Oleh Dr Don Bosco Doho
Dosen Etika Bisnis pada LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta
DALAM catatan sejarah ekonomi dunia, mahakarya Das Kapital sering kali hanya dikaitkan dengan kejeniusan Karl Marx. Namun, ada fakta krusial yang jarang mengemuka: buku yang mengguncang tatanan global itu tidak akan pernah selesai tanpa kesetiaan finansial dari seorang kapitalis bernama Friedrich Engels.
Sebagai putra pemilik pabrik tekstil, Engels rutin mengirimkan dukungan dana kepada Marx selama bertahun-tahun, memastikan sang pemikir tetap bisa berkarya di British Museum tanpa harus terpuruk dalam kemiskinan ekstrem di London.
Bahkan, pasca wafatnya Marx, Engels-lah yang merampungkan jilid kedua dan ketiga dari catatan-catatan yang tersisa. Simbiosis kapitalis dan idealis relasi ini menawarkan model kolaborasi yang sangat relevan: kapitalis yang berhati nurani menopang idealis yang berpikir tajam.
Menariknya, Marx tidak pernah menutupi kontribusi tersebut; ia mengakuinya secara terbuka dalam berbagai korespondensi dan pengantar karyanya. Ironisnya, kekuatan modal (kapital) inilah yang justru memungkinkan lahirnya kritik paling tajam terhadap sistem kapitalisme itu sendiri.
Cerita ini menjadi cermin bagi kondisi ekosistem riset dan kebijakan di Indonesia saat ini. Kita memiliki banyak akademisi dengan idealisme dan kapasitas mumpuni. Namun, sering kali gagasan mereka kandas karena terbentur realitas pragmatis.
Musababnya, keterbatasan dana, akses data yang mahal hingga waktu yang habis untuk pekerjaan sampingan demi menyambung hidup. Tanpa dukungan sumber daya, idealisme hanya akan berakhir sebagai wacana di kepala, tanpa pernah menyentuh meja pengambil kebijakan.
Potret buram dana riset nasional menunjukkan ketimpangan yang nyata dalam ekosistem ilmu pengetahuan kita. Belanja riset dan pengembangan (R&D) Indonesia hanya berada di kisaran 0,1–0,3 persen dari PDB, jauh di bawah Malaysia (1,25 persen) atau Singapura (di atas 2 persen). Apalagi Korea Selatan yang melampaui 4 persen.
Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 80 hingga 86 persen pendanaan riset nasional masih bersumber dari anggaran pemerintah. Kontribusi sektor swasta hanya berkisar 10 hingga 20 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara maju, di mana 70-80 persen pembiayaan riset justru datang dari sektor industri dan filantropi swasta.
Mengapa orang kaya Indonesia perlu “menjadi Engels”? Persoalan ini bukan sekadar angka di buku anggaran, melainkan masalah budaya filantropi. Di Amerika Serikat, mendukung riset adalah bagian dari etos kelas menengah-atas yang didukung oleh insentif pajak yang jelas.
Sementara di Indonesia, filantropi orang kaya lebih banyak mengalir pada kegiatan amal karitatif jangka pendek. Misalnya, pembangunan rumah ibadah atau bantuan bencana. Jarang pula menyentuh riset ilmiah atau kajian kebijakan publik yang dampaknya bersifat jangka panjang.
Padahal, dukungan finansial kepada pemikir bukanlah investasi instan, melainkan investasi peradaban. Riset yang matang dan kajian berbasis data membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum manfaatnya terasa bagi kebijakan publik atau strategi bisnis.
Para pemilik modal di Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi “Engels-Engels baru” yang memastikan idealisme para periset tidak terkubur oleh kebutuhan bertahan hidup.
Sinergi strategis: bukan sekadar amal kolaborasi ini sejatinya adalah simbiosis yang saling menguntungkan, bukan sekadar donasi sepihak. Dunia usaha membutuhkan riset untuk memitigasi risiko regulasi dan merancang strategi pasar yang akurat.
Pembuat kebijakan memerlukan naskah akademik yang kokoh agar produk hukum tidak hanya lahir dari intuisi politik semata. Akademisi membutuhkan sumber daya agar karya mereka benar-benar bisa diterapkan dan tidak sekadar tersimpan di rak perpustakaan.
Langkah Menuju Perubahan Untuk mewujudkan ekosistem ini, diperlukan beberapa langkah konkret. Pertama, insentif pajak. Pemerintah perlu memberikan skema deductible tax bagi korporasi atau individu yang mendanai riset dan publikasi ilmiah.
Kedua, dana abadi independen. Pembentukan lembaga pengelola dana abadi riset di luar birokrasi pemerintah yang kaku, yang secara khusus mendukung kajian kebijakan dan riset terapan.
Ketiga, budaya pengakuan. Seperti Marx yang menghargai Engels, dunia usaha yang mendanai riset harus diakui sebagai mitra intelektual, bukan sekadar sponsor anonim.
Kapital dan Idealisme
Kisah Marx dan Engels mengajarkan bahwa kapital dan idealisme tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan beriringan selama kapitalis menopang tanpa mendikte, dan idealis tetap jujur mengakui dukungan yang diterimanya.
Di Indonesia, sinergi ini masih menjadi ruang kosong yang menunggu untuk diisi. Para pemilik modal yang berhati nurani memiliki kesempatan emas untuk menulis ulang sejarah mereka.
Bukan sebagai penguasa riset, melainkan sebagai penopang idealisme yang memungkinkan lahirnya kebijakan yang mencerdaskan bangsa.









