Prosa Lirik: Sejiwa Elias Awakidabi Bersama sang Nabi Elia Karya Yance Dou

Pesona alam jelang matahari menyentuh senja. Sumber foto ilustrasi: id.pngtree.com

Sejiwa Elias Awakidabi Bersama sang Nabi Elia

DI TANAH Papua yang luas, di bawah naungan pegunungan yang megah dan lembah-lembah yang sunyi, Elias Aweekidabi tinggal beratap langit melewati hari-hari dalam hidupnya. Elias anak negeri dari pedalaman Mee Pago.

Awalnya, ia hanyalah seorang anak muda biasa dari sebuah kampung terpencil di bibir Danau Paniai. Tanpa gelar, tanpa harta, dan tanpa kuasa dunia. Namun, di tengah zaman yang gelap, ketika kejujuran mulai terkikis dan sesama manusia mulai menyembah ‘berhala-berhala zaman’ seperti kekayaan duniawi dan kekuasaan, Tuhan memanggil Elias untuk berdiri di garis depan.

Panggilan hidupnya terukir dalam sunyi, dalam ketaatan yang tak bersuara, dan dalam keberanian yang menyala-nyala. Elias tidak menunggu lama di zona nyaman. Ketika kebenaran diinjak-injak dan keadilan dilupakan oleh para penguasa negeri, Tuhan memberikan keberanian yang luar biasa di dalam dadanya.

Elias melangkah tegap menghadap para penguasa lalim. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia menyatakan kebenaran tanpa gentar. Katanya, “Demi Tuhan, Allah orang Papua yang hidup, yang kuabdi dan kulayani, tidak akan ada setetes embun atau hujan lebat di tanah ini selama tahun-tahun mendatang, kecuali atas firman yang keluar dari mulutku!”

Itulah langkah pertama panggilannya: berani menyuarakan kebenaran, berdiri tegak di hadapan singgasana kekuasaan demi membela keadilan Sang Pencipta. Setelah menyampaikan firman yang menggetarkan itu, Tuhan membawanya ke tempat yang sunyi. “Pergilah, bersembunyilah di tepi aliran sungai kecil di pedalaman hutan!”

Di tempat tersembunyi itu, Elias ditempa dalam kesunyian yang panjang. Tuhan mengajarkan hal hal yang paling mendasar dalam hidupnya: Bergantung mutlak pada Sang Pencipta —di mana air jernih ia teguk dari sungai, dan setiap pagi serta senja, burung-burung margasatwa membawa makanan untuknya.

Siapa sangka makanan bisa datang dari sayap-sayap burung liar di tengah hutan rimba? Namun Elias taat, tunduk dalam keheningan alam. Perjalanan hidupnya berlanjut ketika Tuhan menuntunnya menuju sebuah kampung kecil di kaki bukit.

Di sana, tinggal seorang janda miskin yang hampir putus asa, yang hanya memiliki setumpuk petatas di dalam noken dengan sebuah tempayan air kali bening. Di hadapan kemiskinan itu, Elias belajar tentang rahasia besar dalam hidup: Tuhan sanggup menyatakan mukjizat-Nya dari hal-hal yang paling sederhana.

Puncak dari perjalanan iman Elias terjadi di atas bukit yang terbuka di bawah langit Papua yang luas. Ketika bangsa itu berada dalam kebimbangan, berdiri di persimpangan antara menyembah Tuhan yang hidup atau mengikuti berhala dunia, Elias menantang seluruh pemimpin dan nabi-nabi palsu. “Kita dirikan mezbah! Siapa yang menjawab dengan api dari langit, Dialah Allah yang benar!”

Dari pagi hingga jelang matahari terperosok di ujung senja, para nabi palsu berseru-seru, menari, dan memohon dengan sia-sia. Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Sepi. Tetapi ketika senja merapat, Elias merapikan mezbah dari batu-batu wadas lambang persatuan suku-suku bangsanya.

Ia menyiram kayu bakar itu dengan air berulang-ulang hingga basah kuyup, tanpa menyisakan ruang bagi trik manusia. Lalu, dengan suara yang tenang penuh keyakinan, ia menengadah kepada Sang Pencipta.

Seketika itu juga, api turun dari langit! Api yang menyambar menghanguskan kurban, membakar kayu, menjilat batu-batu, bahkan mengeringkan air di dalam parit hingga tandus.

Seluruh rakyat yang melihat mukjizat itu tersungkur ke tanah, mencium debu, dan berseru dengan suara gemetar: “Tuhan, ampuni kami yang telah berdebu dosa memenuhi jiwa raga kami.”

Hari itu, langit yang telah lama terkunci akhirnya membukakan pintu. Hujan turun dengan derasnya, menyirami tanah yang haus, membawa kehidupan baru bagi seluruh bumi.

Kisah Elias Aweekidabi bukan tentang kehebatan seorang manusia, melainkan tentang seorang anak negeri yang mau taat sepenuhnya. Tuhan memanggilnya bukan karena ia kuat atau berkuasa.

Tetapi karena ia bersedia dibentuk dalam kesunyian sungai kecil, setia melayani yang paling kecil di pelosok kampung, dan berani berdiri tegak demi kebenaran di atas puncak bukit.

Port Numbai, 21 Oktober 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Teologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.