NABIRE, ODIYAIWUU.com — Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah menegaskan, statemen Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia H. Muhammad Jusuf Kalla menyinggung iman umat Kristiani dan tidak sesuai dengan ajaran Kasih dari Kristus Yesus.
“Kami menilai pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menyinggung iman umat Kristiani dan cinta Kasih yang merupakan ajaran utama. Statemen Jusuf Kalla bertentangangan dengan perintah kelima dari 10 Perintah Allah yaitu jangan membunuh,” ujar Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Tengah Tino Mote di Nabire, Papua Tengah, Selasa (14/4).
Jusuf Kalla menyampaikan ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) bertema Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar pada Maret 2026.
Kalla kala itu menyampaikan ihwal perdamaian. Untuk berbicara perdamaian, maka harus perlu tahu kenapa orang berkonflik. “Di Indonesia, penyebab konflik terbanyak adalah ketidakadilan. Ada tindakan pemerintah yang dipandang tidak adil oleh masyarakat,” kata Kalla.
Kalla juga memberikan contoh konflik seperti konflik PRRI, Permesta, DI/TII, kemudian Poso dan Ambon. Semua konflik disebut Kalla berawal dari rasa tidak adil, meskipun ujungnya terkadang membawa masalah politik atau agama.
Ada juga karena agama, walaupun didahului dengan ketidakadilan, kemudian akibatnya ke agama kayak Poso, Ambon, DI/TII. Kenapa agama? Gampang dijadikan alasan konflik, kayak di Poso, Ambon, karena kedua-duanya, Islam dan Kristen, berpendapat mati atau menewaskan orang, mati atau mematikan itu syahid.
“Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu. ‘Kalau saya bunuh orang Islam saya syahid, kalau saya mati pun saya syahid.’ Akhirnya susah berhenti kalau konfliknya orang membawanya ke agama,” kata Kalla.
Menurut Tino, Pemuda Katolik Komda Papua mengaskan bahwa 10 Perintah Allah dalam Gereja Katolik merupakan pedoman moral utama yang diberikan Tuhan melalui Musa, yang berfokus pada kasih kepada Allah dan sesama.
Menurut Tino, pihaknya menyayangkan dan mengeritik penyataan Jusuf Kalla yang keliru secara teologi. Penyataan seperti itu juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang pubilk.
“Penyataan Jusuf Kalla tidak sesuai dengan iman Kristiani. Umat Kristiani, dalam ajaran Gereja tidak pernah mengajarkan umat untuk membunuh. Kami hidup berdasarkan hukum tertinggi cinta kasih dan 10 Perintah Allah. Perintah kelima itulah dasar iman orang Kristen,” kata Tino.
Pemuda Katolik Papua Tengah menilai, pernyataan Jusuf Kalla tersebut merujuk pada ajaran agama, bukan individu pemeluknya. Artinya, fokus pembahasan berada pada isi kitab suci masing-masing agama.
Dalam Islam, beberapa ayat Al-Qur’an kerap dikutip dalam konteks peperangan. Misalnya, Surah Muhammad ayat 4, Surah Al-Baqarah ayat 191, dan Surah At-Taubah ayat 5.
Ayat-ayat tersebut, kata Tino, berbicara mengenai situasi konflik atau peperangan, termasuk perintah melawan pihak yang memerangi umat Muslim, dengan ketentuan-ketentuan tertentu seperti konteks medan perang dan adanya syarat-syarat khusus.
Sementara itu, kata Tino, dalam ajaran Kristen yang tertuang dalam Alkitab, terdapat sejumlah ayat yang menekankan sikap kasih terhadap musuh. Misalnya dalam Injil Lukas 6:27 yang mengajarkan untuk mengasihi musuh, Matius 5:39 yang mendorong untuk tidak membalas kejahatan, serta Roma 12:17 yang mengimbau untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
“Perbedaan penekanan ini menunjukkan bahwa masing-masing kitab suci memiliki konteks dan ajaran yang perlu dipahami secara utuh. Dalam tradisi Kristen, pesan yang sering dikedepankan adalah kasih dan pengampunan, termasuk terhadap musuh,” ujar Tino. (*)










