Kematian menjemputnya saat ia mendorong mobilnya di salah satu jalan di Kota Jayapura. Nyaris separuh ziarah hidupnya sebagai imam Fransiska dihabiskan di tanah Papua.
NAMA Pastor Misael Kammerer, OFM tentu tak pernah tanggal dalam memori kolektif umat Katolik di tanah Papua dan umat Katolik di Indonesia. Pastor Misael lahir 26 November 1918 di Beijerland, Tanah Bavaria, negeri Belanda. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik yang saleh.
Semasa remaja bersama orangtua dan saudara serta saudari dan keluarga di Bekanda, benih panggilan hidup Misael Kammerer menjadi imam Tuhan sudah mulai nampak. Ia akhirnya merenda jejak pendidikan formal dimulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah atas dilalui di Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan atas di Belanda, Misael akhirnya memutuskan untuk masuk Ordo Saudara-Saudara Dina atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) alias Fransiskan di Belanda.
Setelah kaul pertama dalam persaudaraan Fransiskan Belanda tahun 1937, ia melanjutkan studi Filsafat dan Teologi di Belanda. Sesudah menyelesaikan pendidikan sebagai calon imam, pada 19 Maret 1944 ia ditabiskan menjadi imam dalam persaudaraan Fransiskan.
Misi di Nederlands Niew-Guinea
Sesudah ditabiskan menjadi imam, mula-mula ia menjadi pastor di negeri Belanda. Namun pada kesempatan yang lain, ia dipercayakan oleh Provinsi Fransiskan Belanda untuk menjadi misionaris di tanah misi Nederlands Niew-Guinea (sekarang dikenal dengan Papua).
Segala persiapan untuk menjadi misonaris di Papua disiapkan di Belanda. Mulai dari kursus budaya, bahasa, medis dan lain sebagainya. Akhirnya pada 21 Februari 1947 ia tiba dengan selamat di tanah Papua dan bekerja sebagai misionaris Fransiskan.
Pada tahun 1947 ia ditugaskan menjadi pastor yang berkarya di Keerom. Kemudian pada 1949 ia ditugaskan di Enarotali (Paniai) bersama dengan Paster Leo Boersma, OFM.
Mereka berdua adalah Fransiskan pertama yang berkarya di daerah Paniai. Sebelum OFM mengambil daerah tersebut, wilayah misi tersebut dilayani oleh para imam dari Kongregasi Misionaris Hati Kudus, Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu atau Societas Missionariorum Sacratissimi Cordis Iesu (MSC).
Pastor Misael, OFM adalah misionaris Fransiskan yang lama tinggal di daerah pedalaman dan sudah banyak menjelajahi pegunungan di Papua. Dalam suatu kesempatan tahun Agustus 1952 ia bersama seorang guru dan beberapa orang mengadakan perjalanan misi ke Lemba Balim (Wamena), Jayawijaya.
Namun di tengah jalan mereka dihadang oleh orang Dani. Mereka (orang Dani) mengambil barang-barang Pastor Misael, OFM bersama rombongannya. Akhirnya Pastor Misael menyuruh guru yang menemaninya dan orang-orang lain yang mengikutinya untuk menjauh, kembali ke daerah asalnya.
Tinggallah Pater Misael, OFM seorang diri di situ. Ia kemudian duduk di atas kaleng bawaannya lalu membuat tanda salib dan berdoa. Singkat cerita, saudara Misael tidak dibunuh oleh orang Dani itu.
Di lain kesempatan guru dan beberapa orang yang menyertainya sampai di Enarotali lalu menceritakan kejadian tersebut. Mereka berkesimpualan Pater Misael, OFM sudah dibunuh. Pada saat itu sang penjelajah gunung dinyatakan telah meninggal sebagai martir Tuhan.
Kisah Mbula Belau dan Mozez Kelangin
Namun, takdir berkata lain. Pater Misael Kammerer, OFM ternyata masih hidup. Ia sendiri dibantu oleh beberapa orang dari Bilorai. Salah satunya bernama Belau Mbula Belau. Akhirnya ia tiba kembali lagi di Enarotali dengan selamat dan mematahkan berita kematiannya itu.
Pater Misael tidak putus asa dengan kejadiaan awal yang ia alami. Ia sekali lagi mengadakan perjalan ke Lembah Balim. Ia mulai melakukan perjalanan dari Pantai Mimika dengan rute Amugme. Amugme sendiri telah dikunjunginya pada akhir tahun 1951.
Dalam perjalan tersebut ia ditemani oleh seorang guru bernama Mozez Kelangin, seorang putra Amugme. Dari Amugme mereka berang dan akhirnya tiba di Ilaga. Dari Ilaga mereka berangkat ke Lembah Balim.
Sayangnya, mereka tidak pernah sampai di lembang agung ini. Mereka hanya sampai di Balim Barat (sekarang daerah Tiom). Mereka tinggal di situ dari 9 hingga 14 Maret 1954. Sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.
Selain bertugas sebagai pastor di pedalaman Papua. Ia juga sempat menjadi Wakil Superior untuk Persaudaraan Fransiskan yang berkarya di Papua. Ia juga pernah menjadi Pastor Paroki dan Direktur Assosiation Mission Aviasion (AMA).
Pada tahun 1967 menjadi Delegatus Pendidikan Keuskupan Jayapura. Kini, dikenal dengan nama Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Fransiskus Jayapura.
Setelah melaksanakan tugas sebagai pelayan Tuhan. Ia akhirnya dijemput oleh saudari maut badani pada 30 Mei 1970 di Jayapura. Ia meninggal dalam usia 51 tahun sebagai Fransiskan selama 32 tahun dan 23 tahun berkarya di tanah Papua.
Pastor Misael Kammerer meninggal dunia karena serangan jantung. Saat itu, ia Tengah mendorong mobilnya yang macet di salah satu jalan di kota Jayapura. (Padre Berto Namsa, OFM, dari berbagai sumber)










