Merdeka Belum Selesai
Merdeka, katamu —dan aku mengangguk seperti seorang anak
yang baru belajar mengeja nama negerinya dari kain merah putih
Tetapi di balik kibaran itu, kudengar suara-suara yang belum pulang:
langkah para leluhur yang masih mencari makam, doa para ibu
yang menggantung di langit-langit rumah, dan tangis anak-anak
yang tumbuh dengan sejarah sebagai bayang-bayang
Barangkali kemerdekaan bukan pintu yang sekali dibuka lalu selesai
melainkan jalan panjang yang setiap pagi harus kita tempuh kembali
Aku mencintai Indonesia seperti mencintai seseorang yang penuh luka:
aku tahu bekas jahitannya, hafal diamnya, bahkan mengerti
mengapa ia sesekali menangis tanpa suara. Di satu sudut negeri
lampu-lampu kota menyalakan pesta hingga langit tampak tak pernah gelap
di sudut lain, seorang ibu menghitung receh seperti menghitung sisa harapan
Ada meja-meja panjang tempat kemakmuran dibicarakan
sementara banyak tangan masih menunggu remah dari keputusan
yang dibuat jauh dari rumah mereka sendiri
Merdeka belum selesai ketika manusia masih takut menjadi dirinya sendiri
ketika perbedaan dipasang seperti pagar, ketika kata keadilan
hanya menjadi hiasan di dinding-dinding kekuasaan
Perang mungkin telah berganti seragam: bukan lagi selalu senapan
tetapi bisa berupa kelaparan, kesenjangan, kebencian, dan kesunyian
yang perlahan membunuh tanpa suara. Sejarah berdiri di depan kita
seperti cermin tua —retak, tetapi jujur— meminta kita melihat
bahwa luka yang tidak dipahami akan kembali mencari tubuh baru
Maka, Indonesia, biarkan aku mencintaimu dengan cara yang lebih sunyi:
bukan hanya dengan mengibarkan bendera, tetapi dengan menjaga manusia
yang hidup di bawah bayang-bayangnya. Aku ingin kemerdekaan menjadi
roti yang cukup di meja, sekolah yang membuka jendela masa depan
hukum yang tidak menunduk kepada uang, dan rumah yang tidak mengenal
siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab merah putih bukan sekadar
warna yang kita hormati setiap Agustus —ia adalah janji yang harus kita tepati.
Dan selama masih ada satu manusia yang belum merasakan arti merdeka
kita masih berjalan; merdeka belum selesai
Nabire, 16 Agustus 2026
Karya Eugen Mahendra Duan
Merdeka Harus Sampai ke Kampung Papua
Di negeri yang gunungnya menyentuh awan
di lembah yang pagi datang bersama kabut
di rawa yang menyimpan jejak kehidupan
di pesisir tempat ombak memeluk pulau-pulau —
ada kampung-kampung yang jauh dari pusat kekuasaan
tetapi tidak pernah jauh
dari cita-cita kemerdekaan
Di sanalah Papua bertanya:
Negara, sudahkah engkau sampai ke sini?
Bukan hanya lewat pidato
bukan hanya lewat angka dalam anggaran
bukan hanya lewat peta pembangunan
yang digambar dari ruang-ruang berpendingin udara
Tetapi lewat guru
yang benar-benar berdiri di depan kelas
Lewat perawat
yang membuka pintu Puskesmas setiap pagi
Lewat obat
yang tersedia ketika seorang anak demam
Lewat bidan
yang hadir ketika seorang ibu mempertaruhkan hidup
untuk melahirkan generasi baru
Lewat air bersih
yang mengalir di depan rumah
Lewat listrik
yang menyalakan lampu belajar anak-anak
Lewat internet
yang membuka jendela dunia
di balik gunung dan lembah
Sebab bagi rakyat di kampung terjauh
negara bukanlah gedung tinggi
Negara adalah pelayanan
Negara adalah kehadiran
Negara adalah tangan yang menjangkau
ketika jarak terasa terlalu jauh
Papua tidak meminta ukuran yang sama
untuk keadaan yang tidak sama
Satu kilometer jalan di kota
tidak sama dengan satu kilometer jalan di pegunungan.
Satu kotak obat yang dibawa mobil
tidak sama dengan obat yang harus terbang
dengan pesawat kecil
menembus kabut dan angin
Satu sekolah di tengah kota
tidak sama dengan sekolah
yang berdiri di balik gunung
di mana guru harus berjalan berjam-jam
untuk menemui murid-muridnya
Karena itu
keadilan bukan membagi semuanya sama rata
Keadilan adalah memberi lebih
kepada mereka yang harus menempuh jalan lebih berat
agar akhirnya dapat berdiri pada kesempatan yang sama
Papua membutuhkan afirmasi —
bukan karena ingin diistimewakan
tetapi karena keadilan memang harus memahami jarak
geografi, sejarah
dan kenyataan hidup manusia
Di tanah ini
Tuhan telah menumbuhkan makanan
jauh sebelum program-program datang
Ada sagu
Ada ubi
Ada keladi
Ada singkong
Ada pisang dan jagung
Ada sayur dari kebun mama-mama
Ada ikan dari laut
Ada hasil sungai
Ada buah merah
Ada kopi dari pegunungan
Ada kakao
Ada ternak
Ada kehidupan
yang tumbuh dari tanah sendiri
Maka ketika makanan bergizi diberikan kepada anak-anak
biarlah pangan kampung ikut memenuhi piring mereka
Biarlah ubi petani Papua dibeli
Biarlah ikan nelayan Papua mendapat pasar
Biarlah sayur mama-mama masuk ke dapur
Biarlah telur peternak kampung
menjadi bagian dari makanan anak-anak sekolah
Supaya satu piring makanan
tidak hanya mengenyangkan seorang anak
tetapi juga menghidupkan satu keluarga
Anak memperoleh gizi
Petani memperoleh pasar
Mama memperoleh pendapatan
Nelayan memperoleh pembeli
Koperasi memperoleh kehidupan
Dan uang tidak segera pergi meninggalkan kampung
Ia berputar
Ia tinggal
Ia menumbuhkan harapan
Bangunlah koperasi —
tetapi jangan hanya bangun papan nama
Jangan hanya ada gedung
yang terkunci setelah peresmian
Jadikan koperasi rumah ekonomi rakyat
Tempat petani membawa hasil kebunnya
Tempat mama Papua menjual hasil kerjanya
Tempat hasil bumi disimpan
diolah
dibawa
dan dipasarkan
Sebab rakyat Papua tidak selalu kekurangan kemampuan
Sering kali mereka hanya kekurangan jalan menuju pasar
Mereka dapat menanam, tetapi sulit menjual
Mereka dapat menghasilkan, tetapi lemah menentukan harga
Maka negara harus membantu
agar tangan yang bekerja
bertemu dengan pasar yang adil
Dan kepada anak-anak Papua
katakanlah:
Tempat lahirmu tidak boleh menentukan batas mimpimu
Engkau boleh lahir di kampung paling jauh
Engkau boleh tumbuh di balik gunung
Engkau boleh tinggal
di pulau yang hanya didatangi kapal beberapa kali
Tetapi engkau mempunyai hak yang sama
untuk mengenal huruf
membaca buku
menguasai ilmu
memahami teknologi
dan menatap masa depan
Bangun sekolah
Sediakan buku
Hadiahkan teknologi
Buka internet
Tetapi jangan lupa: hadirkan guru
Karena layar tidak dapat menggantikan kasih seorang guru
Internet tidak dapat menggantikan keteladanan
Gedung tidak dapat mengajar
Kurikulum tidak dapat memeluk anak
yang hampir kehilangan harapan
Papua membutuhkan guru
yang datang
tinggal
mengajar
memahami
dan mencintai
Papua juga membutuhkan lebih banyak anak Papua
yang kelak kembali sebagai guru —
mereka mengenal bahasa kampung
memahami adat
memahami luka dan harapan masyarakatnya
Biarlah pendidikan membawa anak Papua
menjelajah dunia
tetapi jangan sampai dunia
menghapus Papua dari dalam dirinya
Jika seorang anak sakit di pedalaman
jangan tanyakan mengapa ia tidak datang ke rumah sakit
Tanyakan:
Mengapa pelayanan kesehatan belum datang kepadanya?
Sebab gratis belum tentu berarti terjangkau
Rumah sakit boleh gratis —
tetapi gunung tetap tinggi
Sungai tetap lebar
Pesawat tetap mahal
Perjalanan tetap panjang
Maka biarlah negara bergerak
Puskesmas hidup
Pustu berfungsi
Obat tersedia
Bidan hadir
Perawat tinggal
Dokter datang
Pelayanan bergerak memasuki kampung
Dan dari anak-anak Papua hari ini
lahirlah dokter-dokter Papua esok hari
Lahirlah perawat
bidan
tenaga gizi
tenaga kesehatan —
yang kembali melayani tanah tempat mereka dilahirkan
Nyalakan pula jaringan di pegunungan
Sebab internet bukan sekadar sinyal
Di kampung terpencil
internet adalah jalan baru
Ia membawa buku tanpa truk
Ia mempertemukan dokter tanpa pesawat
Ia menghubungkan guru dengan ilmu
Ia menghubungkan mahasiswa dengan perpustakaan
Ia menghubungkan petani dengan pasar
Ia memperpendek jarak
antara kampung dan dunia
Tetapi jangan bangun menara tanpa listrik
Jangan pasang jaringan tanpa perangkat
Jangan bicara digitalisasi
kepada sekolah yang tidak memiliki komputer
Karena pembangunan
bukan hanya tentang apa yang berdiri —
tetapi tentang apa yang benar-benar berfungsi
Dan tentang Otonomi Khusus
jangan hanya tanyakan:
Berapa triliun sudah dikirim?
Tanyakan:
Berapa anak Papua telah menyelesaikan sekolah?
Berapa mama Papua usahanya bertumbuh?
Berapa kampung memiliki air bersih?
Berapa puskesmas benar-benar melayani?
Berapa tenaga kesehatan Papua telah dilahirkan?
Berapa pengusaha asli Papua mampu berdiri?
Berapa kampung keluar dari keterisolasian?
Berapa keluarga hidup lebih bermartabat?
Karena anggaran hanyalah angka
sampai ia berubah menjadi kehidupan
Dana hanyalah catatan
sampai ia berubah menjadi pelayanan
Otonomi Khusus hanyalah kebijakan
sampai rakyat merasakan hasilnya
Papua bukan peminta belas kasihan
Papua bukan sekadar penerima bantuan
Papua adalah tanah kehidupan —
tanah hutan dan laut
tanah gunung dan sungai
tanah ratusan bahasa
tanah adat
tanah doa
tanah generasi muda
yang menyimpan kekuatan masa depan
Karena itu jangan hanya membangun Papua
Bangunlah bersama orang Papua
Dengarkan sebelum memutuskan
Bertanya sebelum mengambil
Menghormati sebelum membangun
Jangan memandang tanah adat sebagai tanah kosong
Di sana ada sejarah
ada nama leluhur
ada kehidupan
ada identitas
ada masa depan anak cucu
Libatkan mama-mama
Libatkan pemuda
Libatkan gereja
Libatkan adat
Libatkan kampung
Karena manusia bukan penonton pembangunan
Manusia adalah tujuan pembangunan
Maka bila suatu hari kita ingin mengetahui
apakah negara telah berhasil di Papua
jangan hanya berdiri di Jayapura
Jangan hanya melihat Sorong
Jangan hanya menghitung gedung di Manokwari
Jangan hanya melihat jalan di Merauke
Jangan hanya melihat perkembangan Timika
Nabire
atau Wamena
Pergilah lebih jauh
Naiklah ke gunung
Turunlah ke lembah
Seberangilah sungai
Susurilah rawa
Berlayarlah menuju pulau-pulau kecil
Datanglah ke kampung
yang namanya jarang disebut dalam pidato
Ketuklah pintu rumah rakyat
Lalu tanyakan kepada seorang ibu:
Apakah hidupmu sekarang lebih baik?
Tanyakan kepada seorang anak:
Apakah gurumu hadir?
Tanyakan kepada petani:
Apakah hasil kebunmu mempunyai pasar?
Tanyakan kepada orang sakit:
Apakah engkau mendapatkan pelayanan?
Tanyakan kepada masyarakat adat:
Apakah tanahmu dihormati?
Di sanalah
jawaban tentang keberhasilan pembangunan ditemukan
Sebab kemerdekaan
tidak boleh berhenti di istana
Tidak boleh berhenti di gedung kementerian
di kantor gubernur
atau di kantor bupati
Kemerdekaan harus berjalan —
menembus kabut
mendaki gunung
menuruni lembah
menyeberangi sungai
menyusuri rawa
mengarungi laut
memasuki jalan-jalan kecil
Sampai akhirnya
ia mengetuk pintu honai
rumah panggung
rumah pesisir
dan rumah-rumah sederhana
di kampung paling jauh
Dan ketika seorang anak Papua dapat belajar dengan tenang
ketika seorang mama mendapat pelayanan tanpa berjalan berhari-hari
ketika seorang petani menjual hasil kebunnya dengan harga yang adil
ketika seorang pasien mendapat obat pada waktunya
ketika listrik menyala
ketika air bersih mengalir
ketika tanah adat dihormati
ketika rakyat mengetahui ke mana uang pembangunan digunakan —
barulah kita dapat berkata:
Negara telah hadir
Barulah pemerataan bukan sekadar janji
Barulah Otonomi Khusus mempunyai wajah
Barulah pembangunan mempunyai jiwa
Dan barulah kemerdekaan menemukan maknanya
Karena Papua Raya tidak meminta belas kasihan —
Papua Raya meminta keadilan
Papua Raya tidak ingin hanya disebut dalam pidato
Papua Raya ingin membuktikan
bahwa Republik ini mampu merangkul
mereka yang hidup paling jauh
dari pusat kekuasaan
Maka biarlah satu kalimat
bergema dari kota hingga pegunungan
dari pesisir hingga lembah-lembah terdalam:
Merdeka bukan hanya dikumandangkan di ibu kota
Merdeka harus berjalan sampai ke kampung
Merdeka harus hadir dalam pelayanan
Merdeka harus menjadi keadilan
Dan di tanah Papua
merdeka harus dirasakan —
sampai di kampung-kampung terjauh
Karubaga, Agustus 2026
Karya Yosua Noak Douw
Topeng Manis Berhati Racun
Ada wajah yang pandai tersenyum
seperti bulan di malam sunyi
terlihat indah dari kejauhan
tetapi menyimpan gerhana di dalam hati
Lidahnya manis seperti madu
tetapi hatinya tajam seperti sembilu
Di depan ia menabur bunga
di belakang ia menyiram duri
agar langkah orang lain terluka
Ia datang seperti sahabat
tetapi pulang membawa cerita yang diputar
Ia duduk dekat seperti saudara
tetapi diam-diam menjual kepercayaan
di pasar kepentingan
Orang bermuka dua
seperti pisau yang dibungkus kain sutra
Tampak halus saat disentuh
tetapi melukai ketika dipercaya
Mereka memuji saat mata bertemu
namun menjatuhkan saat punggung berbalik
Mereka tertawa di meja yang sama
tetapi hatinya bersorak
ketika melihat orang lain jatuh dan terluka
Jangan terlalu percaya pada senyum
yang belum teruji oleh waktu
Sebab tidak semua yang dekat itu tulus
tidak semua yang ramah itu setia
dan tidak semua yang berkata peduli
benar-benar punya hati
Biarlah waktu menjadi terang
membuka topeng satu per satu
Sebab kepura-puraan bisa menang sebentar
tetapi ketulusan akan berdiri lebih lama
Kita tidak perlu membalas racun dengan racun
tidak perlu menanam duri di jalan mereka
Cukup jaga langkah, kuatkan hati
dan biarkan Tuhan membaca
apa yang manusia sembunyikan
Karena pada akhirnya
topeng akan jatuh
lidah manis akan kehilangan rasa
dan hati yang penuh racun
akan dikenal dari buah perbuatannya
Sedangkan orang yang tulus
meski sering terluka
akan tetap berjalan dengan damai
seperti matahari pagi
yang tidak pernah dendam kepada malam
Karubaga, Agustus 2026
Karya Yosua Noak Douw
Langit, Berapa Lama Lagi?
Langit, berapa lama lagi kau menyimpan hujan di balik awanmu? Matahari terlalu lama menyalakan bara, membakar siang hingga tanah kehilangan kesejukannya. Debu berkelana di antara jalan-jalan sunyi, tanah retak membuka mulutnya seperti bibir yang kehausan. Sungai menyusut menjadi garis kenangan, sementara daun-daun layu berguguran satu demi satu, seakan bumi sedang menghitung hari menuju kepunahan.
Di ladang, benih-benih menunggu dengan sabar yang hampir patah. Padi menundukkan kepala, bukan karena panen, melainkan karena dahaga yang tak kunjung reda. Pohon-pohon mengangkat rantingnya seperti tangan-tangan tua yang memohon kepada langit. Para petani menatap cakrawala dengan mata yang menyimpan kecemasan, berharap awan datang membawa kabar baik. Namun yang turun hanya cahaya yang tajam, sementara air mata manusia menjadi satu-satunya hujan yang mengenal tanah.
Malam pun datang tanpa kesejukan. Bintang-bintang menggantung seperti lampu kecil di atas bumi yang letih, dan doa-doa naik perlahan dari rumah-rumah yang pintunya terbuka kepada angin. Kami tidak meminta langit menurunkan keajaiban, hanya setetes air membasahi akar, menghidupkan sungai, dan mengembalikan warna pada daun yang pucat.
Langit, berapa lama lagi? Jangan biarkan matahari menjadi satu-satunya cerita yang kami kenal. Kirimkanlah awan yang membawa kehidupan, biarkan hujan jatuh seperti rahmat di atas tanah yang retak. Biarlah sungai menemukan suaranya, ladang kembali menghijau, dan benih-benih membuka mata menuju cahaya baru. Jika hari ini bumi sedang belajar tentang dahaga, biarlah kami belajar tentang ketabahan.
Nabire, 10 Agustus 2026
Karya Eugen Mahendra Duan
Ratap Flores
Pagi itu bumi tidak memberi salam; ia mengguncang sunyi pada pukul 05.58, seperti tangan purba yang tiba-tiba membangunkan luka yang lama tertidur. Lonceng gereja belum sempat memanggil nama-nama mereka, tetapi atap-atap rumah lebih dahulu jatuh menimpa mimpi. Tanah merekah, dinding-dinding kehilangan kekuatannya, dan debu naik seperti kabut duka yang menutup wajah pagi. Flores, untuk sesaat, seperti kehilangan pijakan—langit menjadi saksi, laut menahan napas, dan manusia belajar betapa rapuhnya hidup di atas bumi yang selama ini mereka sebut rumah.
Dari Larantuka hingga Labuan Bajo, ibu-ibu memeluk anaknya di bawah meja kayu, sementara bapak-bapak berlari menyusuri jalan yang retak, memanggil nama-nama yang mereka cintai. Namun yang menjawab hanya gema, debu, dan batu-batu yang jatuh dari ingatan. Sepiring nasi menunggu tanpa tangan yang menyentuhnya, sebuah kursi tetap kosong, dan pintu rumah yang roboh seakan masih menyimpan suara mereka yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Bunda Reinha Rosari, di hadapanmu seorang anak bertanya dengan mata yang basah, “Mengapa Tuhan tidak menahan bumi?” Engkau diam, sebab bahkan doa pun kadang membutuhkan waktu untuk menemukan kata-kata. Di tanah yang mengenal salib, mereka berlutut di antara puing-puing, bukan karena tidak takut, melainkan karena mereka tahu kepada siapa ketakutan itu harus diserahkan. Mereka lelah menghitung gempa susulan, lelah berpura-pura kuat di depan anak-anak, lelah tidur dengan satu mata terbuka, takut malam kembali menjadi suara runtuhnya rumah. Namun di tengah lelah itu, tangan-tangan datang membawa air, makanan, selimut, obat, dan pelukan; dari luka yang sama, persaudaraan tumbuh seperti akar yang menolak mati.
Maka, Tuhan, terimalah mereka yang telah Kau panggil pulang dan peluklah mereka dalam damai-Mu. Sembuhkan tubuh yang terluka dan hati yang kehilangan; kuatkan mereka yang masih menggali dengan tangan kosong, mereka yang tidur di bawah tenda, dan mereka yang setiap malam mendengar kembali suara bumi. Ajarilah mereka menjadi lilin—kecil, tetapi tetap menyala ketika angin datang membawa gelap. Sebab Flores tidak sendiri: di setiap reruntuhan ada doa, di setiap tangis ada saudara, di setiap tangan yang terulur ada kasih-Mu, dan di setiap luka ada Kristus yang ikut memikul salib. Sampai rumah-rumah berdiri kembali, sampai tawa anak-anak memenuhi halaman, sampai lonceng gereja berbunyi tanpa ketakutan—bangkitkanlah Flores, ya Tuhan, dari debu menjadi harapan, dari duka menjadi kekuatan, dari reruntuhan menjadi kehidupan. Kasihanilah mereka yang rapuh, hiburkanlah mereka yang kehilangan, dan jangan pernah tinggalkan tanah yang dicintai.
Nabire, 15 Agustus 2026
Karya Eugen Mahendra Duan
Penulis
Eugene Mahendra Bala Duan lahir 18 Juni 1985 di Lewoleba, Lembata. Ia disapa Hendra. Saat ini ia mengabdi sebagai guru di SMP YPPK Santo Antonius, Nabire, kota Provinsi Papua Tengah. Menulis opini di sejumlah media massa nasional dan lokal. Ia juga penikmat sastra.
Yosua Noak Douw lahir 18 November 1982 di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. Masuk SD Negeri Karubaga tahun 1989-1991, SD YPPGI Tulem tahun 1991-1992, dan SD Inpres Porome, Distrik Kelila, Kabupaten Jayawijaya tahun 1992-1994.
Yosua merampungkan kuliah S1 di Fisip Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, meraih Magister Ilmu Ekonomi Uncen tahun 2013, dan doktor di Uncen tahun 2023. Yosua seorang kolumnis media lokal dan nasional. Ia menulis dua buku karyanya: Membangun Papua: Catatan dari Timur (2025) dan Papua: Dari Hati ke Hati (2026). Yosua juga penikmat sastra terutama puisi.
Puisi karyanya masuk dalam Antologi Puisi berjudul Air Mata Sumatera (2026), diterbitkan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bekerja sama dengan Majalah Elipsis dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.










