen masyarakat, tokoh-tokoh agama, termasuk para tokoh dari agama Katolik mengingat pertemuan silaturahmi itu merupakan bagian dari Program Kerja Polri.
Tino mengingatkan, hasil pertemuan Cut Meutiah mesti segera diteruskan ke Polda jajaran di tanah Papua untuk ditindaklanjuti. Langkah ini penting dalam upaya menjaga dan merawat situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tanah Papua, terutama di wilayah terpencil yang saban hari dilumuri konflik kekerasan yang berujung warga, termasuk umat Katolik menjadi korban.
“Pemuda Katolik Komda Papua Tengah meminta Kapolri dan KWI melihat Papua dengan hati. Banyak warga tanah Papua, termasuk umat Katolik di pelosok wilayah setiap waat menjadi korban kekerasan akibat konflik bersenjata,” kata Tino Mote, tokoh muda Katolik kelahiran Kabupaten Deiyai, Papua Tengah.
Tino Mote menambahkan, Pmuda Katolik Komda Papua Tengah juga meminta atensi Kapolri beserta jajarannya mulai dari pusat hingga Polda di tanah Papua bagaimana mencegah terjadinya konflik yang berujung mengorbankan warga sipil, termasuk umat Katolik bumi Cenderawasih.
“Kami berharap agar poin-poin pertemuan Cut Meutiah dalam rangka merawat kedamaian di Indonesia yang disampaikan Kapolri kepada KWI diteruskan juga ke pihak gereja lokal di tanah Papua. Bila satu waktu poin-poin pertemuan itu diabaikan, kami bisa bertanya kepada KWI,” kata Tino Mote.
Tino juga mengingatkan, hingga saat ini masih banyak warga masyarakat tanah Papua di pelosok hidup dalam sutuasi keamanan dan kedamaian yang sangat minimalis. Warga, termasuk umat Katolik kerap mengalami kesulitan dalam mencari nafkah hidup bahkan mengungsi ke daerah yang lebih aman dan damai. (*)










