Tokoh Gereja di Tanah Papua Layangkan Surat Terbuka ke Sekretaris Jenderal PBB António Gutterez

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres Sumber foto: dw.com, 13 Oktober 2016O

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) António Guterres mulai Sabtu-Senin (17-19/10) berada di Indonesia dalam rangka kunjungan kenegaraan.

Kunjungan António Gutterez, mantan Perdana Menteri Portugal dengan agenda pertemuan tingkat tinggi bersama Presiden Prabowo Subianto guna membahas multilateralisme, isu geopolitik global, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable). Kunjungan ini menjadi momentum penguatan kemitraan strategis Indonesia dan PBB.

“Selamatkan orang asli Papua dari kejahatan kemanusiaan (genocida) dan kerusakan hutan adat (ecocida) orang asli Papua dari Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke dan 25.000 hektare kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tanah Papua,” ujar Sekretaris Umum Gereja Kemah Injil (Kingmi) Di Tanah Papua Pendeta Dominggus Pigay melalui surat terbuka yang salinannya diterima di Jayapura, Papua, Minggu (18/10).

Menurut Dominggus Pigay, tanah Papua yang dianeksasi negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1969 melalui Act of Free Choice atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) hingga kini menyebabkan kekerasan negara melalui tindakan represif militer dan kontak senjata.

Akibatnya, terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) berat dan kejahatan kemanusiaan (genocida, ecosida) terhadap masyarakat sipil yang adalah orang asli Papua.

“Sampai saat ini orang asli Papua pelanggaran HAM akibat konflik bersenjata antara TNI-Polri dan TPNPB OPM karena adanya tuntutan idiologi Papua merdeka, eksploitasi sumber daya alam, perampasan tanah adat di tanah Papua maka nasib hidup dan ruang hidup orang asli Papua berada dalam Krisis Kemanusiaan yang sangat memprihatinkan,” kata Dominggus Pigay.

Dominggus menegaskan, orang asli Papua tidak ada masa depan di atas tanah leluhurnya karena adanya perampasan tanah adat orang asli Papua oleh militer, konglomerat, perusahaan transnasional dalam bentuk PSN atas nama klaim negara.

“Kami sebagai Gereja Kemah Injil Kingmidi Tanah Papua yang berbasiskan gereja orang asli Papua terbesar di tanah Papua meminta perhatian dan komitmen serius dari Bapak Sekretaris Jenderal Perserserikatan Bangsa-Bangsa Tuan Antonio Gutterez untuk memberi perhatian dan menyelesaikan masalah krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan hidup yang sedang hadapi di seluruh tanah Papua,” katanya.

Multi krisis tersebut terkait dengan persoalan pengungsi masyarakat sipil internal, bencana kebakaran hutan dan lahan serta Proyek Strategis Nasional. Dominggus menyampaikan suara Gereja kepada Sekjen PBB) António Guterres.

Pertama, masalah pengungsi internal (IDPS) yang menimpa masyarakat aipil yang adalah orang asli Papua akibat konflik bersenjata antara TNI-Polri vs Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) tanpa henti-hentinya tidak mematuhi hukum humaniter atau hukum perang menyebabkan.

Akibatnya, anak-anak usia produktif yang bersekolah mengalami putus sekolah, tidak mendapat pelayanan kesehatan memadai dari rumah sakit, warga jemaat tidak dapat beribadah, merayakan Natal, Paskah, dan kegiatan hari-hari Gereja karena para pendeta ditembak, gedung gereja dibakar dan gereja dijadikan pos pangkalan militer TNI-Polri.

Gedung sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan dijadikan tempat atau militer. Warga jemaat tidak dapat berkebun karena lokasi perkebunan dikuasai TNI-Polri dan pasukan gabungan. Jumlah pengungsi IDPS sekitar 120.000 (seratus dua puluh ribu).

Kedua, tanah Papua adalah tanah adat yang telah menerima Injil karena pemberitaan Injil. Negara Indonesia mengklaim dan merebut tanah-tanah adat atas nama kebijakan negara.

Terjadi praktek perampokan tanah adat, illegal logging, pembakaran hutan, illegal minning, penebangan hutan, pengrusakan ekosistem margasatwa di kawasan hutan adat Papua.

Bahkan lebih kejam dan menyedihkan lagi adanya PSN di Merauke, Papua Selatan yang sekarang ini dikuasai oleh perusahaan yang merusak hutan primer dua juta hektar dengan dalih menanam kelapa sawit dan tanaman bio etanol. Hal ini telah merusak Papua sebagai paru-paru dunia yang menyuplai oksigen bagi bumi setelah hutan Amazon di Brazilia.

Ketiga, terjadi kasus atau bencana kebakaran hutan dan lahan sepanjang Oktober mencapai 25.000 hektar dengan titik kerawanan panas di 8.324 tempat. Dengan fenomena krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan hidup di tanah Papua ini, Gereja Kemah Injil (Kingmi) Di Tanah Papua menyerukan kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Tuan Antonio Gutterez.

Satu, mengintervensi misi khusus kemanusiaan bagi orang asli Papua yang sudah sedang menuju ke ambang pemusnahan etnis manusia asli Papua. Dua, melibatkan organ PBB di dunia agar terlibat aktif di tanah Papua untuk menyelamatkan orang asli Papua, “save our soul” dari praktek impunitas kejahatan kemanusiaan dan kejahatan lingkungan. (*)