Sambangi Istana Persatuan Guru Besar Tegaskan Dukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden

Pengurus Harian DPP Pergubi Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng menyalami Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka saat bersama pengurus dan anggota Pergubi bertemu Wakil Presiden di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/8). Foto: Istimewa

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Sejumlah guru besar yang terhimpun dalam Persatuan Guru Besar/Profesor Republik Indonesia (Pergubi), Senin (10/8) bertemu Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan dengan Wakil Presiden, para guru besar itu menegaskan komitmen untuk terus memberikan kontribusi pemikiran, keilmuan, riset, inovasi, dan teknologi dalam mendukung pembangunan nasional.

“Sebagai guru besar bidang energi saya mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI. Saya memandang bahwa ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama kedaulatan dan kemandirian bangsa,” ujar Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Persatuan Profesor Indonesia (Pergubi) Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng di Jakarta, Selasa (11/8).

Dalam pertemuan tersebut, para pengurus Pergubi menegaskan mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI terutama implementasi Asta Cita Nomor 2 khususnya ketahanan pangan, energi dan air serta Asta Cita Nomor 5 tentang hilirisasi industri nasional.

“Ketahanan pangan, energi dan air harus dibangun secara terpadu, berbasis potensi daerah dan didukung riset, inovasi serta teknologi nasional. Hilirisasi harus mampu memberikan nilai tambah bagi bangsa dan masyarakat di daerah penghasil sumber daya,” kata Numberi, Guru Besar Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua.

Selain itu, kata Numberi, salah satu poin dalam pertemuan tersebut yaitu mendukung kebijakan mempercepat kendaraan listrik nasional. Kebijakan kendaraan listrik, khususnya motor listrik produksi dalam negeri perlu terus didorong, terutama di daerah yang sulit memperoleh bahan bakar minyak (BBM) dan menghadapi biaya distribusi energi yang tinggi.

“Elektrifikasi transportasi dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM, menekan biaya logistik, meningkatkan kemandirian energi daerah, sekaligus mendorong tumbuhnya industri kendaraan listrik nasional,” kata Numberi, anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia.

Selain itu, para guru besar juga mendukung Presiden dan Wakil Presiden guna mempercepat transisi energi. Indonesia disebut perlu mempercepat transisi energi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) secara bertahap, berkeadilan dan sesuai potensi daerah.

“Transisi energi diarahkan untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi, meningkatkan bauran EBT menuju target 23 persen serta mendukung pencapaian net zero emission, NZE,” ujar Numberi, doktor muda putra asli Papua jebolan Universitas Indonesia.

Kemudian, poin lain yang disampaikan yaitu membangun Indonesia berbasis kepulauan Nusantara. Pembangunan perlu semakin memperhatikan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan melalui kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara–Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua.

“Setiap kawasan perlu didorong menjadi pusat pertumbuhan yang semakin mandiri dalam pangan, energi, industri dan infrastruktur dasar. Kita perlu memotong rantai pasok yang terlalu panjang dan mahal, sehingga kebutuhan strategis masyarakat dapat dipenuhi sedekat mungkin dari sumber dan pusat produksi di wilayah masing-masing,” kata Numberi.

Poin lain yang mencuat dalam pertemuan tersebut yaitu para guru besar juga mendukung pemerintah memperkuat infrastruktur dan cadangan energi nasional. Infrastruktur energi harus diperkuat, terutama di daerah-daerah penghasil energi dan sumber daya alam.

Sistem cadangan penyangga energi, cadangan operasional energi dan cadangan strategis energi juga perlu diperkuat sebagai instrumen menghadapi krisis, gangguan pasokan, bencana dan dinamika geopolitik global.

Pada saat yang sama, rasio elektrifikasi nasional harus terus ditingkatkan, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kepulauan, perbatasan dan daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik.

Para guru besar juga menyampaikan, momentum perubahan dunia menjadi Pelajaran. Pandemi covid-19 dan berbagai gejolak geopolitik serta konflik di berbagai belahan dunia telah memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan nasional tidak dapat dipisahkan dari ketahanan pangan, energi, air, industri dan teknologi.

Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi bangsa yang mampu memproduksi, mengolah, menguasai teknologi dan membangun sistem energi sendiri berdasarkan kekuatan dan potensi nusantara.

Di sinilah peran guru besar menjadi penting. Ilmu pengetahuan harus hadir untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Karena itu, Pergubi siap menjadi bagian dari kekuatan intelektual bangsa dengan memberikan rekomendasi berbasis riset, data, inovasi dan kepakaran.

“Selain itu, Pergubi mendukung pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang semakin berdaulat, mandiri, tangguh dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. Ilmu untuk bangsa, teknologi untuk kemandirian, dan energi untuk kedaulatan. Guru besar mengabdi untuk Indonesia,” ujar Numberi. (*)