Oleh Sonni Lokobal
Ketua Analisis Papua Strategis (APS) Provinsi Papua Pegunungan
GAGASAN besar Proklamator Republik Indonesia Ir Soekarno (Bung Karno) tentang kekuatan rakyat menempatkan masyarakat kecil sebagai pusat perubahan. Namun, di Papua Pegunungan, sesungguhnya jauh sebelum konsep itu diperkenalkan dalam wacana politik modern, masyarakat telah memiliki filosofi hidup yang kuat dan membumi yaitu wen, wam, dan wene.
Filosofi wen, wam, dan wene bukan sekadar konsep budaya tetapi sistem kehidupan yang holistik, utuh. Wen berarti berkebun, wam berarti beternak, dan wene adalah kemampuan untuk memenuhi serta menyelesaikan seluruh kebutuhan hidup.
Dalam perspektif sosio-antropologi, ketiga filosofi tesrebut membentuk fondasi ekonomi tradisional masyarakat Papua Pegunungan sebuah sistem yang mandiri, berkelanjutan (sustainable), dan berbasis komunitas (community).
Pertanyaannya saat ini ialah mengapa sistem yang sudah kuat secara budaya ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi modern? Ini sebuah pertanyaan reflektif yang penting. Saat ini, Papua Pegunungan menghadapi tantangan serius dalam pembangunan kesejahteraan.
Di satu sisi, wilayah ini memiliki potensi alam yang besar. Di sisi lain, masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah, akses pasar terbatas, dan program pembangunan sering tidak berkelanjutan. Di sinilah pentingnya menghubungkan kembali pembangunan modern dengan akar budaya lokal.
Gerakan ekonomi kampung harus dimulai dari pemahaman bahwa masyarakat Papua Pegunungan tidak memulai dari nol. Mereka sudah memiliki sistem ekonomi sendiri yaitu wen, wam, dan wene yang terbukti mampu menopang kehidupan secara turun-temurun.
Wen, sebagai aktivitas berkebun bukan sekadar urusan produksi pangan. Ia adalah simbol hubungan atau relasi manusia dengan tanah. Tanah bukan pula sekadar aset ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan kehidupan.
Oleh karena itu, pembangunan ekonomi berbasis pertanian di Papua Pegunungan harus menghormati nilai-nilai ini. Program pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada hasil tetapi juga pada keberlanjutan dan kearifan lokal (local wisdom).
Wam atau beternak mencerminkan bentuk investasi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam banyak komunitas Papua Pegunungan, ternak —terutama babi— memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya.
Ia digunakan dalam berbagai kegiatan adat, menjadi simbol status sosial, dan juga cadangan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi lokal tidak bisa dipisahkan dari struktur sosial dan budaya masyarakat.
Sementara itu, wene adalah puncak dari keduanya. Wene bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hidup, tetapi menyentuh kemampuan mengelola sumber daya secara bijak.
Ia mencerminkan kemandirian, tanggung jawab, dan keseimbangan dalam kehidupan. Dalam konteks modern, wene dapat dimaknai sebagai kesejahteraan yang berkelanjutan.
Praktik yang Menyatu
Jika kita melihat atau memahami lebih dalam, filosofi wen, wam, dan wene sejatinya sejalan dengan gagasan Bung Karno tentang kemandirian ekonomi rakyat. Namun, perbedaannya terletak pada pendekatan.
Bung Karno berbicara dalam kerangka politik dan ideologi, sementara masyarakat Papua Pegunungan telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi wen, wam, dan wene sudah menyatu dengan keseharian masyarakat hingga saat ini.
Saat ini, simpul masalahnya bukan pada ketiadaan konsep. Ia lebih pada kegagalan mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam sistem pembangunan modern. Selama ini, banyak program ekonomi yang masuk ke Papua Pegunungan tidak berbasis pada realitas budaya masyarakat.
Akibatnya, program tersebut tidak bertahan lama. Bantuan diberikan tanpa membangun sistem. Proyek berjalan tanpa melibatkan masyarakat secara aktif. Dan pada akhirnya, ketergantungan terus bergerak dalam siklus yang berulang.
Gerakan ekonomi kampung di Papua Pegunungan harus mengubah pendekatan ini. Paling kurang dapat dicatat sebagai berikut. Pertama, pembangunan ekonomi harus berbasis pada wen.
Artinya, sektor pertanian harus menjadi prioritas utama, dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bibit unggul, pelatihan serta akses pasar yang jelas bagi hasil kebun masyarakat.
Kedua, wam harus diperkuat sebagai bagian dari ekonomi produktif. Peternakan tidak boleh hanya dilihat sebagai aktivitas tradisional, tetapi sebagai sektor ekonomi yang memiliki potensi besar. Dukungan terhadap kesehatan ternak, manajemen peternakan, dan akses pasar harus menjadi bagian dari kebijakan.
Ketiga, wene harus menjadi tujuan utama pembangunan. Setiap program harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Ini berarti pembangunan tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi, konsumsi, dan pengelolaan ekonomi secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, konsep machtsvorming yang pernah disampaikan Soekarno menjadi relevan. Kekuatan ekonomi tidak akan lahir tanpa organisasi. Oleh karena itu, koperasi, kelompok tani, dan lembaga ekonomi kampung harus diperkuat sebagai wadah kolektif masyarakat.
Namun, lebih dari itu, gerakan ekonomi kampung membutuhkan perubahan cara pandang (mindset). Masyarakat tidak boleh terus ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi harus didorong menjadi pelaku sekaligus penggerak utama (prime mover) pembangunan. Pemerintah pun harus bertransformasi dari pemberi bantuan menjadi fasilitator dan penggerak.
Kepemimpinan juga memegang peran penting. Pemimpin di Papua Pegunungan harus mampu memahami dan menghargai filosofi wen, wam, dan wene sebagai pijakan, dasar pembangunan. Tanpa pemahaman ini, kebijakan yang diambil akan selalu berjarak dengan realitas masyarakat.
Pada akhirnya, gerakan ekonomi kampung bukan sekadar strategi pembangunan tetapi merupakan upaya mengembalikan jati diri ekonomi masyarakat Papua Pegunungan. Ia adalah jembatan antara nilai-nilai tradisional dan kebutuhan modern.
Jika pembangunan ingin berhasil, maka ia harus berakar pada budaya. Dalam konteks Papua Pegunungan, akar itu ada dalam filosofi wen, wam, dan wene yang terawat baik dan masih menyatu dalam aktivitas kehidupan sosial-ekonomi masyarakatnya.
Maka, jalan menuju kesejahteraan sudah jelas. Kuatkan wen, kembangkan wam, dan wujudkan wene sebagai bentuk kemandirian hidup masyarakat. Terima kasih. Wa wa wa.










