Oleh Dr Felix Baghi, SVD
Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores
KITA sering mengerti ideologi sebagai sistem gagasan dan nilai yang memberi makna pada realitas, kerangka berpikir yang memandu apa yang kita anggap benar, normal, dan penting, atau panduan bertindak. Namun seringkali tanpa kita sadari, ideologi bukan sekadar apa yang kita pikirkan. Ia adalah cara kita hidup.
Slavoj Žižek membaca ideologi dengan caranya sendiri. Ideologi bukanlah kumpulan ilusi yang dibongkar, melainkan jalinan halus yang “menubuh” dalam kebiasaan, hasrat, dan kenikmatan kita sehari-hari.
Ideologi tidak sesederhana kumpulan gagasan keliru yang menunggu untuk dikoreksi. Lebih dari itu, ia lebih dalam, dan bahkan lebih berbahaya. Ideologi adalah fantasi yang menstruktur realitas kita. Kita tidak hanya “memiliki” ideologi, kita hidup di dalamnya.
Ia bekerja bukan dengan menipu secara terang-terangan, tetapi dengan membuat kita merasa bahwa dunia sebagaimana adanya adalah wajar, alami, dan tak terelakkan.
Bagi Žižek, ideologi melampaui kesadaran palsu. Ideologi bukan sekadar soal “ditipu”, tetapi bagaimana kita menikmati ilusi, di mana yang tak sadar bekerja, dan beroperasi pada tingkat hasrat yang tidak sepenuhnya kita sadari.
Kita sering menyadari ketidakadilan sistem, muslihat institusi, rancangan kolektif, namun tetap berpartisipasi di dalamnya.
Ideologi bertahan karena memberi kita rasa nyaman: identitas, keamanan, posisi, status, dan bahkan kesenangan. Bagi Žižek, ideologi hidup dalam ritual, kebiasaan, dan praktik sehari-hari, bukan hanya dalam pikiran.
Ideologi sering dipakai sebagai perangkat halus atau alat untuk melayani kepentingan kekuasaan yang dominan. Bagi Lacan, ideologi memberi pesan hasrat Peran, fantasi, dan ketidaksadaran dalam membentuk subjek.
Contoh bagaimana ideologi bekerja misalnya kita menikmati kenyamanan, hiburan, dan status. Kita berpartisipasi dalam sistem, meskipun kita tahu ada ketidakadilan, namun kita tetap melanjutkan, mengikuti, dan mempertahankan karena terasa “normal”.
Jadi ideologi tidak bekerja dengan menyembunyikan realitas, tetapi dengan membuat realitas itu menyenangkan untuk diterima. Dalam konteks seperti ini, kebenaran saja tidak cukup.
Menyingkapkan “kebenaran” tidak otomatis membebaskan. Bahkan ketika kita “tahu” tentang kebenaran, kita tetap bertindak dalam kerangka ideologi. Oleh karena itu, perubahan sejati di sini, menuntut pergeseran pada “hasrat dan cara kita menikmati dunia.”
Apa yang maksudkan Žižek di sini, yaitu bahwa kekuasaan itu bekerja secara halus, melalui pembentukan hasrat, dan bukan sekadar melalui represi. Ideologi membuat suatu bentuk dominasi tampak alami dan wajar-wajar saja.
Ia membentuk subjek yang merasa “bebas,” padahal pilihannya sudah ditentukan. Perlawanan harus melampaui informasi, ia harus mengguncang cara kita merasakan dan menikmati.
Oleh karena itu, tujuan kritik filosofis, kritik politik dan kritik sosial ekonomi bukan sekadar hanya membongkar ideologi, tetapi mengubah kondisi yang membuatnya terasa nyaman.
Membuka kemungkinan untuk hidup dan menginginkan secara berbeda, keluar dari lingkaran kenikmatan yang mengikat. Jadi persoalan utama di sini bukan bahwa orang-orang dieksploitasi, tetapi bahwa mereka menikmati eksploitasi itu.
Kritik Žižek mengajak kita untuk melampaui segala bentuk kritik dangkal, retoris dan sederhana. Ideologi bukan sekadar ilusi dalam pikiran, melainkan realitas yang kita jalani, nikmati, dan pertahankan.
Maka pertanyaan sejatinya bukan lagi: “apa yang salah dengan sistem ini?” melainkan “mengapa kita tetap merasa nyaman di dalamnya?”










