JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Yohanes Harun Yuwono mengatakan, Thomas Beanal atau Thom Beanal adalah seorang awam Katolik. Ia seorang nabi yang meneruskan suara Tuhan dan suara umat di tengah dunia.
“Menurut saya, kalau dipertajam lagi, Bapak Thom Beanal adalah seorang nabi. Nabi itu menyuarakan suara Tuhan tetapi juga menyuarakan suara rakyat, suara umat. Nabi itu tidak takut kepada siapapun. Bahkan dirinya sendiri harus menjadi korban,” ujar Uskup Yohanes Harun Yuwono dalam sambutannya saat diskusi dan bedah buku bertema Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Lantai IV Gedung KWI, Jalan Cut Mutiah, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/8).
Menurut Mgr Harun, Uskup Keuskupan Agung Palembang, melalui diskusi dan bedah buku tersebut peserta berkesempatan menggali lebih dalam dari para penulis dan narasumber siapa sesungguhnya sosok Thom Beanal.
“Kita berharap sosok Thomas Beanal memberi inspirasi kepada kita semua. Thom tidak hanya hidup dalam dunia politik di mana dalam Gereja Katolik, politik itu selalu sangat sensitive apalagi tentang Papua,” ujar Uskup Harun Yuwono lebih lanjut.
Thom Beanal bukan hanya pastor awam dan Bapa Bangsa Papua. Ia juga dikenal luas melalui keterlibatannya dalam tugas kerasulam awam selaku penganut Katolik taat. Thom juga terlibat aktif dalam medan pengabdian sosial dan politik pembangunan di tanah Papua seperti menjadi anggota DPRD Kabupaten Fakfak.
Diskusi menghadirkan para pembicara antara lain, penulis buku Markus Haluk, editor Basil Triharyanto, pastor awam di tanah Papua Abdon Bisei, akademisi Universitas Cenderawasih sekaligus sejarahwan dan penulis buku Nasionalisme Ganda Orang Papua Dr Bernarda Meteray, dan anggota Jaringan Damai Papua (JDP) Dr Adriana Elisabeth. Diskusi dipandu moderator Francisca Christy.
Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawan KWI Pastor Hans Jeharut Pr di awal pengantarnya mengatakan, ia mengapresiasi kehadiran para peserta dalam diskusi buku terkait Thom Beanal, seorang pastor awam di tanah Papua, kepala suku, dan Bapa Bangsa Papua.
“Mengapa buku ini penting untuk kerasulan awam. Dalam Gereja Katolik orang-orang Katolik dibagi dalam tiga bagian besar,” kata Pastor Hans, imam Projo Keuskupan Ruteng, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Menurut Pastor Hans, tiga bagian besar dimaksud sebagai berikut, Pertama, kelompok klerus, orang-orang tertahbis. Ada Uskup, pastor, dan diakon. Kedua, adalah kelompok awam, orang tidak tertahbis (laicus), yang merupakan kelompok terbesar.
Ketiga, adalah mereka yang masuk dalam kelompok lembaga hidup bhakti seperti suster (biarawati), bruder, dan frater. Mereka ini tidak ditahbiskan dan bukan juga awam. Kelompok ini membaktikan hidup dan karyanya dengan cara tertentu dan mengucapkan kaul-kaul.
“Dalam Gereja Katolik para laicus ini, peran dan tanggung jawab mereka yang diberikan Gereja sangat besar. Konsili Vatikan II tahun 1962-1965 menaruh harapan yang sangat besar pada awam Katolik. Mengapa, karena mereka bertanggung jawab atas tata hidup dunia,” kata Pastor Hans lebih lanjut.
Markus Haluk dalam pemaparannya mengatakan, ia menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komisi Kerawam KWI Uskup Harun Yuwono dan Sekretaris Pastor Hans Jeharut yang menyiapkan ruang diskusi di Gedung KWI agar semangat perjuangan dan bhakti Thom Beanal, hamba Tuhan di tengah dunia khususnya di tanah Papua tidak sirna, hilang.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Bapak Uskup Harun Yuwono dan Pastor Hans serta semua pihak yang menyiapkan panggung ini. Dengan demikian, hidup dan perjuangan seorang hamba Tuhan yang berbakti kepada dunia tidak hilang dan sirna,” kata Markus Haluk, penulis dan tokoh Katolik jebolan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Papua.
Markus secara khusus menyampaikan terima kasih atas kehadiran sejumlah tokoh dari berbagai kalangan yang berkenan hadir dalam acara diskusi dan bedah buku terkait sosok pastor awam Thomas Beanal. Nampak sejumlah tokoh Katolik seperti Prof Dr Adrianus Meliala dan dosen Unika Atma Jaya Jakarta Kasdin Sihotang.
Apresiasi secara khusus dialamatkan kepada Prof Dr Agus Sumule, akademisi Universitas Papua (Unipa) Manokwari, yang baru tiba di Jakarta dari Manokwari, kota Provinsi Papua Barat dan langsung bergabung dalam diskusi di Gedung KWI Jakarta.
“Bapak Agus Sumule adalah seorang intelektual yang merekam baik sosok Thom Beanal semasa hidup. Sekali lagi, terima kasih, Pa Profesor Agus Sumule dan ibu serta bapa peserta diskusi terkasih,” kata Markus Haluk lebih lanjut.
Menurut Adriana Elisabeth, persoalan separatisme di Papua tidak muncul begitu saja. Persoalan separatisme berawal dari berbagai keluhan dan kekecewaan masyarakat yang tidak mendapat respons memadai dari pemerintah Indonesia.
Adriana menilai, persoalan separatisme pada awalnya berkaitan dengan keluhan masyarakat Papua, termasuk persoalan ekonomi yang muncul sejak proses referendum hingga masuknya Freeport McMoran melalui anak usahanya, PT Freeport Indonesia di lereng gunung Nemangkawi, tanah ulayat masyarakat suku Amungme dan Kamoro di Papua.
“Persoalan separatisme katakanlah yang ada di Papua itu kan mulai dari sebuah grievance, keluhan, kekecewaan kenapa begini keadaannya. Itu di awal-awal ya, itu karena kasus referendum, masuk Freeport, itulah grievance-nya soal ekonomi,” ujar Adriana Elisabeth.
Menurut Adriana, situasi tersebut berpotensi berkembang menjadi perlawanan ketika berbagai keluhan masyarakat tidak segera direspons. Apabila pemerintah sejak awal membuka komunikasi dan memberikan penjelasan terhadap persoalan yang dipermasalahkan masyarakat Papua, perkembangan konflik kemungkinan dapat berbeda.
“Seandainya saja pemerintah merespons cepat waktu itu keluhan-keluhan itu mungkin nggak ada sampai sekarang. Karena merasa tidak direspons, jadilah perlawanan, ada bahkan keinginan memisahkan diri,” ujar Adriana, peneliti Papua.
Adriana menambahkan, perlawanan di Papua kemudian berkembang hingga mendapat perhatian di tingkat internasional. Di sisi lain, gerakan tersebut kerap diberi label, stigma sebagai gerakan separatis hingga dikaitkan dengan istilah Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan kelompok separatis teroris
“Pelabelan tersebut tidak menyelesaikan persoalan mendasar yang sebelumnya belum terjawab. Karena perlawanan Papua terus meluas ya, bahkan ke internasional juga ya, walaupun itu tetap ada pro-kontra. Kemudian distigmalah dengan gerakan separatis. Bahkan gerakan separatis teroris, balik lagi ke istilah OPM dan lain sebagainya,” ujar Adriana.
Adriana juga menyoroti pentingnya pelurusan sejarah Papua sebagaimana menjadi bagian yang dibahas dalam buku tentang Thom Beanal. Menurutnya, sejarah perlu dibicarakan secara terbuka karena rangkaian peristiwa masa lalu dapat melahirkan interpretasi berbeda antara pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua.
“Itu persoalan yang tidak dijawab dengan baik. Nah, makanya di bukunya Pak Tom diperlukan pelurusan sejarah ya, perlu didialogkan sejarah itu,” kata Adriana.
Adriana juga mengatakan, perbedaan perspektif tersebut menjadi salah satu persoalan sensitif karena selama ini Pemerintah Indonesia memandang sejarah Papua sebagai sesuatu yang telah final.
Markus di akhir diskusi dengan penuh syukur dan hormat menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak. Secara khusus kepada Uskup Harun Yuwono, Pastor Hans serta Tim Kerja Komisi Kerawam KWI, keluarga Thom Beanal, para penulis serta editor buku Thom, dan narasumber atas dukungan, kerja sama, dan kebersamaan sehingga kegiatan diskusi dan bedah buku di kantor KWI berlangsung dengan aman dan lancar.
“Kehadiran dan pemikiran dari para peserta menjadi kekayaan bagi diskusi ini. Mari kita terus bekerja dan berdoa untuk penyelesaian masalah yang berkepanjangan di tanah Papua. Semoga melalui diskusi dan bedah buku ini, mata hati kita semakin terbuka untuk melihat dan meresapi perjuangan Bapa Thom beserta umat Kristiani di tanah Papua. Waaaa..waaaaa..waaaa.. (terima kasih). Tuhan berkati kita semua,” kata Markus. (*)










