Oleh Yosua Noak Douw
Tokoh Muda Gereja-gereja Injili di Tanah Papua
DI SOFIFI, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara, sejarah mencatat sebuah peristiwa yang tidak lazim. Sherly Tjoanda Laos dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 sebagai perempuan pertama yang memimpin provinsi itu, sebuah wilayah yang selama ini didominasi kepemimpinan laki-laki, sebagaimana dicatat dalam analisis RRI Ternate (2025).
Ia bukan hanya perempuan. Ia keturunan Tionghoa dan beragama Kristen Protestan, sementara sekitar 74,5 persen warga Maluku Utara beragama Islam. CNA Indonesia (2024) bahkan menyebutnya sebagai figur “triple minoritas”. Toh, menurut real count KPU yang dilaporkan media yang sama, ia meraih sekitar 51,89 persen suara, jauh meninggalkan pesaing terdekatnya, Sultan Tidore Husain Alting Sjah.
Angka itu bukan sekadar statistik elektoral. Ia adalah teks sosial yang layak dibaca oleh gereja, terutama oleh generasi muda Kristen di Indonesia. Pertanyaannya bukan “mengapa seorang Kristen bisa menang”, melainkan “pelayanan macam apa yang mampu menembus sekat gender, etnis, dan agama sekaligus”. Di titik inilah kisah Sherly menjadi bahan refleksi teologis, bukan bahan pemujaan.
Iman yang Lahir dari Luka
Dalam sebuah perbincangan yang beredar luas di televisi dan kanal podcast, Sherly ditanya siapa tokoh pemimpin yang menjadi panutannya. Jawabannya mengejutkan karena kesederhanaannya. Ia mengaku tidak memiliki tokoh manusia tertentu sebagai inspirasi. Ia berpegang pada nilai-nilai Alkitab.
Lalu ia membuka luka yang belum lama mengering: kematian suaminya, Benny Laos, dalam kecelakaan speedboat pada 12 Oktober 2024. Ia sempat bertanya, “Kenapa saya? Kenapa dia?” Namun ia tiba pada sebuah kesadaran: ia tidak bisa mengontrol apa yang hilang, tetapi ia bisa menentukan bagaimana memberi arti pada sisa hidup, pada “waktu ekstra” yang Tuhan berikan.
Kalimat itu bergaung seirama pemikiran psikiater Austria Viktor E Frankl dalam Man’s Search for Meaning (1946), yang lahir dari pengalamannya bertahan di kamp konsentrasi. Frankl menegaskan, kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap terhadap penderitaan yang tidak dapat ia hindari.
Bedanya, Sherly menambatkan makna itu bukan pada kehendak diri, melainkan pada Tuhan. Amsal 3:5–6 menjadi gema yang tepat: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Orang yang kehilangan pegangan manusiawi justru menemukan pegangan yang lebih kokoh.
Bagi anak muda Kristen yang tumbuh di tengah budaya pencapaian, ini koreksi yang penting. Kepemimpinan tidak selalu lahir dari rencana karier yang rapi, magang di partai atau jejaring kekuasaan. Kadang ia lahir dari reruntuhan, dari kemauan untuk tidak membiarkan duka menjadi kata terakhir.
Melayani, Bukan Dilayani
Ketika memasuki pemerintahan dengan pengakuan “pengetahuan nol secara birokrasi”, Sherly memegang rumus yang nyaris seperti doa harian: melayani dengan kasih, menjaga integritas, berdoa ketika takut, bertanya ketika tidak tahu. Bahkan meminta maaf ketika salah dan menemui langsung orang yang berkonflik dengannya untuk menyelesaikan masalah. Rumus ini sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan seluruh etika kepemimpinan Kristen.
Yesus merangkumnya dalam Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Penulis dan konsultan Amerika Serikat Robert Kiefner Greenleaf (1904–1990) dalam Servant Leadership (1977) kemudian menerjemahkan gagasan itu ke bahasa organisasi modern.
Kata Greenleaf, pemimpin sejati adalah pelayan terlebih dahulu; ujiannya adalah apakah orang-orang yang dilayani tumbuh menjadi lebih sehat, lebih bijak, dan lebih merdeka. Tidak mengherankan bila analisis RRI Ternate (2025) memakai kerangka Greenleaf untuk membaca orientasi kebijakan Sherly, termasuk program pendidikan gratis yang menempatkan pemimpin pertama-tama sebagai pelayan warga.
Teolog Henri Jozef Michel Nouwen dalam In the Name of Jesus (1989) mengingatkan godaan terbesar para pemimpin Kristen: godaan untuk relevan, godaan untuk tampil spektakuler, dan godaan untuk berkuasa. Pengakuan “saya tidak tahu, maka saya bertanya” dan “saya salah, maka saya minta maaf” adalah perlawanan halus terhadap ketiga godaan itu. Dalam kultur birokrasi yang sering alergi terhadap kritik dan gemar menutupi kesalahan, kerendahan hati semacam ini bukan kelemahan, melainkan modal kepercayaan publik.
Perempuan di Tengah Tradisi Maskulin
Kehadiran Sherly juga menyentuh persoalan yang kerap dihindari gereja sendiri: kepemimpinan perempuan. Alice H Eagly dan Linda L Carli dalam Through the Labyrinth (2007) menggambarkan jalan perempuan menuju puncak kepemimpinan bukan sebagai “langit-langit kaca” semata, melainkan labirin penuh tikungan, prasangka, dan beban ganda. Sherly menempuh labirin itu dalam kondisi yang jauh lebih sulit: sebagai janda yang sedang berduka, di wilayah dengan tradisi kepemimpinan maskulin yang kuat.
Gereja di Indonesia patut bercermin. Jika seorang perempuan Kristen dapat dipercaya memimpin provinsi yang mayoritas penduduknya Muslim, masih pantaskah ruang-ruang gerejawi kita meragukan perempuan memimpin majelis, sinode atau lembaga pendidikan Kristen? Galatia 3:28 telah lama menegaskan bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi laki-laki atau perempuan dalam hal martabat dan panggilan. Kisah ini menantang kita untuk berhenti sekadar mengutip ayat itu dan mulai menghidupinya.
Kepemimpinan Lintas Iman
Bagian paling menarik dari kisah ini justru terletak pada dimensi lintas iman. Kemenangan Sherly tidak mungkin terjadi tanpa kepercayaan dari mayoritas warga Muslim. Ia berpasangan dengan Sarbin Sehe, dan sejak masa kampanye juru bicaranya, Nurlaela Syarif, menegaskan bahwa para pendukungnya memahami keberagaman dan sangat menghargai perbedaan. CNA Indonesia menyimpulkan bahwa hasil pemilihan itu menunjukkan toleransi dan keberagaman tetap menjadi kekuatan penting di Maluku Utara.
Firman Tuhan kepada umat Israel di pembuangan memberi kerangka teologis yang jernih. Yeremia 29:7 berkata, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
Orang percaya tidak dipanggil membangun benteng eksklusif, melainkan menjadi berkat bagi seluruh warga kota. Teolog Kroasia Miroslav Volf dalam Exclusion and Embrace (1996) menyebut panggilan ini sebagai teologi “rangkulan”, yakni kesediaan membuka diri kepada yang lain tanpa kehilangan identitas sendiri.
Dalam konteks Indonesia, gagasan itu telah lama dirintis para pemikir Kristen kita. TB Simatupang dalam Iman Kristen dan Pancasila (1984) menegaskan bahwa orang Kristen harus berpartisipasi secara positif, kreatif, kritis, dan realistis dalam pembangunan bangsa. Eka Darmaputera dalam disertasinya, Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society (1988) juga menunjukkan bahwa Pancasila adalah ruang bersama tempat berbagai iman dapat bertemu tanpa saling meniadakan. Sherly, sadar atau tidak, sedang mempraktikkan warisan pemikiran itu: iman pribadi yang kuat, tetapi pelayanan publik yang terbuka bagi semua.
Kolose 3:23 melengkapinya: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Bekerja untuk Tuhan berarti bekerja sebaik-baiknya bagi semua warga, apa pun agamanya. Jalan yang diperbaiki, sekolah yang digratiskan, dan layanan kesehatan yang dibenahi tidak bertanya siapa yang beribadah di masjid dan siapa di gereja.
Membaca Yeremia 17 dengan Jujur
Banyak warganet mengaitkan capaian Sherly dengan Yeremia 17:7–8: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Pengaitan itu indah, tetapi perlu dibaca dengan jujur.
Survei Muda Bicara ID pada 1–30 Maret 2026 terhadap 800 responden usia 17–40 tahun, sebagaimana dirilis GoodStats (2026), memang menempatkan Sherly di urutan teratas dengan 18,5 persen, disusul Pramono Anung 17,3 persen dan Dedi Mulyadi 17,1 persen.
Survei Indikator Politik Indonesia (2026) juga mencatat 85,1 persen warga Maluku Utara puas terhadap kinerjanya. Namun survei itu mengukur persepsi, dengan selisih yang tipis dan margin kesalahan sekitar lima persen. Capaian ini patut disyukuri, tetapi bukan bukti teologis bahwa Tuhan sedang memberi “peringkat”.
Pohon dalam Yeremia 17 tidak dinilai dari tepuk tangan, melainkan dari akarnya yang terus mencari air dan buahnya yang tidak berhenti di musim kering. Jika berkat diukur dari popularitas, gereja tergelincir ke teologi kemakmuran.
Ukuran yang lebih alkitabiah adalah keadilan bagi yang lemah, transparansi dalam mengelola kekuasaan, dan kesediaan diperiksa. Karena itu, ketika publik menyoroti dugaan persoalan perizinan perusahaan tambang keluarganya pada 2026, sikap yang tepat bagi orang Kristen bukan membela membabi buta, juga bukan menghakimi sebelum waktunya, melainkan menuntut proses yang terbuka. Integritas yang ia ucapkan justru teruji di sana.
Pelajaran bagi Orang Muda Kristen di Tanah Papua
Bagi generasi muda Kristen di tanah Papua, kisah ini menghadirkan cermin yang terbalik sekaligus menantang. Di Maluku Utara, seorang Kristen menjadi minoritas yang dipercaya mayoritas Muslim. Di banyak wilayah Papua, orang Kristen adalah mayoritas.
Pertanyaannya: apakah kita —ketika berada di posisi mayoritas— sanggup memperlakukan saudara-saudara Muslim, pendatang, dan kelompok kecil lainnya dengan kepercayaan dan keadilan yang sama seperti yang diterima Sherly di Maluku Utara? Toleransi sejati diuji bukan saat kita lemah, tetapi saat kita kuat.
Pendeta dan antropolog Dr Benny Giay dalam Menuju Papua Baru (2000) mengajak orang Papua membangun emansipasi yang berakar pada martabat, pendidikan, dan kemandirian, bukan pada ketergantungan dan dendam. Pesan itu bertemu dengan rumus Sherly.
Anak muda Papua yang takut menghadapi masa depan diajak berdoa, tetapi juga belajar dengan sungguh. Yang belum tahu tentang tata kelola pemerintahan, anggaran, dan hukum diajak bertanya dan menimba ilmu. Yang pernah keliru diajak berani meminta maaf. Yang berhadapan dengan konflik, baik antarsuku, antarkelompok, maupun dengan negara, diajak menempuh jalan perjumpaan dan dialog, bukan saling meniadakan.
Kepemimpinan di Papua masa depan membutuhkan orang muda yang beriman dan kompeten sekaligus. Iman tanpa kompetensi hanya melahirkan kesalehan yang tidak berdampak; kompetensi tanpa iman mudah tergoda korupsi dan kesewenang-wenangan. Kolose 3:23 adalah undangan untuk bekerja dengan segenap hati, entah sebagai guru di pedalaman, tenaga kesehatan di kampung, aparatur sipil di kabupaten, atau anggota legislatif kelak.
Akar yang Mencari Air
Sherly Tjoanda bukan orang suci, dan tulisan ini tidak bermaksud mengultuskannya. Ia pejabat publik yang wajib dikritik, diawasi, dan dimintai pertanggungjawaban. Namun dari jawabannya yang sederhana di depan kamera, kita belajar bahwa iman Kristen dapat hadir di ruang publik tanpa menjadi ancaman bagi sesama, bahwa perempuan dapat memimpin dengan kelembutan sekaligus ketegasan, dan bahwa luka dapat diubah menjadi panggilan.
Pelayanan yang menembus batas tidak dibangun dari slogan toleransi, tetapi dari kerja nyata yang dirasakan semua orang. Generasi muda Kristen Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dari Sofifi hingga Jayapura, dipanggil menjadi pohon yang ditanam di tepi air: akarnya dalam di dalam Tuhan, daunnya teduh bagi siapa saja yang singgah, dan buahnya dapat dinikmati tanpa melihat siapa yang memetiknya. Jabatan akan berakhir, survei akan berganti, tetapi pelayanan yang lahir dari kasih akan tetap tinggal sebagai warisan.










