Esai: Kontroversi di Balik Mandi Sabun Mandi Djenar: Membaca Keluhuran Melalui Perspektif Longinus

Mariany Be'i Adja Pi, Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Foto: Istimewa

Oleh Mariany Be’i Adja Pi

Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

CERPEN Mandi Sabun Mandi karya Djenar Maesa Ayu dikenal sebagai salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menimbulkan banyak perdebatan. Cerita ini dianggap kontroversial karena menampilkan adegan seksual secara terbuka serta menggambarkan hubungan perselingkuhan antara seorang laki-laki beristri dan seorang perempuan bernama Sophie.

Bagi sebagian pembaca, penggambaran tersebut dinilai vulgar dan tidak sesuai dengan norma kesusilaan. Namun, jika dibaca melalui perspektif estetika sastra, karya ini sebenarnya tidak hanya menghadirkan sensasi, melainkan juga menyampaikan kritik sosial tentang kemunafikan dalam hubungan manusia. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami hal tersebut adalah teori Sublime (keluhuran) dari Longinus.

Menurut Longinus, keluhuran dalam sastra muncul melalui lima sumber utama. Pertama, daya wawasan yang agung (grandeur of thought). Kedua, emosi atau nafsu yang mulia (passion). Ketiga, retorika yang unggul. Keempat, pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora.

Kelima, penggubahan yang mulia. Melalui kelima prinsip ini, Cerpen Mandi Sabun Mandi dapat dipahami sebagai karya yang memiliki kekuatan estetika dan gagasan yang lebih dalam daripada sekadar cerita erotis.

Sumber keluhuran pertama adalah daya wawasan yang agung, yaitu gagasan besar yang muncul dari pemikiran pengarang. Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menghadirkan gagasan mengenai kemunafikan dalam hubungan manusia, khususnya dalam konteks perselingkuhan.

Tokoh laki-laki dalam cerita berusaha menutupi hubungannya dengan Sophie agar tidak diketahui oleh istrinya. Hal ini terlihat dalam dialog Sophie yang menyindirnya ketika ia menolak menggunakan sabun motel.

“Kenapa Mas, takut ketahuan istri kalau bau sabunnya beda?” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh laki-laki sangat berhati-hati agar perselingkuhannya tidak terbongkar.

Melalui situasi ini, pengarang sebenarnya sedang menyingkap kenyataan sosial bahwa banyak hubungan manusia yang dibangun di atas kebohongan. Dengan demikian, gagasan utama cerpen ini bukan sekadar tentang hubungan seksual, tetapi tentang ketidakjujuran dan kemunafikan dalam relasi manusia.

Sumber keluhuran kedua adalah emosi atau nafsu yang mulia (passion). Menurut Longinus, karya sastra yang kuat lahir dari dorongan emosi yang intens dan tulus. Dalam cerpen ini, emosi muncul melalui konflik antara Sophie dan lelaki tersebut. Sophie merasa kesal karena lelaki itu tidak berani mempertanggungjawabkan hubungan mereka. Ia pun meluapkan kemarahannya dengan berkata.

“Mas pengecut! Benar kan, Mas masih takut istri, Mas gombal!” Dialog tersebut menunjukkan emosi yang kuat dalam hubungan mereka. Kemarahan Sophie tidak hanya menggambarkan konflik pribadi, tetapi juga memperlihatkan ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan tersebut. Emosi yang intens ini membuat pembaca dapat merasakan ketegangan psikologis tokoh-tokohnya.

Sumber keluhuran ketiga adalah retorika yang unggul, yaitu kemampuan pengarang menggunakan teknik penceritaan yang kreatif. Dalam Cerpen Mandi Sabun Mandi, Djenar menggunakan teknik yang cukup unik dengan menjadikan benda mati seperti meja dan cermin sebagai pengamat peristiwa.

Benda-benda tersebut seolah hidup dan memberikan komentar terhadap tindakan manusia di dalam kamar motel. Misalnya, cermin menggambarkan adegan yang terjadi di hadapannya.

 “Cermin itu terus memantulkan bayangan keduanya. Mata mereka setengah terbuka, kepala mereka tengadah dan mulut mereka desahkan gairah. Tubuh mereka blingsatan tak karuan.” Penggunaan benda mati sebagai narator menciptakan efek ironi yang kuat.

Benda-benda tersebut menjadi saksi bisu dari perilaku manusia yang penuh kepura-puraan. Teknik retorika seperti ini menunjukkan kreativitas pengarang dalam menyampaikan cerita.

Sumber keluhuran keempat adalah pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora. Djenar dikenal menggunakan bahasa yang lugas dan berani dalam menggambarkan realitas sosial. Dalam cerpen ini, pilihan kata yang digunakan sering kali langsung dan tidak disamarkan. Misalnya, dalam dialog benda-benda di kamar tersebut.

 “Masya Allah, dia orgasme di dalam!”. “Apa? Kamu tak salah lihat?” Diksi yang eksplisit inilah yang sering menimbulkan kontroversi di kalangan pembaca. Namun, dari sudut pandang estetika, penggunaan bahasa yang kuat tersebut justru memberikan efek kejut yang mampu menggugah kesadaran pembaca. Selain itu, penggunaan personifikasi pada benda mati seperti meja dan cermin juga memperkaya makna cerita karena menghadirkan sudut pandang yang berbeda.

Sumber keluhuran terakhir adalah penggubahan yang mulia, yaitu cara pengarang menyusun struktur cerita secara efektif. Dalam cerpen ini, struktur cerita dibangun melalui dialog, pengamatan benda mati, dan konflik antara tokoh-tokohnya. Ironi cerita semakin terlihat ketika tokoh laki-laki tersebut menerima telepon dari istrinya dan langsung berbohong mengenai keberadaannya.

“Sedari tadi aku meeting, baru saja selesai.” Padahal pembaca mengetahui bahwa ia sebenarnya baru saja berselingkuh dengan Sophie. Kontras antara kenyataan dan ucapan tersebut menciptakan ironi yang kuat. Penggubahan cerita yang seperti ini menunjukkan kemampuan pengarang dalam membangun konflik sekaligus menyampaikan kritik sosial.

Kontroversi yang muncul dari Cerpen Mandi Sabun Mandi sebenarnya berkaitan dengan cara pembaca memandang tema seksualitas dalam sastra. Banyak pembaca menilai karya ini hanya dari sisi moral permukaan tanpa melihat tujuan artistik dan kritik sosial yang ingin disampaikan oleh pengarang.

Melalui perspektif keluhuran Longinus, kontroversi tersebut dapat diatasi dengan cara memahami bahwa bahasa yang berani dan tema yang sensitif merupakan strategi artistik untuk mengungkap realitas sosial yang sering disembunyikan. Cerpen ini tidak sekadar menghadirkan cerita erotis, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan nilai kejujuran, komitmen, dan moralitas dalam hubungan manusia.

Selain itu, penting bagi pembaca untuk melihat bahwa karya sastra sering kali berfungsi sebagai cermin sosial. Cerpen Mandi Sabun Mandi tidak menciptakan realitas perselingkuhan atau kemunafikan, melainkan hanya memotret fenomena yang memang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, kontroversi seharusnya tidak diarahkan pada karya sastra itu sendiri, tetapi pada refleksi sosial yang diungkapkannya.

Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Cerpen Mandi Sabun Mandi memiliki unsur keluhuran sebagaimana dijelaskan oleh Longinus. Keluhuran tersebut tampak melalui gagasan besar tentang kemunafikan hubungan manusia, emosi yang kuat dalam konflik tokoh, retorika yang kreatif, penggunaan diksi yang ekspresif, serta penggubahan cerita yang efektif dan ironis.

Oleh karena itu, kontroversi yang muncul seharusnya tidak membuat karya ini dipandang secara negatif semata. Sebaliknya, karya ini dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi kreatif yang berusaha mengungkap realitas kehidupan manusia secara jujur dan kritis.