TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi, Kamis (24/9) meminta Koperasi Produsen Amungme Gold Coffee (KPAGC) tidak berhenti pada kegiatan produksi dan penjualan kopi.
Saat menghadiri Rapat Anggota Koperasi Produsen Amungme Gold Coffee (KPAGC) Tahun Buku 2025 di Cafe Rumah Kopi Amungme Gold, Samuel juga meminta pengurus koperasi tersebut mulai memperkuat kelembagaan, dukungan permodalan serta memperluas jaringan pasar (market networking) hingga luar daerah.
Menurut Samuel, rapat anggota merupakan bagian penting dalam perjalanan koperasi karena menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan usaha sekaligus menyusun program ke depan.
“Pemerintah daerah berkomitmen mendukung pengembangan ekonomi masyarakat melalui koperasi, termasuk pengembangan komoditas kopi Amungme Gold,” ujar Samuel Yogi di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Jumat (25/9).
Samuel menambahkan, pengembangan kopi Amungme Gold harus dilakukan secara serius dan tidak boleh hanya menjadi program sesaat.
“Tidak ada kata alasan. Kita harus membuat program dan harus dijalankan. Tahun ini tidak apa-apa, tetapi ke depan harus diseriuskan,” kata Samuel.
Samuel juga menyinggung perlunya dukungan modal yang lebih besar bagi koperasi. Ia berharap pihak-pihak yang selama ini menjadi mitra pengembangan masyarakat, termasuk PT Freeport Indonesia, dapat memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap pengembangan usaha kopi.
Samuel menilai, dukungan tersebut tidak sekadar dalam bentuk perhatian atau kegiatan pemberdayaan, tetapi harus diarahkan pada penguatan modal, pembangunan fasilitas produksi dan dukungan operasional koperasi.
“PT Freeport dan pemerintah sama-sama membantu pembangunan gedung rumah produksi dan juga dana operasional bagi koperasi,” ujar Samuel lebih lanjut.
Samuel juga menceritakan pengalamannya ketika membawa kopi Amungme Gold ke Bali, Pulau Dewata. Saat itu, kopi yang dibawanya dalam beberapa karton disebut mendapat respons pasar yang baik hingga habis terjual.
Pengalaman tersebut, katanya, menunjukkan bahwa kopi Amungme Gold memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas. Karena itu, ia mempertanyakan mengapa kopi Amungme Gold belum didorong secara serius untuk masuk ke pasar di luar Indonesia.
“Kita harus paham, kopi Amungme Gold ini kenapa tidak bisa kita buka di luar Indonesia sebagai produk di luar negeri. Kami juga berharap kerja sama antara pemerintah, koperasi dan PT Freeport Indonesia dapat diarahkan untuk membuka akses pasar tersebut,” katanya.
Menurut Samuel, salah satu dukungan yang dibutuhkan koperasi adalah kemudahan distribusi atau pengiriman kopi ke berbagai daerah. “Yang mereka minta hanya pengiriman kopi ini saja. Pengiriman ini mungkin bisa melalui dukungan yang ada,” ujarnya.
Samuel menegaskan, pengembangan kopi harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama petani yang selama ini menjadi bagian dari rantai produksi.
Selain itu, Samuel juga meminta seluruh hasil produksi kopi dari kelompok-kelompok petani dapat dikelola melalui satu pintu agar pengembangan pasar lebih terarah.
“Semua kopi yang ada di belakang ini harus satu pintu. Teman-teman dari kelompok lain yang mau mengambil atau membeli kopi, silakan melalui Amungme Gold,” ujar Samuel.
Samuel menekankan pentingnya membangun komitmen bersama agar produksi kopi dari berbagai kelompok petani dapat diserap dan dipasarkan melalui KPAGC.
Ia menyebut kelompok-kelompok petani di sejumlah wilayah juga harus dilibatkan sehingga koperasi tidak hanya berkembang sebagai rumah kopi, tetapi menjadi pusat pengembangan usaha kopi masyarakat. “Supaya ke depan kita sama-sama berkomitmen. Semua penjualan kopi diarahkan melalui koperasi,” ujarnya.
Samuel menambahkan, pemerintah daerah akan terus memperhatikan keberadaan koperasi tersebut karena KPAGC dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi masyarakat.
Ia juga meminta pengurus koperasi terus membangun komunikasi dengan pemerintah maupun mitra usaha agar berbagai kebutuhan pengembangan koperasi dapat dicarikan solusi bersama.
“Bahasa saya ini tolong diteruskan kepada Pak Tony. Saya akan menunggu juga, karena persoalan ini sudah lama tersimpan dalam hati saya,” katanya.
Menurutnya, keberadaan koperasi harus benar-benar mampu menjadi wadah ekonomi masyarakat dan memberikan manfaat bagi petani.
Karena itu, ia meminta pengurus KPAGC mulai menyiapkan program secara lebih terarah, termasuk pengembangan rumah produksi, penguatan modal, peningkatan produksi, hingga perluasan jaringan pemasaran.
Pihaknya juga berharap agar ke depan kopi Amungme tidak hanya dikenal di Mimika, tetapi mampu menjadi salah satu produk unggulan Mimika yang dipasarkan secara nasional bahkan membuka peluang ke pasar internasional. “Kalau kita mau membantu masyarakat Amungme dan Kamoro, berarti kita harus serius,” ujar Samuel. (*)










