Oleh: Helga Maria Udam
Warga Kampung Sawoy, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura
PEREMPUAN Grime Nawa, Kabupaten Jayapura, sejak dahulu mempunyai tempat penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Kita melihat mama-mama bekerja di kebun, mengolah sagu, meramu hasil hutan, menganyam noken, membawa hasil kebun ke pasar, mengurus rumah tangga, serta membesarkan dan mendidik anak-anak. Banyak pekerjaan dilakukan tanpa banyak bicara dan tanpa meminta penghargaan. Namun dari tangan perempuanlah sebagian besar kehidupan keluarga terus berjalan. Perempuan telah menjadi salah satu penyangga utama kehidupan di kampung-kampung Grime Nawa.
Kita patut menghargai kekuatan itu. Tetapi kita juga perlu melihat keadaan perempuan hari ini dengan jujur. Perubahan zaman berjalan sangat cepat. Kebutuhan keluarga semakin besar. Pendidikan menjadi semakin penting. Teknologi masuk sampai ke kampung-kampung. Cara orang berusaha dan mencari penghasilan juga berubah. Pada saat yang sama, masih ada perempuan yang mempunyai keterbatasan dalam pendidikan, keterampilan, modal usaha, pelayanan kesehatan dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Bahasa ibu juga semakin jarang digunakan oleh sebagian generasi muda, sementara berbagai pengetahuan yang dahulu diwariskan dari mama kepada anak perempuan perlahan-lahan dapat hilang apabila tidak diteruskan.
Keadaan seperti ini membuat saya mempunyai sebuah cita-cita. Saya membayangkan suatu hari perempuan-perempuan Grime Nawa mempunyai sebuah wadah bersama. Sebuah tempat untuk saling mengenal, saling mendengar, saling menguatkan dan belajar bersama. Dari pemikiran itulah muncul rencana untuk membangun Ikatan Perempuan Grime Nawa (IPGN).
IPGN masih merupakan sebuah rencana dan cita-cita. Karena itu, pekerjaan kita sekarang bukan membicarakan seolah-olah semuanya telah berdiri dan berjalan. Justru kita sedang mengajak perempuan Grime Nawa dan semua pihak yang mempunyai perhatian terhadap kemajuan perempuan untuk memikirkan bersama: apakah kita membutuhkan sebuah wadah yang dapat mempersatukan kekuatan perempuan Grime Nawa? Jika kita membutuhkannya, untuk apa wadah itu dibentuk dan apa yang hendak kita kerjakan bersama?
Bagi saya, jawabannya dimulai dari satu kata sederhana: bersatu.
Grime Nawa merupakan satu kesatuan wilayah adat yang luas. Dalam rancangan organisasi, untuk memudahkan pekerjaan nantinya, wilayah ini dibayangkan terbagi dalam lima wilayah kerja: Namblong, Nimboran, Kemtuk, Gresi dan Nawa. Pembagian tersebut bukan untuk memisahkan satu dengan yang lain, tetapi justru untuk memudahkan perempuan dari berbagai wilayah agar dapat terlibat.
Kita berasal dari kampung dan marga yang berbeda. Kita dapat berbeda gereja, pendidikan, pekerjaan dan keadaan ekonomi. Tetapi sebagai perempuan Grime Nawa, ada banyak persoalan dan harapan yang mempertemukan kita. Kita sama-sama menginginkan keluarga yang baik. Kita ingin anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Kita ingin mama-mama sehat. Kita ingin perempuan dapat bekerja dan memperoleh penghasilan yang layak. Kita ingin adat dan bahasa kita tetap hidup. Kita juga ingin perempuan dihargai dan didengar ketika berbicara tentang kehidupan keluarga dan masyarakat.
Karena itu, persatuan yang saya bayangkan bukan persatuan untuk melawan siapa pun. Bukan pula untuk membentuk kelompok yang bersaing dengan organisasi perempuan yang telah ada. Dalam rancangan IPGN justru ditekankan bahwa wadah ini kelak tidak boleh menjadi organisasi tandingan. Ia harus dapat bekerja bersama organisasi perempuan lainnya, lembaga adat, gereja, pemerintah dan berbagai pihak yang telah lebih dahulu bekerja bagi masyarakat.
Setelah bersatu, kita harus berdaya.
Saya membayangkan perempuan Grime Nawa yang semakin mampu mengembangkan usaha dan mengelola hasil kerjanya. Mama-mama yang membuat noken, berkebun, menjual hasil kebun atau mempunyai usaha kecil perlu memperoleh kesempatan untuk belajar tentang pengelolaan usaha, permodalan dan pemasaran. Kita ingin kerja keras perempuan benar-benar membantu meningkatkan kehidupan keluarganya.
Kita juga perlu memberikan perhatian besar kepada pendidikan. Kalau masih ada perempuan dewasa yang belum lancar membaca, menulis atau berhitung, kita harus membantu mereka belajar tanpa membuat mereka merasa malu. Anak-anak perempuan harus kita dorong untuk terus sekolah. Perempuan juga perlu belajar menggunakan teknologi secara baik untuk usaha, pendidikan dan kebutuhan sehari-hari. Zaman berubah, dan perempuan Grime Nawa harus ikut maju bersama perubahan itu.
Hal yang sama berlaku dalam kesehatan. Kita ingin mama-mama semakin memahami pentingnya kesehatan dirinya dan keluarganya. Ibu hamil dan menyusui perlu mendapatkan perhatian. Pengetahuan tentang gizi, kesehatan reproduksi dan pemanfaatan pangan lokal perlu diperkuat. Kita ingin perempuan tidak takut atau malu mencari pertolongan ketika sakit.
Kita juga harus berani berbicara tentang perlindungan perempuan dan anak. Kalau ada perempuan atau anak yang mengalami kekerasan, mereka tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian. Cita-cita kita adalah menghadirkan perempuan-perempuan yang dapat menjadi tempat pertama untuk mendengar, mendampingi dan membantu korban memperoleh pertolongan dari pihak yang berwenang. Gagasan mengenai kader perlindungan seperti ini telah dimasukkan dalam rancangan program yang sedang disiapkan.
Namun menjadi berdaya tidak berarti meninggalkan jati diri. Justru ketika dunia berubah cepat, kita perlu semakin mengetahui siapa diri kita. Saya ingin melihat anak-anak perempuan Grime Nawa tetap mengenal bahasa ibunya. Saya ingin keterampilan menganyam noken terus diwariskan. Pengetahuan mama-mama mengenai pangan lokal, tumbuhan, dusun sagu dan kehidupan adat jangan sampai hilang bersama berjalannya waktu. Dalam rancangan yang sedang dipikirkan, pewarisan bahasa ibu, keterampilan noken dan pengetahuan perempuan menjadi bagian penting dari cita-cita tersebut.
Perempuan juga perlu semakin berani berbicara. Selama ini perempuan bekerja sangat banyak dalam keluarga dan masyarakat. Karena itu, ketika keputusan yang menyangkut kehidupannya dibicarakan, suara perempuan juga perlu didengar. Kita ingin mempersiapkan perempuan yang mampu berbicara dengan baik, berani menyampaikan pendapat, mampu mengikuti musyawarah dan suatu hari siap memimpin ketika mendapat kepercayaan. Bukan untuk mengambil tempat laki-laki, tetapi untuk berjalan bersama. Masyarakat akan lebih kuat apabila laki-laki dan perempuan sama-sama memberikan pikiran dan tenaganya.
Dari sinilah kata ketiga menjadi penting: berkarya.
Saya tidak ingin cita-cita tentang persatuan perempuan berakhir pada sebuah nama organisasi. Kita juga tidak boleh merasa berhasil hanya karena suatu hari mempunyai pengurus, seragam, kantor atau mengadakan banyak pertemuan. Semua itu tidak berarti banyak apabila kehidupan perempuan tidak berubah.
Karya yang sesungguhnya adalah ketika seorang mama mampu mengembangkan usahanya. Ketika seorang perempuan yang sebelumnya tidak lancar membaca akhirnya dapat membaca dan berhitung. Ketika seorang ibu memperoleh pelayanan kesehatan yang baik. Ketika perempuan yang mengalami kekerasan mempunyai tempat untuk meminta pertolongan. Ketika seorang anak perempuan dapat berbicara dalam bahasa ibunya. Ketika seorang perempuan yang sebelumnya selalu diam akhirnya berani berdiri dalam musyawarah dan menyampaikan pikirannya. Rancangan program yang sedang disiapkan pun menempatkan perubahan nyata seperti inilah sebagai ukuran keberhasilan, bukan sekadar banyaknya kegiatan.
Kita sebenarnya mempunyai sejarah yang dapat memberi semangat. Pada tahun 1952, Sekolah Gadis pertama di Tanah Tabi berdiri di wilayah ini. Artinya, usaha untuk memajukan perempuan bukanlah sesuatu yang sama sekali baru bagi Grime Nawa. Generasi sebelum kita telah membuka jalan. Sekarang kita perlu memikirkan bagaimana meneruskan semangat itu sesuai dengan tantangan zaman kita.
Saya menyadari bahwa cita-cita ini tidak dapat diwujudkan oleh satu orang. Ia juga tidak dapat dibangun hanya oleh beberapa perempuan. Kita membutuhkan pikiran dan tangan banyak orang. Kita membutuhkan mama-mama, perempuan muda, tokoh adat, tokoh gereja, pemerintah, kaum laki-laki dan semua pihak yang ingin melihat perempuan Grime Nawa maju.
Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak perempuan Grime Nawa untuk mulai melihat kekuatan yang ada dalam diri kita sendiri. Jangan menunggu sampai kita mempunyai semuanya untuk mulai bergerak. Kita dapat memulainya dengan berbicara, mendengar satu sama lain, menyatukan pikiran dan menentukan apa yang dapat kita kerjakan bersama.
Saya percaya, ketika perempuan Grime Nawa bersatu, kita akan menjadi lebih kuat. Ketika kita semakin berdaya, kita akan semakin mampu berdiri di atas kemampuan sendiri. Dan ketika kekuatan itu diwujudkan dalam karya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh perempuan, tetapi juga oleh anak-anak, keluarga, kampung dan seluruh masyarakat.
Mari kita bersatu tanpa membeda-bedakan, berdaya tanpa kehilangan jati diri, dan berkarya untuk masa depan Grime Nawa yang lebih baik.










