OPINI  

Ketika Gubernur Nawipa Hadir di Dogiyai: Apa yang Berubah Setelahnya?

I Musa, Guru, SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh I Musa

Guru, SMA Negeri 1 Dogiyai, Papua Tengah

DI DOGIYAI ada daerah yang ramai ketika pejabat datang. Ada pula daerah yang menyimpan banyak cerita ketika pemerintah akhirnya hadir. Hadir untuk melihat sendiri kehidupan rakyat. Dogiyai berada di antara keduanya. Di balik penyambutan yang penuh sukacita, ada penderitaan yang lama dirasakan. Ada kerinduan untuk diperhatikan. Ada harapan agar pembangunan tidak berhenti sebagai janji manis.

Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa hadir di Dogiyai, Senin, 7 September 2026. Ia tiba di Bandara Moanemani sekitar pukul 09.15 WIT. Kedatangannya disambut Bupati Dogiyai Yudas Tebai, Wakil Bupati Yuliten Anouw, DPRK, Forkopimda, ASN serta masyarakat. Penyambutan berlangsung secara adat. Noken anggrek dikalungkan kepada gubernur. Suasana itu menunjukkan satu hal. Masyarakat menyambut kehadiran pemerintah dengan sukacita.

Tetapi, sukacita itu tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada kehidupan masyarakat yang masih menghadapi banyak keterbatasan. Akses pendidikan belum mudah bagi semua anak. Jarak menjadi persoalan. Fasilitas dasar masih membutuhkan perhatian. Pembangunan di kampung-kampung membutuhkan perhatian dan sekaligus dengan harapan keberlanjutan. Semua itu membentuk kerinduan yang sederhana: pemerintah hadir, melihat, mendengar, dan lalu bekerja.

Kunjungan gubernur Nawipa itu memiliki arti dan makna lebih dari sekadar agenda birokrasi. Ia menjadi perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat di kampung. Apa yang selama ini dibicarakan melalui laporan dapat dilihat langsung? Apa yang selama ini disampaikan melalui pertemuan dapat didengar kembali? Pemerintah provinsi mendapat kesempatan melihat Dogiyai dari dekat, bukan hanya melalui angka atau statistik dan dokumen.

Namun, kunjungan tidak boleh berhenti pada penyambutan. Gubernur datang dan kemudian ia kembali. Masyarakat tetap berada di Dogiyai. Mereka akan kembali ke sekolah, kebun, pasar, kantor, kampung, dan rumah masing-masing.

Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah rombongan meninggalkan daerah ini. Apa yang berubah setelahnya? Jawabannya tidak mungkin terlihat dalam satu hari. Perubahan membutuhkan waktu. Akan tetapi, arah perubahan harus mulai tampak.

Perubahan harus dilihat dan melihat secara langsung. Penderitaan harus perlahan dikurangi. Sukacita tidak boleh hanya muncul, di saat pejabat datang. Kerinduan masyarakat harus diterjemahkan dan direalisasikan untuk menjadi kebijakan. Dan, harapan harus mendapatkan bukti di lapangan.

Pesan Gubernur Mulai Digaungkan

Dari Dogiyai, Gubernur Nawipa membawa pesan tentang pembangunan yang kembali kepada masyarakat. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten harus berjalan bersama. Kebijakan tidak boleh terlalu jauh dari kebutuhan rakyat. Pemerintah harus hadir di tempat persoalan itu terjadi. Dengan begitu, pembangunan memiliki wajah dan sasaran yang jelas.

Gubernur Nawipa juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan kebutuhan pembangunan secara tertib. Aspirasi harus disusun dalam dokumen. Harus dicatat untuk melihat dan melakukan. Menjadikan dokumen yang sudah dicatat menjadi dasar perencanaan. Perencanaan menjadi dasar program. Dengan cara itu, kebutuhan Dogiyai dapat diperjuangkan dalam kebijakan pembangunan provinsi.

Pesan ini penting. Dogiyai memiliki kondisi geografis dan sosial yang khas. Kebutuhan masyarakat di pusat kabupaten tidak selalu sama dengan kebutuhan masyarakat di kampung. Anak-anak di wilayah pedalaman menghadapi persoalan jarak dan akses. Oleh karena itu, kebijakan harus lahir dari kenyataan. Bukan dari perkiraan.

Kehadiran gubernur juga menjadi pesan bahwa Dogiyai tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah kabupaten membutuhkan dukungan provinsi. Pemerintah provinsi membutuhkan data dan perencanaan dari kabupaten, secara nyata. Masyarakat membutuhkan kepastian. Suara mereka harus didengar. Hubungan itu harus dibangun dalam kerja nyata.

Di balik setiap penyambutan, ada aspirasi. Di balik setiap pertemuan, ada kebutuhan. Masyarakat Dogiyai tidak hanya ingin didatangi. Mereka ingin didengar. Mereka ingin persoalan yang disampaikan memiliki jalan keluar. Perjumpaan gubernur dengan masyarakat menjadi penting.

Aspirasi tentang pendidikan, infrastruktur, pelayanan dasar, pemberdayaan pemuda, dan kebutuhan masyarakat harus dicatat. Setelah dicatat, aspirasi harus dipilah. Lalu pilih, dan lakukan. Mana yang menjadi tanggung jawab kabupaten. Mana yang menjadi kewenangan provinsi. Mana yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Semua harus jelas secara adil dan benar.

Aspirasi kemudian harus masuk ke dalam perencanaan. Perencanaan harus mendapat dukungan anggaran. Anggaran harus menjadi program. Program harus dikerjakan. Pekerjaan harus diawasi. Pekerjaan harus dipertegas. Rangkaian itu tidak boleh terputus. Sebab, ketika proses berhenti di tengah jalan. Masyarakat kembali kepada persoalan yang sama.

Di sinilah kerinduan masyarakat menemukan arti dan maknanya. Mereka tidak merindukan pidato. Mereka merindukan perubahan. Mereka tidak hanya membutuhkan pejabat yang datang. Mereka membutuhkan pemerintah yang tetap hadir setelah pejabat pergi. Kehadiran itu harus dirasakan melalui pelayanan dan pembangunan.

Keberhasilan kunjungan tidak dapat diukur dari banyaknya pejabat yang hadir. Tidak pula dari panjangnya rangkaian acara. Ukurannya adalah apa yang terjadi sesudahnya. Apakah ada keputusan baru? Apakah program dipercepat? Apakah kebutuhan masyarakat mendapat prioritas?

Jika aspirasi berubah menjadi kebijakan. Ya atau tidak. Kunjungan telah menghasilkan sesuatu. Jika kebijakan berubah menjadi program.  Harapan mulai memiliki bentuk. Jika program menghasilkan manfaat. Sukacita masyarakat tidak lagi hanya menjadi bagian dari penyambutan. Sukacita itu menjadi hasil pembangunan.

Pendidikan, Asrama, dan Investasi Masa Depan

Pendidikan menjadi salah satu titik penting dalam kunjungan gubernur di Dogiyai. Pembangunan asrama sekolah di wilayah Mapia menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ruang kelas. Anak-anak dari kampung yang jauh juga membutuhkan tempat tinggal yang layak. Mesti dapat mengikuti pendidikan secara teratur, benar dan adil.

Di Kampung Diyoudimi, Distrik Mapia, pembangunan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi menjadi salah satu agenda. Ada peletakan batu pertama. Ada harapan yang menyertainya. Bangunan itu kelak diharapkan memberi ruang. Bagi anak-anak untuk belajar, tinggal, dan mempersiapkan masa depan.

Namun, asrama bukan hanya bangunan. Ia membutuhkan pengelolaan. Sekolah membutuhkan guru. Guru membutuhkan jaminan yang hidup jelas dan bijaksana. Anak-anak membutuhkan makanan, kesehatan, keamanan, dan pendampingan. Semua unsur tersebut harus berjalan bersama. Ya atau tidak, harus terlaksana. Jika tidak, bangunan hanya menjadi benda, tidak ada arti dan makna. Pendidikan harus hidup di dalamnya.

Ini adalah investasi pendidikan harus dilihat sebagai investasi masa depan Dogiyai. Anak-anak hari ini adalah masyarakat yang akan mengisi pemerintahan, gereja, sekolah, dunia usaha, dan kehidupan sosial di masa depan. Jika mereka mendapatkan pendidikan yang baik, Dogiyai sedang membangun kekuatannya sendiri untuk menuju Dogiyai cerdas.

Masyarakat Menunggu Bukti di Lapangan

Kini gubernur telah hadir. Rombongan akan kembali. Agenda pemerintahan akan terus berjalan. Akan tetapi, masyarakat Dogiyai tetap menunggu. Mereka menunggu apakah pesan yang disampaikan akan menjadi pekerjaan? Ataukah itu akan menjadi hanya omongan belaka. Mereka menunggu: apakah harapan yang tumbuh akan mendapatkan jawaban?

Masyarakat tidak membutuhkan terlalu banyak kata atau kalimat. Mereka membutuhkan sekolah yang benar-benar berfungsi dan berkembang secara kualitas maupun kuantitas. Mereka membutuhkan asrama yang benar-benar dihuni. Mereka membutuhkan pelayanan yang mudah dijangkau. Mereka membutuhkan pembangunan yang hadir. Bukan hanya di pusat kabupaten, akan tetapi juga di kampung-kampung.

Pemerintah juga perlu membuka perkembangan program secara transparan. Masyarakat berhak mengetahui apa yang sudah dikerjakan. Mereka berhak mengetahui apa yang sedang berjalan? Mereka juga berhak mengetahui apa yang belum terlaksana dan mengapa? Transparansi membuat pemerintah dapat diawasi. Pengawasan membuat program tetap berada pada jalurnya.

Beberapa bulan ke depan akan menjadi waktu penting. Dari sana akan terlihat apakah kunjungan gubernur meninggalkan perubahan? Apakah koordinasi provinsi dan kabupaten semakin kuat? Apakah pendidikan bergerak lebih cepat? Apakah aspirasi masyarakat benar-benar masuk dalam kebijakan? Apakah pembangunan mulai dirasakan oleh mereka yang selama ini menunggu?

Pada akhirnya, gubernur datang dan pergi. Akan tetapi, penderitaan masyarakat tidak boleh ikut ditinggalkan. Sukacita penyambutan tidak boleh menjadi akhir cerita. Kerinduan masyarakat harus dijawab dengan kehadiran pemerintah yang berkelanjutan. Dan, harapan harus menemukan bentuk dalam pembangunan yang nyata. Masyarakat hak mengalami perubahan dan kesejahteraan.

Sebab, ukuran keberhasilan kunjungan ke Dogiyai bukanlah seberapa meriah gubernur disambut. Bukan pula seberapa banyak foto yang dihasilkan. Ukurannya sederhana: apa yang berubah setelah gubernur pulang?

Jika sekolah berdiri, asrama terisi, pelayanan membaik, aspirasi menjadi kebijakan, dan masyarakat mulai merasakan manfaatnya. Kunjungan itu telah meninggalkan jejak.

Dari penderitaan lahir kerinduan. Dari kerinduan tumbuh harapan. Dan dari harapan, pemerintah dituntut menghadirkan perubahan secara kualitas maupun kuantitas.