Prosa Lirik: Asap dan Sengsara Memeluk Pulau Papua Karya Yance Dou

Pesona salah satu sudut hutan Papua. Kehadiran korporasi di berbagai sektor membuat tubuh bumi Cenderawasih ‘terluka’. Mata manusia di atas tanah leluhurnya lelah memandang Ibu Bumi digerogoti tanpa malu atas nama pembangunan dan kesejahteraan. Sumber foto ilustrasi: mongabay.co.id, 9 September 2025

Asap dan Sengsara Memeluk Pulau Papua

Papua diciptakan bak perawan elok —sebuah maha karya yang dilukis dengan jemari Sang Khalik. Tubuhnya dibalut keindahan cenderawasih dan kasuari, memikat setiap mata yang menatap sesisi jagat raya. Ia tak sekadar dilindungi mahkota hutan virgin, tetapi dipagari kekayaan yang terhujam jauh hingga ke jantung bumi. Dari rahimnya, mengalir napas dan urat nadi yang memberi hidup bagi planet ini. Di tanah inilah tersimpan misteri keselamatan seluruh insan, tempat jiwa-jiwa teracik mutlak dalam panorama sejarah.

Namun, aduhai Mama Papua, engkau kini dijarah. Engkau diburu oleh jiwa-jiwa kelabu yang nuraninya telah retak dan memorinya picik. Para pemangsa bergoyang di atas panggung deritamu, membungkus kerakusan dengan selimut kepentingan.

Imperialisme, kapitalisme, dan kolonialisme bertengger mesra sebagai sahabat karib penguasa. Mereka mengklaim tanahmu atas nama bangsa, menjadi sosok perkasa sekaligus nista yang melintasi samudra tanpa batas waktu —memperkosa manusia dan semestamu dari dalam hingga ruang angkasa.

Teknologi canggih tak lagi menjadi alat peradaban, melainkan jerat yang dipasang di empat mata angin, menjadi mata panah yang menusuk tepat ke jantung jiwamu. Rintihan dan jeritanmu, Mama, justru menjadi simphoni tawa bagi para penguasa yang degil. Apakah mereka diciptakan hanya untuk menelan jiwa yang lain?

Wahai tanah Papua, jangan lagi bertanya! Mata mereka telah memerah oleh nafsu. Telinga mereka telah tersumbat deru samudera kerakusan. Tangan-tangan itu menggenggam senjata dan bom pemusnah kosmos. Panah mereka adalah senapan; sekop mereka adalah buldoser dan gergaji mesin —aparatus modern yang mencabut paksa akar-akar kehidupanmu.

Kini, anak-anakmu —para penjaga hutan, pengawal rawa, dan pelindung samudra— berlalu ditelan masa. Tetesan darah mereka mengubah danau dan sungai yang jernih menjadi merah pekat. Jeritan nurani mereka dianggap teriakan musuh; tangisan di lorong-lorong kelam distigma sebagai kegilaan. Luka raga dan sukmamu hanyalah tontonan hiburan bagi para kapitalis.

Anak-anakmu tertegun dalam duka: apakah ini nasib kita? Apakah kita digilas zaman, ataukah kita salah karena ditemukan oleh para saudagar samudra? Apakah karena kita hidup menyatu dengan alam, kita dianggap setara fauna yang halal diburu atas nama pembangunan? Apakah koteka dan cawat menghapus rupa ilahi kita, hingga bahasa suku-suku kami terdengar bagai suara binatang di telinga para pembunuh berdarah dingin?

Khalik, lihatlah! Asap yang mengepul dari hutan Papua adalah teriakan sengsara dari jiwa-jiwa yang terpanah algojo. Tidakkah Engkau pilu melihat sungai dan danau mengalirkan darah ciptaan-Mu? Tidakkah Engkau menyesal saat hutan dan dusun dikapling demi kepuasan kaum perakus? Apakah ilmu pengetahuan diciptakan hanya untuk merobek tanah ini?

Namun, ini hanyalah keluhan tak berdaya dari bangsa yang diperdaya. Di atas tanah ini, berkeliaran kaum harimau berkedok loreng hijau —menyamar sebagai manusia, mengenakan pakaian yang menipu dunia, hanya untuk menjadikan setiap insan Papua sebagai prey yang siap diterkam.

Kini, hanya langit tempat kita berteduh yang tahu. Hanya bumi yang digilas sepatu laras yang paham penanggungan ini. Hanya samudra luas yang menjadi saksi bisu.

Biarlah pengadilan akhir yang menjawab setiap tetes darah yang tumpah. Biarlah Kitab Kehidupan yang bersuara, menyebut satu per satu nama dari tulang-belulang jiwa Papua yang berserakan menutupi tanahnya. Biarlah Hakim Yang Maha Adil bertindak pada waktunya atas setiap napas yang dicabut secara paksa.

Sebab asap dan sengsara telah nyata memeluk Ibu Pertiwi Papua. Mengingat wasiat puitis sang maestro, Chairil Anwar, kelak akan ada masanya para pemangsa itu tunduk dan terkapar dalam tangis derita. Di hadapan tanah ini, mereka harus ingat: pada akhirnya, setiap yang bernapas hanyalah calon mayat di bumi.

(Mengenang para pejuang keadilan dan kebenaran yang letih lesuh hidup di tengah rakyat yang menderita di tanah Papua)

Jayapura, Sabtu, 5 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.