Oleh Dr Felix Baghi, SVD
Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores
DALAM hidup keseharian, kita sering mendengar argumen sederhana berikut ini: “etika kebajikan itu relatif dan konservatif. Karena kebajikan dipelajari di dalam keluarga, agama, masyarakat dan budaya tertentu.
Kebajikan itu terbatas dan bahkan ia terperangkap dalam konteks tertentu. Ini menjadi alasan di mana kita sering tidak bisa mengkritik struktur yang menindas.”
Hal ini juga dasar untuk bertanya mengapa segelintir orang cemas bahkan takut keluar dari zona hidupnya yang nyaman. Kebajikan memang selalu dipelajari melalui situasi dan konteks.
Namun justru karena ada dorongan untuk memahami alasan-alasan tertentu, dan bukan sekadar meniru-niru, dan ini membuat orang sanggup melepaskan diri dari situasinya, misalnya dari keluarga yang tidak jujur.
Bahkan dari budaya kekerasan, dari masyarakat yang menormalisasi ketidakadilan, dari negara yang korup dan tidak adil utnuk menuju situasi dan keadaan di mana orang merindukan integritas moral, jujur, berani, dan adil.
Contohnya, Stoa Romawi pernah hidup dalam masyarakat yang penuh dengan perbudakan. Mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa budak dan pemilik budak adalah setara secara etis, sama-sama anak Zeus.
Namun mereka berhenti di situ, mereka tidak dapat membongkar institusinya. Ini disebabkan bukan karena pemikiran mereka tentang kebajikan (virtue) dipandang gagal, melainkan karena struktur sosial saat itu telah menutup banyak kemungkinan untuk beraksi.
Gerakan Abolisi di Inggris
Jika kita bandingkan dengan gerakan abolisi pada abad ke-18/19 di Inggris. Orang-orang biasa, mereka yang banyak ekonominya dirugikan, bergerak atas nama keadilan dan belas kasih. Mereka membentuk komunitas baru yang tanpa melihat kelas, gender, dan ras.
Mereka tidak butuh teori etika baru. Mereka serius menjalankan dan menghayati kebajikan yang sudah mereka pelajari, lalu menuntun mereka untuk keluar dari kenyamanan.
Hari ini, di Indonesia, situasi kita mirip Stoa. Kita tahu ketimpangan global, kita menyadari eksploitasi, dan kita tunduk pada suatu bentuk dominasi oligarki yang tidak dapat dibenarkan secara etis.
Tapi kebanyakan dari kita memilih merasionalisasi, atau pura-pura tidak melihat, karena situasi konkret seperti keluarga, kelas, masyarakat, negara, pemerintah tampak lebih nyaman daripada imajinasi kita tentang situasi di mana orang-orang hidup dalam kebenaran dan keadilan.
Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa pandangan tentang “virtue” atau kebajikan itu bersifat parsial. Yang parsial adalah kita yang menolak untuk lebih jauh berjuang demi kebaikan bersama dan demi keadilan sosial.
Kebajikan sejati bukan soal bagaiamana menjadi “orang baik” di dalam sistem yang buruk. Kebajikan selalu membuka kemungkinan untuk mengkritik sistem yang buruk itu sendiri.
Kalau kita masih nyaman dengan ketidakadilan di dalam hidup kita, kita tidak punya alasan menyatakan bahwa kita dapat berjuang demi kebajikan hidup melalui usaha melawan ketidakadilan, korupsi, dan kemunafikan hidup.
Kita hanyalah orang-orang yang sedang mempertahankan kebiasaan hidup yang buruk sambil tidak sanggup berjuang menjadi lebih bijaksana dan adil atas dasar nilai kebajikan itu sendiri.










