Oleh Dr Raja Oloan Tumanggor, S.Ag
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta
PADA 28 Oktober 2026, di Hari Sumpah Pemuda, ada pemandangan yang tidak biasa saat terjadi aksi demonstrasi di Jakarta. Mahasiswa yang tergabung dalam PMKRI Cabang Depok, didukung Pengurus Pusat PMKRI mengangkat sebuah salib merah setinggi 5 meter.
Dalam aksi demonstrasi yang mengusung tema “Indonesia Sadar” itu para mahasiswa membawa salib merah yang menurut mereka terinspirasi dari salib merah sebagai simbol perlawanan warga Papua Selatan.
Kenapa Papua Selatan? Dan kenapa mahasiswa di Depok memikul salib itu? Jawabannya sederhana: karena derita di ujung timur itu adalah derita kita semua.
Dalam psikologi, ada konsep yang disebut shared suffering atau penderitaan bersama. Viktor Frankl (1963), seorang psikolog yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, mengatakan bahwa manusia akan menemukan makna hidup bukan saat ia menghindari penderitaan, tapi saat ia mau memikul penderitaan orang lain sebagai tanggung jawabnya.
Apa yang dilakukan mahasiswa PMKRI adalah contoh dari itu. Ketika mereka mengangkat salib 5 meter, mereka sedang melakukan apa yang disebut oleh Martin Buber (1958) sebagai hubungan I – Thou. Saya melihat kamu bukan sebagai objek berita di TV, tapi sebagai sesama “engkau” yang utuh. Papua Selatan bukan “mereka yang jauh di sana”, tapi “kita”.
Psikolog sosial Henri Tajfel (1979) menjelaskan bahwa manusia mudah terjebak dalam in-group dan out-group. Kita sering merasa orang Papua itu kelompok lain. Aksi “Indonesia Sadar” mencoba merusak sekat itu.
Dengan mengatakan “derita Papua adalah derita Indonesia”, mahasiswa itu sedang memperluas batas identitas kita. Dari “saya orang Jawa, saya orang Batak, saya orang Depok” menjadi “saya orang Indonesia yang belum adil kalau saudara saya belum adil”.
Salib merah itu berat. Secara psikologis, memikul beban fisik yang berat di ruang publik adalah bentuk embodied cognition (pikiran yang dipengaruhi tubuh). Tubuh kita membantu pikiran kita untuk benar-benar merasakan beratnya masalah (Barsalou, 2008). Tidak cukup hanya posting di media sosial. Harus dipikul.
Filsuf John Rawls dalam bukunya, Theory of Justice (1971) punya ide sederhana yang sangat kuat: sebuah masyarakat baru bisa disebut adil kalau kebijakan paling menguntungkan kelompok yang paling lemah. Bukan yang paling kuat.
Jika kita pakai kacamata Rawls, Papua Selatan adalah cermin. Di sana ada konflik lahan, perusahaan sawit yang masuk, masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup, akses kesehatan dan pendidikan yang masih tertinggal.
Data Komnas HAM (2024) dan laporan Whana Lingkungan Hidup Indonesua (Walhi) (2023) mencatat eskalasi konflik agraria di Papua Selatan sebagai salah satu yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Jika negara masih membiarkan itu terjadi, maka menurut Rawls, negara belum adil.
Etika Keberpihakan
PMKRI sebagai organisasi Katolik juga bergerak dari etika yang lain: Etika Keberpihakan. Paus Fransiskus (2020) dalam ensiklik Fratelli Tutti menulis bahwa politik yang baik adalah politik yang berani melihat luka yang tidak terlihat.
Salib merah itu dalam tradisi Katolik adalah tanda penderitaan yang menyelamatkan. Ketika salib itu dicat merah, pesannya menjadi lebih tajam: ini adalah darah, ini adalah luka yang masih menganga.
Hannah Arendt (1963), seorang filsuf politik, mengingatkan bahwa kejahatan terbesar seringkali lahir bukan dari orang jahat, tapi dari warga biasa yang memilih untuk tidak peduli – yang ia sebut banality of evil.
Aksi mahasiswa pada 28 Oktober adalah antitesis dari itu. Mereka menolak untuk tidak peduli. Mereka berteriak: Indonesia belum merdeka seutuhnya jika Papua Selatan masih menangis.
Apa yang bisa kita pelajari dari salib 5 meter itu? Bahwa kemakmuran tidak bisa diukur hanya dari gedung tinggi di Jakarta atau Depok. Kemakmuran harus diukur dari apakah anak di Merauke, di Asmat dan di daerah lain di tanah air bisa sekolah dengan tenang dan tanah adatnya tidak dirampas.
Psikologi mengajarkan kita untuk berempati. Filsafat mengajarkan kita untuk mencari makna. Etika politik mengajarkan kita untuk menuntut keadilan yang sama untuk semua.
Demo mahasiswa itu mungkin hanya sehari. Salib merah itu pun sudah diturunkan. Tapi ide “Indonesia Sadar” harus tinggal. Sadar bahwa kita satu tubuh. Kalau kaki terluka, kepala tidak bisa bilang “itu bukan urusan saya”. Seperti kata Soe Hok Gie (1983), seorang aktivis mahasiswa: “hanya ada satu kata: lawan.” Dan kali ini, yang dilawan adalah lupa dan ketidakpedulian kita sendiri.










