OPINI  

Ratapan Mama dan “Robeknya” Noken Papua

       Frans Maniagasi, Pengamat Politik Papua. Foto: Istimewa

Oleh Frans Maniagasi

Pengamat Politik Papua

RATAPAN adalah ekspresi kesedihan, duka cita yang mendalam atas sebuah bencana kematian manusia dan robeknya “noken” –tanah dan alam akibat ditebangnya 2,5 juta hektar lahan Papua Selatan untuk keuntugan ekonomi. Kisah ini makna dibalik drama yang dipertontonkan dalam Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Ratapan kesedihan yang long time dalam tradisi budaya Papua sulit untuk dilupakan oleh seorang mama atau kolektif masyarakat adat yang diibaratkan sebuah noken. Dan biasanya kematian seorang anak oleh seorang mama sangat sulit untuk dilupakan dalam memorinya.

Atau kerusakan alam tempat habitat dimana secara kolektif masyarakat lokal hidup dan bermata pencaharian sehari-hari. Kehilangan tanah, hutan dan alamnya. Kesusahan itu selalu menjadi memori passionis yang sulit dilupakan dan akan dikisahkan kepada anak-anak maupun kerabatnya secara turun temurun. Menjadi sebuah historial kolektif bagi komunitasnya.

Ratapan diekspresikan melalui tangisan, keluh kesah, syair, doa atau nyanyian yang biasanya diceritrakan dari awal bumi diciptakan, tanah, SDA, dan manusia yang tumbuh berkembang sejak bayi hingga dewasa dalam keseluruhan drama kehidupan dari tokoh tersebut. (Karel Phill Erari: Tanah Kita, Hidup Kita, Pustaka SH, 1999).

Ketika seseorang atau sekelompok orang menghadapi penderitaan, kehilangan tanah dan seisinya. Musibah yang sungguh berat. Bukan saja kehilangan alam dan hutan dengan segala mahluk hewan dan tumbuhan tapi kehilangan “noken” -mama- peradaban manusia Papua.

Dalam konteks yang lebih luas ratapan (lament) bentuk doa emosional dimana seseorang atau sekelompok orang jujur mencurahkan rasa sakit hati, kepedihan atas peritaan atau kebingungannya kepada Tuhan.

Lamenta dalam bahasa Latin yang berakar dari kata kerja lamentor artinya meratap, menangis atau berteriak untuk mengungkapkan kesedihan dan duka cita yang mendalam. Kata ini digunakan untuk menyebut “nyanyian duka” atau keluhan atas penderitaan bathin.

Biasanya diakhiri dengan pengharapan dan rasa syukur. Rasa syukur itu merefleksikan agar peradabannya sebagai manusia dan komunitas sosial dihormati dan dihargai tanah, alam, kehidupan.

Nyanyian duka ini dalam banyak tradisi didunia memang erat kaitannya dengan perempuan. Alasan kultural dan historis yang mendalam ekspresi emosional. Perempuan biasanya mengambil peran sebagai pelantun ratapan (plorare) dalam upacar adat, pemakaman, atau ritual keagaman.

Ratapan perempuan diartikan sebagai pelantun lagu tradisonal yang dinyanyikan pada hari kematian, apalagi yang meninggal dunia adalah seorang tokoh, mengungkapkan perjalanan semasa hidupnya hingga karya-karya yang dibuatnya menjadi legasi untuk keluarga atau pun komunitasnya.

Demikian juga perempuan meratapi hilangnya alam, tanah, sebagai habitatnya akibat bencana, atau ekses dari eksploitasi alam oleh pemodal untuk merauf keuntungan ekonomi. Perempuan digunakan untuk mengekspesikan rasa sakit hati, kesedihan atau penyesalan.

Dalam tataran seperti itu saya yakin bahwa masyarakat di Papua Selatan sepanjang masa akan menangisi hilangnya hutan dan tanah yang telah dieksploitasi 2,5 juta hektar seumur hidup mereka.

Dan ratapan seorang mama akibat robeknya noken –alam Papua yang diungkapan dalam nada penyesalan tak mungkin lagi kembali seperti sedia kala. Mungkin itulah sisi lain dari Film Pesta Babi, “robeknya” tanah, mama alam Papua yang dinodai oleh kepentingan ekonomi.