Oleh Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA
Putra Guru dan Penginjil di Papua Pegunungan; Doktor Lulusan Uncen, Jayapura
DI DAERAH-daerah tersebut, guru bukan sekadar pekerja yang datang untuk mengajar beberapa jam. Guru sering menjadi penerjemah, pembina jemaat, penengah persoalan sosial, penggerak kebersihan, pengelola asrama, pelatih generasi muda, bahkan penghubung pertama masyarakat dengan pemerintahan.
YPPGI membawa keyakinan bahwa iman dan ilmu harus berjalan bersama. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang pandai menjawab soal. Pendidikan harus membentuk manusia yang jujur, bertanggung jawab, berani, disiplin, menghormati sesama, dan bersedia melayani.
Selama lebih dari enam dekade, YPPGI telah mendidik generasi dari berbagai wilayah Papua. Dalam peringatan ulang tahunnya yang ke-61 pada 2024, pengurus YPPGI menegaskan bahwa yayasan tersebut telah berkarya di kampung dan daerah terpencil serta menghasilkan SDM yang mengambil bagian dalam pembangunan Tanah Papua.
Dari sekolah-sekolah YPPGI lahir pendeta, penginjil, guru, birokrat, politisi, kepala daerah, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan pemimpin masyarakat. Kehadiran mereka membuktikan bahwa sekolah di pedalaman tidak boleh dinilai dari kesederhanaan gedungnya. Dari sekolah yang sangat sederhana pun dapat lahir manusia dengan tanggung jawab besar.
Tiga Jalan Pelayanan, Satu Tujuan
YPK, YPPK, dan YPPGI mempunyai sejarah, struktur, wilayah pelayanan, dan tradisi gereja yang berbeda. YPK tumbuh dari warisan zending Protestan dan pelayanan GKI di Tanah Papua. YPPK berkembang dari karya misi Katolik yang kemudian memperoleh bentuk kelembagaan yang lebih terstruktur. YPPGI lahir dari kebersamaan gereja-gereja Injili untuk menjangkau masyarakat, terutama di kawasan pedalaman dan pegunungan.
Namun, ketiganya bertemu dalam satu tujuan: memanusiakan manusia Papua melalui pendidikan. Lembaga-lembaga itu hadir bukan pertama-tama untuk mencari keuntungan. Ketiganya hadir karena pendidikan dipandang sebagai panggilan iman dan tanggung jawab kemanusiaan. Sekolah dibuka agar masyarakat dapat keluar dari buta huruf, memperoleh pengetahuan, mengenali martabatnya, dan berpartisipasi dalam perubahan sosial.
Melalui ketiga yayasan tersebut, gereja telah menyumbangkan modal sosial yang sangat besar bagi Papua. Modal itu berupa manusia yang mampu membaca keadaan, mengambil keputusan, memimpin lembaga, mengajar generasi berikutnya, merawat orang sakit, menggembalakan umat, memperjuangkan keadilan, serta mengelola pemerintahan.
Tidak semua lulusan menjadi pejabat. Namun, setiap guru yang kembali mengajar di kampung, setiap perawat yang melayani di puskesmas terpencil, setiap pendeta dan pastor yang mendampingi umat, serta setiap orang tua terdidik yang memastikan anaknya bersekolah adalah bagian dari keberhasilan pembangunan SDM.
Karena itu, kontribusi sekolah gereja tidak boleh hanya diukur dari banyaknya gubernur, bupati, anggota legislatif, atau tokoh terkenal yang dilahirkan. Ukuran yang lebih mendasar adalah perubahan kehidupan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Warisan Besar yang Menghadapi Tantangan Baru
Meskipun memiliki sejarah yang membanggakan, ketiga yayasan tersebut tidak boleh hanya hidup dari nostalgia. Warisan besar dapat melemah apabila tidak dirawat. Saat ini, banyak sekolah yayasan menghadapi persoalan serius: kekurangan guru, keterlambatan pembayaran hak tenaga pendidik, bangunan yang rusak, keterbatasan buku, lemahnya laboratorium, minimnya fasilitas teknologi, jarak pelayanan yang sangat jauh, serta persoalan koordinasi antara yayasan, gereja, dan pemerintah.
Di beberapa tempat, sekolah yang dahulu menjadi pusat pendidikan masyarakat mulai tertinggal dibandingkan sekolah lain. Keadaan ini tidak boleh ditanggapi dengan saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah evaluasi jujur dan pembaruan bersama. Gereja perlu kembali menempatkan pendidikan sebagai bagian utama dari misi pelayanannya, bukan sekadar urusan satu badan yayasan. Yayasan harus memperkuat tata kelola, transparansi, pendataan sekolah, manajemen guru, sistem keuangan, dan pengawasan mutu.
Pemerintah juga tidak boleh memperlakukan sekolah yayasan hanya sebagai sekolah swasta biasa. Di Papua, banyak sekolah gereja menjalankan fungsi pelayanan publik di wilayah yang secara historis sulit dijangkau negara. Oleh sebab itu, dukungan pemerintah perlu diberikan berdasarkan kebutuhan pelayanan, keterpencilan wilayah, jumlah anak yang dilayani, dan kontribusi historisnya.
Dana Otonomi Khusus di bidang pendidikan seharusnya dapat digunakan secara terukur untuk memperkuat sekolah-sekolah berpola asrama, menyediakan rumah guru, meningkatkan kompetensi pendidik, membangun konektivitas digital, menyediakan buku kontekstual, serta memberikan beasiswa kepada anak-anak Orang Asli Papua.
Kemitraan itu harus diatur secara jelas melalui kebijakan, pembagian tanggung jawab, indikator kinerja, mekanisme evaluasi, dan pertanggungjawaban yang terbuka. Bantuan tidak boleh hanya diberikan ketika ada perayaan ulang tahun atau kunjungan pejabat. Penguatan pendidikan membutuhkan kebijakan jangka panjang.
Menghidupkan Kembali Semangat Perintis
Papua hari ini telah berkembang menjadi enam provinsi. Tantangan pendidikan juga semakin kompleks. Anak-anak Papua harus dipersiapkan menghadapi perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, dunia kerja baru, dan persaingan global.
Namun, modernisasi pendidikan tidak boleh membuat anak Papua kehilangan akar. Sekolah harus tetap menjadi tempat untuk mengenal sejarah, bahasa, kebudayaan, tanah, komunitas, dan identitasnya.
Di sinilah semangat para perintis perlu dihidupkan kembali. Mereka berani mendirikan sekolah ketika belum tersedia jalan, listrik, internet, dan anggaran besar. Tantangan generasi sekarang tentu berbeda, tetapi panggilan moralnya tetap sama: jangan membiarkan seorang anak kehilangan masa depan hanya karena ia lahir jauh dari pusat kota.
YPK, YPPK, dan YPPGI harus bergerak dari romantisme sejarah menuju pembaruan. Ketiganya perlu membangun pusat pelatihan guru, memperkuat sekolah unggulan dan sekolah berasrama, mengembangkan pendidikan vokasi, memanfaatkan teknologi pembelajaran, serta membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas alumni.
Alumni juga harus dipanggil kembali. Mereka tidak selalu harus kembali menjadi guru tetap. Mereka dapat memberikan beasiswa, menyediakan buku, membantu koneksi internet, menjadi mentor, membangun perpustakaan, memperbaiki asrama, atau mendampingi sekolah dalam manajemen dan teknologi.
Menjaga Tiga Pilar, Menjaga Masa Depan Papua
Pada akhirnya, pembangunan Papua bukan hanya tentang membangun gedung sekolah. Pembangunan Papua adalah tentang memastikan bahwa di dalam gedung tersebut terdapat guru yang hadir, anak yang belajar, nilai yang ditanamkan, kemampuan yang dikembangkan, dan masa depan yang dipersiapkan.
YPK, YPPK, dan YPPGI bukan sekadar tiga nama yayasan. Mereka adalah tiga aliran sejarah pelayanan yang telah bertemu dalam satu sungai besar pembangunan manusia Papua. Dari Mansinam, Merauke, Kokonao, Enarotali, dan berbagai pusat pelayanan lainnya, cahaya pendidikan menyebar ke kampung, pulau, pesisir, lembah, dan pegunungan.
Dari sanalah lahir generasi yang kemudian menjadi guru, pendeta, pastor, suster, perawat, dokter, birokrat, ilmuwan, politisi, aparat keamanan, pengusaha, pemimpin adat, dan pelayan masyarakat. Warisan itu tidak boleh berhenti. Ia harus dirawat, diperbaiki, diperbarui, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab ketika pendidikan berakar pada iman, ilmu, kasih, disiplin, dan penghormatan terhadap martabat manusia, Papua tidak hanya akan melahirkan orang-orang yang cerdas. Papua akan melahirkan pemimpin yang mempunyai hati untuk melayani.
Tiga pilar pendidikan Kristen di Papua bukan hanya bagian dari sejarah masa lalu. Ketiganya adalah fondasi hidup yang harus terus diperkuat untuk menopang masa depan Papua yang cerdas, berkarakter, bermartabat, damai, mandiri, dan sejahtera. (Bagian kedua, terakhir)










