Sosok  

Kisah Inspiratif Putra Keluarga Sederhana Meraih Sarjana di Universitas Satya Wiyata Mandala

Royminggus Ola Sina. Foto: Mahendra Duan

Di tengah realitas pendidikan Indonesia yang masih bergulat dengan ketimpangan akses dan peluang, ia hadir sebagai narasi tandingan dalam sunyi namun menggugah.

SUKSES meraih pendidikan bukan hanya menjadi milik orang kaya atau keluarga mampu dan berkecukupan. Siapapun bisa dengan mudah meraih pendidikan hingga jenjang tertinggi sekalipun.

Meskipun uang menjadi salah satu faktor, namun lebih dari itu niat, kerja keras, tahan banting dalam situasi apapun, dan kesabaran merupakan faktor yang sangat menentukan sukses seseorang meraih jenjang pendidikan tertinggi.

Kisah sukses itu juga menyertai jejak petualangan Royminggus Ola Sina. Roy bukan anak dari keluarga dengan privilese ekonomi, bukan pula produk dari sistem yang sepenuhnya ramah. Roy lahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara di Desa Duablolong Riang Deri, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Perjalanan Roy bukan sekadar lintasan pendidikan panjang, melainkan proses transformasi sosial penuh tekanan dan aneka pilihan sulit. Usai menamatkan Sekolah Dasar (SD) Inpres Duablolong di kampung halamannya, ia masuk SMP Negeri Ile Boleng, Adonara, hingga kelas dua. Namun, saat itu ia memutuskan berhenti.

Roy berlayar dari Adonara menuju Nabire mengikuti orang tuanya yang merantau di tanah Meepago (Papua Tengah). Keputusan ini tidak hanya memindahkan lokasi, tetapi juga memindahkan harapan. Di Nabire, Roy semangat Roy mengenyam oendidikan tak padam, Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga lulus di SMP Negeri 9 Nabire hingga SMK 2 Nabire.

Berada di Nabire, ia tumbuh dalam realitas baru: lingkungan yang berbeda, tuntutan yang lebih kompleks serta kondisi ekonomi keluarga yang tetap sederhana. Ayahnya bekerja sebagai seorang security (penjaga sekolah) di sebuah sekolah Katolik. Sedang sang bunda, seorang ibu rumah tangga. Dalam konfigurasi sosial seperti ini, pendidikan sering kali menjadi beban. Namun bagi keluarga Roy, pendidikan justru menjadi jalan suci meraih cita-cita.

Pendidikan Bukan Sekadar Formalitas

Dalam perspektif ilmiah-populer, pendidikan dapat dipahami sebagai instrumen mobilitas sosial —sebuah mekanisme yang memungkinkan individu berpindah dari satu lapisan sosial ke lapisan yang lebih tinggi. Namun, dalam praktiknya, mobilitas ini tidak pernah otomatis. Ia membutuhkan kombinasi antara akses, ketekunan, dan dukungan keluarga.

Roy adalah contoh konkret dari bagaimana pendidikan dijalankan sebagai proyek keluarga, bukan sekadar urusan individu. Ia tidak berjalan sendiri. Di belakangnya, ada ayah yang setiap hari berdiri di pos jaga sebagai security, dan ibu yang mengelola rumah tangga dalam doa dan kerja keras. Mereka mungkin tidak memiliki kapital ekonomi yang besar, tetapi mengoleksi nilai: disiplin, kerja keras, dan keyakinan pada pendidikan.

Setelah menyelesaikan SMA, Roy melanjutkan studi ke Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM), jurusan Teknik Informatika; sebuah bidang yang menuntut kemampuan logika, ketahanan mental, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Pilihan ini menunjukkan orientasi masa depan yang rasional. Ia tidak sekadar kuliah, tetapi mempersiapkan diri untuk memasuki dunia yang kompetitif.

Namun, perjalanan akademik tidak pernah steril dari tekanan. Pada akhir semester delapan, menjelang wisuda, Roy menghadapi realitas yang tidak bisa dihindari. Alih-alih menyerah atau menunggu bantuan, ia memilih bekerja. Ia mengambil peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pencari nafkah tambahan.

Keputusan ini mencerminkan apa yang dalam kajian psikologi disebut sebagai self-efficacy —keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengatasi tantangan. Roy tidak melihat keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, tetapi sebagai konteks untuk bertindak lebih keras. Ia belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang menerima pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter.

Keteguhan sebagai Energi Perubahan

Jika ada satu kata yang dapat merangkum perjalanan Roy, maka itu adalah keteguhan. Keteguhan yang tidak spektakuler, tetapi konsisten. Keteguhan yang tidak selalu terlihat, tetapi terus bekerja.

Keteguhan ini lahir dari interaksi antara nilai keluarga dan pengalaman hidup. Dengan pekerjaan sebagai security, sang ayah menunjukkan bahwa kerja adalah bentuk tanggung jawab, bukan sekadar rutinitas. Sang bunda sebagai ibu rumah tangga, menghadirkan stabilitas emosional yang menjadi fondasi psikologis bagi anak-anaknya. Dalam konteks ini, keluarga menjadi ruang produksi nilai yang paling efektif.

Roy menyerap nilai-nilai itu. Ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga di ruang kehidupan. Ia memahami bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari perjuangan kolektif keluarganya. Kesadaran ini melahirkan motivasi intrinsik; jenis motivasi yang tidak mudah runtuh oleh tekanan eksternal.

Namun, kisah ini juga menyimpan kritik struktural. Bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh jalur seperti Royminggus. Banyak yang terhenti di tengah jalan karena keterbatasan biaya, akses, atau dukungan.

Dalam laporan Unesco (2022) melalui Global Education Monitoring Report, ditegaskan bahwa ketimpangan akses pendidikan masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah terpencil dan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Tanpa intervensi sistemik, pendidikan justru berpotensi mereproduksi ketimpangan, bukan menguranginya.

Di sinilah kisah Royminggus menjadi penting. Ia bukan hanya cerita sukses, tetapi juga bukti bahwa potensi itu ada di mana-mana. Yang sering kali tidak ada adalah kesempatan. Dan ketika kesempatan itu hadir —meski kecil— keteguhan menjadi faktor penentu.

Bagi para orang tua yang sedang berjuang menyekolahkan anak-anak mereka, kisah ini membawa pesan yang tegas: jangan menyerah pada keterbatasan. Pendidikan memang membutuhkan biaya, tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan komitmen. Tanpa komitmen, sumber daya sebesar apa pun tidak akan cukup. Dengan komitmen, keterbatasan bisa diubah menjadi kekuatan.

Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk mengukur keberhasilan dari hasil akhir semata —gelar, pekerjaan, atau pendapatan. Padahal, yang lebih penting adalah proses yang membentuk individu tersebut. Roy tidak hanya menjadi sarjana, tetapi menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, wisuda Roy bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Ia adalah simbol dari akumulasi perjuangan Panjang —dari Duablolong ke Nabire, dari keterbatasan ke kemungkinan. Ia adalah bukti bahwa batas-batas pendidikan bukanlah tembok yang tak bisa ditembus, melainkan tantangan yang bisa dilampaui dengan keteguhan.

Dan mungkin, di banyak rumah sederhana lainnya, cerita serupa sedang ditulis —perlahan, diam-diam, tetapi penuh daya. Kepada mereka, kisah ini hendak berkata: teruslah berjalan.

Karena di setiap langkah yang diambil dengan keyakinan, masa depan sedang dibentuk— tidak instan, tetapi pasti. Dari nusa Tadon Adonara ke tanah Papua Papua, ia meraih sukses setelah lulus sarjana Teknik Informatika di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire. “Tuhan sungguh dan selalu baik,” kata Roy. (Eugene Mahendra Duan, Guru SMP YPPK Santo Antonius Nabire)