Ia lahir di kampung Bauraja. Semasih kecil ia disapa keluarga dan orang-orang Bauraja dan Atadei, Laba Hekeren. Ia menjadi imam sebelum akhirnya menggembalakan umat Keuskupan Jayapura hingga purna tugas.
USKUP Emeritus Keuskupan Jayapura Mgr Dr Leo Laba Ladjar, OFM merupakan salah satu figur penting dalam sejarah Gereja Katolik di tanah Papua. Selama lebih dari dua dekade, ia menggembalakan Keuskupan Jayapura.
Corak kepemimpinannya khas Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Fransiskan: sederhana, tegas, dan berakar pada spiritualitas kasih serta kerendahan hati. Ia menjabat sebagai Uskup Jayapura sejak 29 Agustus 1997 hingga mengakhiri masa pelayanannya pada 29 Oktober 2022.
Uskup Emeritus Mgr Leo Laba Ladjar, OFM lahir 4 November 1943 di Kampung Bauraja, Nubahaeraka, Kecamatan Atadei, Pulau atau Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ia lahir era pendudukan Jepang.
Atadei dan Lembata umumnya merupakan wilayah yang sudah lama menjadi ladang subur tumbuhnya imam, suster, bruder, dan frater sebagai persembahan bagi Gereja Katolik Indonesia dan dunia.
Ditahbiskan Jadi Imam Oleh Paus Paulus VI
Sejak muda, Leo Laba memilih jalan hidup religius dengan bergabung dalam OFM mengikuti jejak spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Ia ditahbiskan menjadi imam Fransiskan oleh Paus Paulus VI pada 29 Juni 1975. Sebuah peristiwa iman jarang terjadi dan menjadi kebanggaan tersendiri dalam perjalanan imamatnya.
Sebagai imam, Leo Laba Ladjar dikenal memiliki keteguhan disiplin dan keseriusan dalam pembinaan umat serta hidup religius, nilai-nilai yang kemudian sangat memengaruhi gaya kepemimpinannya sebagai uskup.
Pada 6 Desember 1993, Tahta Suci menunjuknya sebagai Uskup Auksilier Jayapura dengan gelar Uskup Tituler Bencenna. Ia ditahbiskan menjadi Uskup pada 10 April 1994 oleh Uskup Jayapura saat itu, Mgr Herman Ferdinandus Maria Münninghoff, OFM.
Penahbisan tersebut dihadiri oleh para uskup dari berbagai keuskupan di tanah Papua, menandai kepercayaan besar Gereja terhadap kepemimpinannya. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 29 Agustus 1997, Mgr Leo resmi diangkat menjadi Uskup Jayapura menggantikan Mgr Münninghoff yang mengundurkan diri.
Dalam masa kepemimpinannya, Keuskupan Jayapura menghadapi dinamika sosial-politik Papua yang kompleks. Mulai dari persoalan identitas, keadilan sosial hingga relasi Gereja dengan masyarakat adat dan negara.
Sebagai gembala Mgr Leo dikenal berani mengambil sikap yang tidak selalu populer. Ia pernah menolak wacana yang mengaitkan identitas orang asli Papua semata-mata sebagai ras Melanesia beragama Kristen, yang menurutnya merupakan bentuk identifikasi esoteris yang menyederhanakan realitas iman dan budaya.
Sikap teologis dan sosiologis ini memicu perdebatan luas dan bahkan kritik, terutama dari kalangan muda Katolik di Jayapura, terlebih ketika ia menutup salah satu tempat pembinaan kaum muda Katolik.
Namun, bagi Mgr Leo, keputusan-keputusan tersebut lahir dari tanggung jawab pastoral dan pandangannya tentang arah pembinaan iman yang lebih mendalam. Di tingkat nasional, peran Mgr Leo juga sangat signifikan.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua I Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) periode 2015–2018. Dalam peran ini, ia terlibat aktif dalam perumusan sikap Gereja Katolik Indonesia terhadap berbagai isu kebangsaan, pluralisme, dan keadilan sosial.
Membangun Fondasi Gereja Katolik di Papua
Dalam pelayanan episkopal, Mgr Leo turut mengambil bagian dalam penahbisan sejumlah uskup penting di Indonesia Timur. Ia menjadi Uskup Penahbis Pendamping bagi Uskup Keuskupan Larantuka (kala itu) Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr dan Uskup Keuskupan Agats Mgr Aloysius Murwito, OFM.
Mgr Leo juga bertindak sebagai Uskup Penahbis Utama bagi Mgr John Philip Saklil, Pr, Uskup pertama Keuskupan Timika pada 18 April 2004. Peran ini menegaskan kontribusinya dalam membangun fondasi Gereja Katolik di Papua dan sekitarnya.
Semboyan episkopalnya, In Caritate et Humilitate Dei —Dalam Kasih dan Kerendahan Allah— menjadi benang merah seluruh pelayanannya. Hingga kini, Mgr Leo Laba Ladjar dikenang sebagai gembala yang teguh memegang prinsip, setia pada spiritualitas Fransiskan, dan berani menghadapi dinamika berat Gereja di Papua dengan iman yang kokoh.
Sebagai Uskup Emeritus Jayapura, warisan Mgr Leo bukan hanya tercatat dalam sejarah struktural Gereja, tetapi juga dalam perjalanan iman umat yang pernah digembalakannya di tanah Papua.
Kisah Laba Hekeren dari Bauraja
Bauraja berjarak tak lebih dari dua kilometer dari Waiwejak, Kecamatan Atadei, Pulau Lembata, NTT. Buraja, kampung udik itu bagian dari Waiwejak. Jangan bayangkan Bauraja sedikit gemerlap semacam Lerek yang mengoleksi Sekolah Rakyat sampai kelas VI.
Atau juga Waiwejak yang kalau anak-anak kecil tahun 1940-an masuk SR sebatas kelas III sebelum lanjut kelas sambungan di Lerek. Apakah nama Bauraja disematkan oleh karena di kampung itu ada sebatang pohon beringin besar, bau raja(n) tumbuh di tengah atau bibir kampung Bauraja, entahlah.
Orang-orang Atadei, tentu lebih tahu. Bauràja juga kawasan yang berada di beranda Waiteba yang selalu dalam intaian bencana banjir dan lòngsor. Tatkala Waiteba luluh lantak akibat bencana hebat tahun 1979, warga Bauraja pun ikut diungsikan bersama warga Waiteba ke Loang, Ibu Kota Kecamatan Nagawutun (IKN) saat ini.
Saat bencana longsor, adik Laba Hekeren, Philipus Ladjar, juga ikut diungsikan sebelum ancaman longsor kian menganga lebar. Laba Hekeren, putra asli Bauraja sempat mengenyam pendidikan SR hingga kelas III lalu nambah tiga tahun lagi di SR Lerek.
“Setelah tamat SR, Laba Hekeren menuju Jakarta mengikuti kerabatnya yang sudah ‘melarat’ (merantau) duluan di Jakarta. Laba Hekeren masuk sekolah menengah pertama di daerah Kramat Raya. Beliau masuk seminari Cicurug, Bogor dan studi filsafat di Kentungan, Yogyakarta,” ujar Thomas Ataladjar, sejarahwan DKI Jakarta dan kerabat Laba Hekeren.
Pasca bencana Waiteba, sekitar 12 kepala keluarga asal Bauraja di Jakarta bertemu dalam arisan keluarga. Laba Hekeren, warga asal Bauraja juga terlibat bersama orang sekampungnya merajut kebersamaan di rantau. Lama-lama muncul niat baik membentuk Koperasi Gerie Gelekat di sekitar jembatan itam, Cipinang, Jakarta Timur.
“Laba Hekeren adalah salah seorang perantau asal Bauraja yang merintis berdirinya Koperasi Simpan Pinjam Gerie Gelekat. Setelah saya bergabung, saya ikut merintis sebuah buletin internal. Laba Hekeren adalah salah seorang penulis tetap di buletin itu,” kata Ataladjar, yang dikenal sebagai sejarahwan Jakarta generasi di atas sejarahwan Jakarta JJ Rizal.
Frater Laba Hekeren menuju Roma dan lama menetap di Eropa. Pimpinan OFM menugaskan Laba Hekeren studi di Roma hingga menyelesaikan gekar doktor. Gereja Katolik Indonesia khususnya OFM Indonesia tentu bangga dengan capaian akademik Laba Hekeren di kota Abadi.
Pun orang-orang dari kampung Bauraja dan Lembata umumnya atas sosok Laba Hekeren, anak kampung dari Bauraja. Kebanggaan dimaksud tak lain kasih dan penyertaan Tuhan atas jejak perjalanan seorang Laba Hekeren hingga merasakan udara kota Roma dan bale (pulang) kampung dengan kisah menggembirakan penuh syukur.
“Pada 29 Juni 1975 Laba Hekeren ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Roma Paus Paulus VI. Saya yakin beliau satu-satunya diakon asal NTT yang ditahbiskan langsung Paus,” kata Ataladjar.
Pasca Uskup Jayapura Mgr Moeninghof mengakhiri masa tugas sebagai Uskup Jayapura, Laba Hekeren ditunjuk Paus menjadi Uskup Jayapura. Penununjukan Laba Hekeren tentu didasari pertimbangan Laba Hekeren adalan sosok yang tepat.
Ia terkenal disiplin. Hal yang tentu ditopang oleh spiritualitas Kongregasi, pengalamana, dan latar akademik yang dikoleksi Laba Hekeren.
“Kalau kerabat hendak bertemu beliau, harus janjian terlebih dahulu. Tetapi kalau umat di luar kerabatnya tentu boleh saja sepanjang melakukan komunikasi terlebih dahulu dan menyampaikan apa keperluannya,” ujar Ataladjar.
Meski terkenal disiplin bukan berarti Laba Hekeren abai kepada kerabat yang juga umatnya. Rumah adat suku Ataladjar Blikololo di Waiwejak, kisah Thomas, juga dibangun sepengetahuan dan petunjuk Laba Hèkeren.
“Dulu rumah adat digunakan selain sebagai tempat memuja Lera Wulan Tana Ekan (Tuhan Penguasa Langit dan Bumi) dan tempat dilakukan aneka ritual adat suku. Juga jadi tempat berkumpulnya warga suku untuk bicarakan segala masalah suku. Sekarang selain tempat berkumpul membicarakan masalah suku agar juga dijadikan sebagai tempat doa,” kata Laba Hekeren. “Beliau sendiri yang memberkati rumah adat ini setelah dilakukan ritual adat,” lanjut Thomas.
Perjalanan usia yang terbilang panjang sepanjang perjalanan dari Bauraja mengitari sejumlah tempat di berbagai benua lalu melayani umat Tuhan di tanah Papua.
Selamat Ulang Tahun ke-83, Bapa Uskup Emeritus Leo Laba Ladjar OFM. Selamat Ulang Tahun, Bapa Uskup Laba Hekeren. Semoga sehat selalu melayani umat di tanah Papua, surga kecil yang jatuh ke bumi.
Tete Manis sayang Bapa Uskup dan umat nun di timur, tempat matahari pertama kali menyapa bumi. Wa wa wa……… (Marton Juang dan redaksi)










