DAERAH  

Pemerintah Terkesan Abai Menjaga Kamtibmas di Tanah Papua, Warga Sipil dan Aparat Jadi Korban

Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah Yosef Temorubun, SH. Foto: Istimewa

TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Pihak Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah menilai insiden yang terjadi di dua tempat berbeda di Papua Selatan dan Papua Tengah, Rabu (11/2) dalam waktu berdekatan merupakan tindakan tidak manusiawi pelaku yang menimbulkan instabilitas keamanan dan ketertiban di tanah Papua.

Insiden pertama ialah penembakan pesawat Cessna milik maskapai PT Smart Air Aviation rute Tanah Merah-Danawage/Korowai Batu di Bandara Koroway Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2) sekitar pukul 10.00 WIT.

Insiden kedua, penyerangan terhadap rombongan kendaraan di Mile 50, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (11/2). Insiden di Bandara Koroway maupun Tembagapura memakan korban jiwa dan luka-luka.

“Pemerintah pusat lebih fokus untuk melihat persoalan konflik global dari pada menyelesaikan konflik bersenjata di tanah Papua. Konflik bersenjata terkesan berjalan rutin dari tahun ke tahun lalu warga sipil, aparat keamanan baik TNI-Polri, dan anggota TPNPB OPM meninggal sia-sia,” ujar Direktur YLBH Papua Tengah Yosef Temorubun, SH di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (12/2).

Padahal, konflik yang berkepanjangan di tanah Papua idealnya dijembatani melalui dialog damai. Dialog ini sangat urgen dengan melibatkan semua staleholder berkepentingan agar menghindari jatuh korban lebih banyak sekaligus mengakhiri konflik.

Menurut Temorubun, pemerintah memiliki pengalaman dalam menangangi konflik bersenjata yang terjadi antara Pemerintah Indonesia dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ujung konflik di Serambi Mekkah, katanya, lahir perdamaian melalui Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2025.

“Pemerintah serius menyelesaikan konflik dengan GAM di Aceh lalu berujung damai. Namun, pengalaman ini bisa dilakukan di tanah Papua. Dialog Jakarta-Papua seperti yang digagas Jaringan Damai Papua di bawah pimpinan Almarhum Pastor Dr Neles Tebai Pr dan Kawan-kawan perlu segera dilakukan demi menyudahi konflik bersenjata,” kata Temorubun, praktisi hukum jebolan Universitas Pattimura, Ambon, Maluku.

Langkah pemerintah pusat mengirim apparat keamanan, baik TNI maupu Polri ke tanah Papua sulit bahkan tidak efektif membendung atau mengakhiri konflik dengan kelompok TPNPB OPM. Bahkan langkah pengiriman aparat keamanan juga malah kurang mendapat simpati Masyarakat, terutama yang tinggal di berbagai pelosok di di tanah Papua.

“Ada apa dengan tanah Papua dan mengapa semakin hari insiden penembakan yang berujung korban jiwa jatuh baik aparat TNI-Polri, TPNPB OPM, dan warga sipil? Slogan Papua tanah damai hanya mimpi. Konflik yang berujung nyawa manusia jatuh sia-sia sangat miris. Negara perlu segera mengakhiri melalui dialog damai,” kata Temorubun. (*)