Padukan Dua Momen Rohani, Umat Katolik Dekanat Moni-Puncak Jaya Pawai Keliling Kota Sugapa

Ribuan umat Katolik dari berbagai paroki bersama para imam di Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika saat menggelar pawai rohani mengelilingi Sugapa, kota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Sabtu (17/10). Pawai digelar dalam rangkaian peringatan Injil masuk di Kemandoga dan Dugindoga dan perintatan HUT ke-74 Paroki Santo Michael Bilogai, Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Papua. Sumber foto: wartaparokibilogai.com, Sabtu, 17 Oktober 2026

SUGAPA, ODIYAIWUU.com — Ribuan umat Katolik dari berbagai paroki bersama para imam di Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Sabtu (17/10) mulai pukul 09.30—11.45 WIT menggelar pawai rohani mengelilingi Sugapa, kota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah.

Umat yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak larut dalam kegembiraan penuh syukur berjalan untuk memperingati 74 tahun Injil masuk di wilayah Kemandoga dan Dugindoga melalui karya misi Pastor Missael Kammarer, OFM.

Selain itu, pawai ribuan umat juga sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Paroki Santo Michael Bilogai. Paroki ini dirintis Pastor Missael Kammarer, imam Ordo Saudara-Saudara Dina atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) asal Beijerland, Belanda.

Pawai rohani tersebut momentum bagi umat untuk mengenang perjalanan panjang pewartaan Injil serta jasa para misionaris dan para pelayan Gereja yang telah membawa dan menjaga iman Katolik di wilayah Intan Jaya.

Pawai dimulai dari Bandara Bilogai setelah umat menjemput Pastor Paroki Santo Mikael Bilogai sekaligus Dekan Dekanat Moni–Puncak Jaya Pastor Yanuarius Yance W Yogi, Pr. Umat beserta rombongan kemudian diarahkan menuju halaman Gereja Santo Mikael Bilogai sebelum melanjutkan perarakan mengelilingi Kota Sugapa.

Sepanjang perjalanan, umat mengikuti pawai dengan iringan doa, nyanyian rohani, dan ungkapan syukur kepada Tuhan atas karya Agung-Nya sekaligus bentuk penghormatan kepada para imam yang berjasa dalam ziarah iman Katolik di tanah Intan Jaya.

Koordinator Perlengkapan Panitia Pekasana Pawai Rohani Missael Sondegau dalam arahannya mengatakan, ia mengajak seluruh umat untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan selama mengikuti perarakan, pawai.

Dengan demikian pawai diharapkan berjalan lancar. Selain itu, selama pawai umat juga diajak merenungkan dan menghayati kegiatan tersebut sebagai perayaan iman atas karya Agung Tuhan sejak 74 tahun silam masuknya Injil di Intan Jaya.

“Selama pawai berlangsung kami memohon dan mengharapkan umat untuk menjaga keamanan dan kenyamanan. Selama berjalan kaki, kita semua memanjatkan doa dan syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya kepada umat di Intan Jaya sejak 74 tahun lalu hingga saat ini. Kita semua berjalan sambil berdoa dan melantunkan puji-pujian kepada-Nya. Ini pesta iman di daerah ini, bukan pesta adat dan budaya,” ujar Missael Sondegau.

Ajakan Missael Sondegau penting mengingat perayaan 74 tahun Injil masuk Intan Jaya merupakan momentum rohani untuk meningkatkan kualitas iman kepada Tuhan, Raja Semesta Alam sekaligus mengenang jasa para misionaris.

Anggota panitia lainnya, Yulius Sondegau, SIP mengatakan, masuknya Injil di wilayah Kemandoga dan Dugindoga 74 tahun silam merupakan bukti cinta Tuhan dalam ziarah perjalanan rohani masyarakat yang bermukim di Intan Jaya.

“Para misionaris yang diutus Tuhan terutama Pastor Missael Kammarer, OFM membawa terang untuk kita umat yang ada di Dugindoga, Kemandoga, terutama semua suku yang ada di Intan Jaya,” kata Yulius Sondegau.

Yulius Sondegau dalam kesempatan tersebut mengajak umat Katolik Santo Michael Bilogai mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan, terutama perayaan puncak perayaan yang akan berlangsung pada Minggu (18/10).

“Mari kita semua bergandengan tangan merayakan dua momen rohani ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada para misionaris yang membawa Injil masuk Intan Jaya. Kita semua dalam suasana penuh Syukur melakukan pawai keliling Kota Sugapa,” ujar Yulius.

Partisipasi umat dari berbagai wilayah menjadi tanda bahwa sejarah pewartaan Injil tidak hanya menjadi kenangan bagi satu kelompok atau paroki, melainkan warisan iman yang perlu dirawat bersama oleh seluruh umat di Intan Jaya.

Sebelum perarakan berlangsung, Pastor Yance memimpin doa pembukaan. Imam putra asli Papua itu memohon karunia dan terang Roh Kudus bagi seluruh umat, sekaligus memohon tuntunan agar umat senantiasa menghargai jasa para pendahulu yang telah menerima, mewartakan, dan menjaga iman serta kehidupan Gereja di tanah ini.

“Kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami semua, umat di tanah ini. Juga tuntunan dan bimbingan dari orang-orang yang berjasa di tempat dan tanah ini, terutama Pastor Missael Kammarer, para misionaris, orang tua, dan leluhur yang telah menjaga dan menerima terang di tanah ini,” ujar Pastor Yance.

Pastor Yance juga berharap agar peringatan 74 tahun Injil masuk dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman, memperkuat persaudaraan, dan menghidupi cinta kasih melalui pelayanan serta karya-karya nyata di tengah masyarakat.

“Pawai keliling Kota Sugapa ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar peringatan sejarah Gereja. Bagi umat yang hidup di Kabupaten Intan Jaya, pawai rohani dan peringatan HUT ke-74 Paroki Santo Michael Bilogai menjadi kesempatan kita semua meneguhkan kembali iman, merawat persaudaraan lintas suku dan paroki serta menghadirkan harapan di tengah situasi daerah yang kerap mengalami konflik dan gangguan keamanan,” katanya.

Dalam keadaan yang penuh tantangan, doa, nyanyian rohani, dan kebersamaan umat dapat menjadi ungkapan nyata bahwa kehidupan harus terus dibangun di atas kasih, pengampunan, penghormatan terhadap sesama, dan semangat perdamaian.

Peringatan ini juga mengajak umat untuk tidak melupakan jasa para misionaris, pastor, suster, para pelayan Gereja, orang tua, dan leluhur yang telah berperan dalam perjalanan iman masyarakat.

Warisan tersebut perlu diteruskan bukan hanya melalui perayaan tahunan, tetapi juga melalui sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menjaga kehidupan bersama.

Di tengah situasi keamanan yang tidak selalu mudah, perayaan iman diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat harapan, membangun kembali kepercayaan, dan menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedamaian di tanah Intan Jaya.

Pawai diikuti umat Paroki Santo Mikael Bilogai serta umat Paroki Santo Petrus Mbugulo, Bilia, Titigi, dan wilayah lainnya berlangsung semarak. Kehadiran umat dari berbagai paroki memperlihatkan semangat kebersamaan dalam merayakan warisan iman yang menyatukan masyarakat.

Rangkaian perayaan akan dilanjutkan pada Minggu, 18 Oktober 2026, dengan perayaan puncak 74 tahun masuknya Injil di wilayah Kemandoga dan Dugindoga sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Imamat Suci Pastor Yanuarius Yance Yogi, Pr.

Pada Senin (19/10) umat dijadwalkan mengikuti kegiatan bakar batu dan makan bersama sebagai ungkapan syukur serta sarana mempererat persaudaraan. Panitia mengharapkan partisipasi akrif dan dukungan umat dalam rangkaian kegiatan tersebut. Seluruh umat diajak hadir dengan hati yang penuh syukur, menjaga ketertiban serta menjadikan perayaan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, persaudaraan, dan perdamaian.

Melalui peringatan 74 tahun Injil masuk di Kemandoga dan Dugindoga, umat diharapkan terus menjadi garam dan terang dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, lingkungan Gereja, dan kehidupan bermasyarakat, saling mendoakan dan mendukung agar nama-Nya senantiasa meraja sepanjang masa di Intan Jaya, Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, dan tanah Papua. (*)